Pewarta : Ida
Kabupaten Bandung – Video yang memperlihatkan kawasan perbukitan di Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung, diselimuti lapisan putih viral di media sosial. Pemandangan jalan setapak dan vegetasi yang tampak memutih memicu spekulasi warganet yang mengira fenomena tersebut sebagai salju.
Namun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan bahwa lapisan putih tersebut bukan salju, melainkan embun upas (frost), fenomena alam yang lazim terjadi di wilayah dataran tinggi saat puncak musim kemarau.
Pelaksana Tugas Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, Edi Wibowo, menjelaskan embun upas terbentuk ketika suhu udara turun sangat rendah pada malam hingga dini hari, sehingga embun yang menempel di permukaan daun, rumput, maupun tanah membeku menjadi kristal es tipis.
“Pada puncak musim kemarau, biasanya Juli hingga Agustus, suhu udara di dataran tinggi Bandung dapat turun drastis hingga belasan derajat Celsius, bahkan mendekati 0 derajat Celsius pada malam sampai dini hari,” ujar Edi, Sabtu (11/7/2026).
Bukan Salju, Ini Perbedaan Embun Upas
BMKG menegaskan embun upas berbeda dengan salju. Salju terbentuk dari uap air di dalam awan yang membeku sebelum jatuh ke permukaan bumi, sedangkan embun upas terbentuk langsung di permukaan benda akibat suhu yang sangat rendah.
“Embun upas terbentuk ketika uap air di udara atau embun yang menempel di permukaan dedaunan membeku menjadi kristal-kristal es tipis,” jelas Edi.
Fenomena ini dinilai wajar terjadi di kawasan dataran tinggi seperti Ciwidey yang memiliki suhu udara lebih rendah dibanding wilayah sekitarnya. Menurut BMKG, kejadian serupa juga pernah tercatat di kawasan Pangalengan.
“Fenomena ini lazim pada saat musim kemarau seperti sekarang, terutama di dataran tinggi seperti di Ciwidey. Dan ini juga bisa terjadi di daerah lain seperti pernah terjadi di Pangalengan,” katanya.
Dipicu Langit Cerah dan Angin Monsun Australia
BMKG menjelaskan suhu dingin selama musim kemarau dipengaruhi minimnya tutupan awan. Pada siang hari, permukaan bumi menyerap panas matahari secara maksimal. Namun ketika malam tiba, panas tersebut cepat terlepas kembali ke atmosfer karena tidak ada awan yang menahannya, sehingga suhu udara turun secara signifikan.
Selain itu, kondisi tersebut diperkuat oleh angin monsun Australia yang membawa massa udara dingin ke wilayah Indonesia bagian selatan.
“Penyebab tambahan mengapa suhu udara menjadi dingin pada musim kemarau adalah karena adanya musim dingin di wilayah Australia,” ujar Edi.
Berpotensi Berlangsung Hingga Agustus
BMKG memperkirakan suhu dingin yang memicu munculnya embun upas masih akan berlangsung hingga Agustus 2026 seiring berlangsungnya puncak musim kemarau.
Masyarakat pun diimbau tidak panik maupun salah mengartikan fenomena tersebut sebagai salju atau kejadian luar biasa.
“Oleh karena itu masyarakat diharap untuk tidak panik melihat fenomena ini, karena suhu dingin pada musim kemarau adalah suatu fenomena yang wajar terjadi, terutama di wilayah Indonesia yang berada di selatan Khatulistiwa,” pungkas Edi.

