Pewarta : Herlina SC
Kab. Bandung Barat – Rencana pembangunan jembatan di Kampung Sadang, Desa Budiharja, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB), mulai menunjukkan perkembangan. Petugas telah melakukan survei lapangan dengan memasang patok dan menentukan titik koordinat lokasi yang direncanakan untuk pembangunan jembatan.
Langkah awal tersebut menjadi kabar penting bagi warga Kampung Sadang, terutama setelah aktivitas siswa SD Negeri Budiharja yang setiap hari menyeberangi Waduk Saguling menggunakan rakit viral di media sosial.
Ketua RT 5 RW 2 Kampung Sadang, Agus Sumpena, mengatakan pemasangan patok dilakukan pada Sabtu (29/8/2026). Lokasi rencana jembatan berada tidak jauh dari titik sandaran rakit yang selama ini menjadi akses utama warga menuju Kampung Gombong.
“Iya kemarin sudah dipasang patok. Patok buat jembatan itu titiknya di saung tempat kemarin kita berteduh, tidak pas di titik rakit,” kata Agus saat dikonfirmasi, Minggu (30/8/2026).
Menurut Agus, petugas yang datang ke lokasi juga melakukan survei dan pengukuran menggunakan titik koordinat.
“Alhamdulillah, kemarin ada petugas. Tidak tahu suruhan dari Pak Gubernur atau siapa, tapi sepertinya petugas dari Pak Gubernur. Sudah dipatok, sudah pakai titik koordinat untuk pembangunan jembatan dan sudah disurvei,” ujarnya.
Meski demikian, hingga kini belum ada keterangan resmi mengenai instansi yang menangani proyek tersebut, jadwal pembangunan, maupun spesifikasi jembatan yang akan dibangun.
Viral Siswa Menyeberangi Waduk dengan Rakit
Rencana pembangunan jembatan mencuat setelah video sejumlah siswa menyeberangi Waduk Saguling menggunakan rakit beredar luas di media sosial.
Penyeberangan tersebut berada di ujung Kampung Sadang menuju Kampung Gombong dengan jarak sekitar 200 meter. Rakit dan perahu telah digunakan warga sebagai sarana transportasi sejak tahun 1990 – an.
Bagi sebagian warga, jalur air menjadi pilihan paling praktis karena mampu memangkas waktu perjalanan secara signifikan.
Menggunakan rakit atau perahu, perjalanan menuju SD Negeri Budiharja hanya membutuhkan sekitar tiga hingga lima menit. Sementara melalui jalur darat, perjalanan bisa memakan waktu sekitar 15 menit menggunakan sepeda motor atau sekitar 30 menit dengan berjalan kaki.
Kepala SD Negeri Budiharja, Taufik, mengatakan hingga saat ini masih ada 16 siswa yang mengandalkan rakit dan perahu untuk pergi dan pulang sekolah.
Dari sekitar 150 siswa di sekolah tersebut, 16 di antaranya berasal dari wilayah yang lebih dekat dijangkau melalui jalur waduk.
“Jumlah siswa sekitar 150-an. Yang masih menggunakan rakit dan perahu ada 16 orang. Kelas 1 ada tiga orang, kelas 2 empat orang, kelas 3 tiga orang, kelas 4 tidak ada, kelas 5 tiga orang dan kelas 6 tiga orang,” kata Taufik.
Menurutnya, alasan utama para siswa memilih jalur air adalah karena perjalanan darat dari Kampung Sadang menuju sekolah mencapai sekitar empat kilometer.
“Kalau lewat darat sekitar 4 kilometer. Orang dewasa mungkin 15 menit, kalau anak – anak bisa 30 menit. Jadi untuk mempersingkat waktu ke sekolah, dengan rakit bisa sampai lima menit,” ujarnya.
Cepat, tetapi Berisiko
Di balik efisiensi waktu, penggunaan rakit sebagai sarana transportasi anak sekolah menyimpan risiko keselamatan, terutama saat kondisi cuaca memburuk.
Taufik mengakui penyeberangan melalui waduk menjadi lebih berbahaya ketika hujan. Meski selama ini belum terjadi insiden serius, risiko tetap menjadi perhatian.
“Memang ada risiko, tapi alhamdulillah sejauh ini aman. Orang tua juga sering mengantar, bahkan ikut naik rakit,” tuturnya.
Sementara itu, Agus menilai rakit bambu bukanlah solusi permanen. Material bambu yang terus-menerus terendam air membuat rakit cepat mengalami kerusakan dan harus diganti secara berkala.
“Sampai sekarang kalau tidak salah sudah enam kali ganti rakit. Karena tidak bertahan lama, dua sampai tiga tahun sudah rusak,” katanya.
Kondisi tersebut semakin memperkuat harapan warga agar pembangunan jembatan segera direalisasikan.
Bukan Sekadar Akses Sekolah
Bagi warga Kampung Sadang, jembatan bukan hanya soal memudahkan 16 siswa berangkat ke sekolah tanpa harus mempertaruhkan keselamatan di atas rakit.
Keberadaan jembatan diyakini akan membuka akses bagi lebih dari 40 kepala keluarga di dua RT untuk menuju kebun, membawa hasil pertanian, berdagang, serta menjalankan aktivitas sehari – hari.
“Harapan warga dari dulu, kalau dibikin jembatan tentu lebih enak untuk penyeberangan, khususnya anak sekolah. Warga juga bisa lebih dekat ke kebun, ke sekolah dan untuk jualan,” tandas Agus.
Pemasangan patok dan penentuan titik koordinat kini menjadi sinyal awal yang dinanti warga setelah puluhan tahun menggantungkan mobilitas pada rakit dan perahu.
Namun, survei lapangan harus segera diikuti kepastian. Warga menunggu langkah konkret pemerintah terkait waktu pembangunan, sumber anggaran, hingga desain jembatan yang akan menghubungkan Kampung Sadang dan Kampung Gombong.
Sebab, selama jembatan belum terwujud, anak – anak Kampung Sadang masih harus menjadikan rakit sebagai jalan menuju sekolah — sebuah pilihan yang lebih cepat, tetapi tetap menyimpan risiko setiap hari.











