Solusi Limbah Kulit di Garut Mulai Terwujud, Lapas Garut Perluas Pengelolaan Sampah Berkelanjutan

0
9

Pewarta : Fitri

Kabupaten Garut – Upaya penanganan limbah penyamakan kulit di Kabupaten Garut memasuki babak baru. Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Garut menggandeng PT Mandraguna Pusaka Indonesia untuk mengolah limbah padat penyamakan kulit menjadi produk yang bernilai guna. Kolaborasi ini diharapkan mampu mengurangi pencemaran lingkungan sekaligus memperkuat sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

Kepala Lapas Kelas IIA Garut, Rusdedy, mengatakan program pengelolaan sampah di lingkungan lapas telah berjalan sejak 2024. Melalui program tersebut, warga binaan dilibatkan secara aktif dalam proses pemilahan sampah, pengelolaan limbah organik, hingga pemanfaatan limbah nonorganik yang memiliki nilai ekonomi.

“Pengelolaan sampah di Lapas Garut sudah dimulai sejak tahun 2024. Limbah dapur dan limbah lainnya dipilah oleh warga binaan, kemudian sampah plastik dijual, sedangkan limbah organik diolah menjadi pakan maggot,” ujar Rusdedy.

Menurutnya, pengembangan budidaya maggot di Lapas Garut terus mengalami peningkatan. Saat ini kapasitas pengolahan limbah organik mencapai sekitar 500 kilogram per hari, sementara sampah organik yang dihasilkan dari dalam lapas hanya sekitar 100 kilogram setiap harinya.

Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku, Lapas Garut bekerja sama dengan sejumlah penyedia limbah organik, di antaranya dapur Makan Bergizi Gratis (MBG), hotel, restoran, dan kafe di wilayah Garut.

Keberhasilan pengelolaan limbah organik tersebut menjadi dasar pengembangan inovasi berikutnya, yakni pengolahan limbah penyamakan kulit. Lapas Garut menjalin kerja sama dengan PT Mandraguna Pusaka Indonesia, perusahaan yang bergerak di bidang pengolahan limbah kulit menjadi pupuk organik cair (POC).

Rusdedy menjelaskan, tingginya volume limbah penyamakan kulit di Garut belum sebanding dengan kapasitas pengolahan yang tersedia. Melalui kolaborasi tersebut, kapasitas pengolahan limbah diharapkan meningkat sehingga lebih banyak limbah industri yang dapat dimanfaatkan.

“Karena kapasitas limbah yang sangat besar, PT Mandraguna belum mampu menampung seluruh limbah yang dihasilkan. Dengan kerja sama ini, kami berharap kapasitas pengolahan dapat ditingkatkan sehingga limbah penyamakan kulit bisa lebih banyak terserap dan diolah menjadi produk yang bermanfaat,” katanya.

Ia optimistis sinergi antara Lapas Garut dan PT Mandraguna Pusaka Indonesia dapat menjadi solusi terhadap persoalan limbah penyamakan kulit yang selama ini menjadi perhatian masyarakat dan pemerintah daerah.

Selain mengurangi pencemaran lingkungan, program tersebut juga diharapkan memberikan nilai tambah melalui pemanfaatan limbah menjadi produk yang bernilai ekonomis serta mendukung pengelolaan sampah yang berkelanjutan di Kabupaten Garut.