Bogor Kian Panas, Suhu Tembus 34 Derajat Celsius, IPB: Bukan Lagi Sekadar El Nino, Perubahan Iklim Sudah Terasa

0
6

Pewarta : Red

Kota Bogor – Predikat Bogor sebagai Kota Hujan dengan udara yang sejuk mulai mendapat tantangan. Dalam beberapa waktu terakhir, warga merasakan suhu udara siang hari semakin menyengat hingga mencapai 32–34 derajat Celsius, sementara intensitas hujan cenderung menurun. Fenomena ini memunculkan pertanyaan, apakah kondisi tersebut masih tergolong normal atau menjadi sinyal nyata dampak perubahan iklim?

Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Givo Alsepan, menjelaskan bahwa meningkatnya suhu udara di Bogor merupakan hasil kombinasi berbagai faktor. Selain dipengaruhi fenomena iklim global El Nino, kenaikan suhu juga dipicu pemanasan global serta berkurangnya tutupan lahan hijau akibat pesatnya urbanisasi.

“Secara klimatologis, suhu udara rata-rata di wilayah Bogor berkisar antara 25,5 hingga 27 derajat Celsius. Namun, pada periode tertentu kondisi tersebut dapat berubah akibat pengaruh fenomena iklim global, terutama El Nino-Southern Oscillation (ENSO),” ujar Givo dalam keterangan tertulis, Kamis (2/7/2026).

ENSO merupakan fenomena interaksi antara laut dan atmosfer di Samudra Pasifik tropis yang memiliki dua fase, yaitu El Nino dan La Nina. Ketika El Nino terjadi, suhu permukaan laut di Pasifik bagian tengah dan timur meningkat sehingga pusat pembentukan awan bergeser ke arah timur Pasifik.

Akibat pergeseran tersebut, pasokan uap air ke wilayah Indonesia berkurang sehingga curah hujan menurun. Di sisi lain, tutupan awan yang semakin sedikit membuat radiasi matahari lebih banyak mencapai permukaan Bumi dan menyebabkan suhu udara terasa lebih panas.

“Saat ini El Nino sedang berkembang di Samudra Pasifik tropis dan diperkirakan berlangsung hingga akhir tahun 2026. Pergeseran awan dari wilayah Indonesia menuju Pasifik menyebabkan tutupan awan berkurang sehingga radiasi matahari lebih banyak mencapai permukaan Bumi. Kondisi inilah yang menjadi salah satu penyebab masyarakat Bogor merasakan cuaca lebih panas dibanding biasanya,” jelasnya.

Meski demikian, Givo menegaskan El Nino bukanlah penyebab utama meningkatnya suhu udara dalam jangka panjang. Fenomena tersebut hanya memperkuat dampak dari perubahan iklim global yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

Berdasarkan data klimatologi, suhu rata-rata tahunan di wilayah Bogor menunjukkan tren peningkatan yang konsisten sejak sekitar tahun 1990. Kenaikan tersebut sejalan dengan meningkatnya suhu rata-rata Bumi akibat pemanasan global.

Artinya, cuaca panas yang kini dirasakan masyarakat bukan hanya fenomena musiman, tetapi menjadi indikator bahwa dampak perubahan iklim sudah semakin nyata di wilayah Bogor.

Selain pengaruh iklim global, perubahan tata guna lahan juga memperburuk kondisi tersebut. Berkurangnya kawasan hijau dan meningkatnya pembangunan permukiman maupun infrastruktur perkotaan memicu efek *urban heat island*, yakni kondisi ketika kawasan perkotaan menyerap dan menyimpan panas lebih besar dibanding wilayah sekitarnya.

Fenomena ini menjadi peringatan bahwa upaya mitigasi perubahan iklim, pelestarian ruang terbuka hijau, serta pembangunan yang berwawasan lingkungan perlu diperkuat agar karakter Bogor sebagai kota dengan iklim sejuk tidak semakin memudar.