Pewarta : Arief
Kabupaten Cianjur – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, memperketat patroli dan sosialisasi kepada masyarakat untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tengah musim kemarau yang masih berlangsung.
Langkah tersebut dilakukan setelah BPBD Cianjur mencatat 42 kejadian kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau 2026. Kasus kebakaran paling banyak terjadi pada Agustus hingga September, dengan laporan mencapai dua hingga empat kejadian setiap pekan.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Cianjur, Samudra Wira Purnama, mengatakan sebagian besar kebakaran dipicu kelalaian manusia, terutama aktivitas pembakaran sampah dan pembukaan lahan dengan cara dibakar.
“Pada umumnya kebakaran akibat kelalaian manusia membakar sampah saat membersihkan lingkungan tempat tinggal dan saat membuka lahan baru dengan cara dibakar guna meringankan biaya operasional,” kata Samudra di Cianjur, Senin (14/9/2026).
Menurut dia, kondisi kemarau yang masih berlangsung membuat vegetasi dan lahan menjadi lebih mudah terbakar. Karena itu, BPBD mengintensifkan patroli sekaligus mengingatkan warga agar tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.
Selain larangan membakar sampah dan membuka lahan dengan cara dibakar, masyarakat juga diminta tidak membuang puntung rokok sembarangan, terutama di kawasan yang dipenuhi vegetasi kering.
Dalam penanganan kebakaran, BPBD melibatkan berbagai unsur, mulai dari TNI/Polri, Pemadam Kebakaran (Damkar) Cianjur, relawan hingga masyarakat sekitar lokasi kejadian.
“Yang paling tinggi selama bulan Agustus dan September. Setiap minggu ada dua sampai empat laporan kebakaran lahan yang masuk, sehingga kami melibatkan petugas gabungan TNI/Polri, Damkar Cianjur, relawan serta warga sekitar,” ujarnya.
Kemarau Diprediksi hingga Oktober
Samudra mengatakan berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau diperkirakan masih berlangsung hingga Oktober 2026.
Dalam dua hingga tiga pekan ke depan, intensitas hujan di wilayah Jawa Barat, termasuk Cianjur, juga diperkirakan masih rendah. Kondisi tersebut membuat risiko kebakaran lahan tetap perlu diwaspadai.
“Beberapa wilayah sudah terjadi hujan, termasuk di Cianjur, namun baru lokal. Secara keseluruhan intensitas hujan masih minim dan kurang di seluruh wilayah Jabar,” katanya.
BPBD Cianjur juga terus berkoordinasi dengan BMKG untuk memantau perkembangan cuaca, terutama terkait potensi berakhirnya musim kemarau dan masuknya musim penghujan.
Koordinasi tersebut menjadi bagian dari kesiapsiagaan BPBD menyusul penetapan status siaga darurat bencana kekeringan di Cianjur yang berlaku sejak Juli hingga September 2026.
Jika musim kemarau masih berlangsung hingga Oktober, status siaga darurat kekeringan berpeluang diperpanjang.
“Kita lihat informasi dari BMKG. Kalau sudah masuk musim penghujan tentunya status siaga darurat dihentikan. Kalau masih terjadi hingga Oktober, kemungkinan akan diperpanjang,” ujar Samudra.
BPBD mengimbau masyarakat tidak melakukan pembakaran terbuka selama kondisi lahan masih kering. Warga juga diminta segera melaporkan apabila melihat titik api untuk mempercepat proses penanganan dan mencegah kebakaran meluas.











