Pewarta : Ida
Kota Bandung – Sebanyak 407 warga binaan bersama petugas Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas IIA Bandung mementaskan drama kolosal “Ciung Wanara”, Jum’at (17/7/2026). Pertunjukan yang mengangkat Budaya Sunda tersebut menjadi bagian dari program pembinaan sekaligus mencatatkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).
Direktur Jenderal Pemasyarakatan (Dirjenpas), Mashudi yang membuka acara mengapresiasi inovasi pembinaan yang dilakukan Lapas Perempuan Bandung.
Menurutnya, pertunjukan tersebut membuktikan warga binaan mampu menghasilkan karya berkualitas sekaligus membangun karakter positif.
“Pembinaan yang dilakukan melahirkan karya berkualitas dan membentuk karakter yang mampu berkontribusi. Apa yang ditunjukkan Lapas Perempuan Bandung layak menjadi contoh bagi seluruh Unit Pelaksana Teknis Pemasyarakatan di Indonesia,” kata Mashudi.
Kepala Lapas Perempuan Bandung, Gayatri Rachmi Rilowati mengatakan drama kolosal yang melibatkan warga binaan dan petugas itu bertujuan mengembangkan bakat, keterampilan, serta menanamkan nilai kepemimpinan, kejujuran, dan tanggung jawab melalui kisah legenda Sunda Ciung Wanara.
“Pertunjukan ini merupakan hasil pembinaan yang menunjukkan warga binaan memiliki kemampuan untuk berkembang dan siap kembali produktif di tengah masyarakat,” ujarnya.
Selain pementasan drama, kegiatan juga dirangkaikan dengan fashion show yang menampilkan batik hasil karya warga binaan sebagai wujud pembinaan di bidang seni, budaya, dan pemberdayaan ekonomi.
Ketua Badan Pengurus Harian Yayasan Pendidikan Budi Luhur Cakti, Julian Bongso Ikromo, menyampaikan apresiasi atas kolaborasi yang telah terjalin dalam berbagai program pembinaan, mulai dari pelatihan barista, pembuatan aromaterapi, edukasi kesehatan mental, beauty class, pengolahan eco enzyme, hingga kelas menulis.
Menurutnya, berbagai program tersebut menjadi bekal penting bagi warga binaan untuk menjalani proses reintegrasi sosial setelah menyelesaikan masa pidana.
Drama kolosal “Ciung Wanara” mengisahkan perjuangan seorang pangeran merebut hak sebagai pewaris takhta Kerajaan Galuh serta menegakkan keadilan, dengan pesan moral tentang kepemimpinan, kejujuran, dan tanggung jawab yang sejalan dengan tujuan pembinaan di lembaga pemasyarakatan.

