Ragam

Menyoal Spirit Tugas Tambahan

adminsigiku.com
×

Menyoal Spirit Tugas Tambahan

Sebarkan artikel ini

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Ketua Forum Komunikasi Kepala Sekolah 69 Jawa Barat)

Jabar adalah salah satu provinsi paling seksi sesudah DKI Jakarta. Bahkan DKI Jakarta dan Ibukota Jakarta ada di tanah Jabar. Jabar adalah bagian terpenting dari sukses pembangunan di republik ini. Jabar bahkan pernah menjadi pusat politik perdamaian dunia. Bukankah KAA adalah sebuah momentum mendunia yang lahir di Jabar, Kota Bandung?

Jabar perlu menjadi provinsi paling juara. Terutama menjuarakan dimensi pendidikan, karena sukses itu berkelindan dengan dimensi pendidikan. Mengelola dunia pendidikan tidak bisa sembarang orang, orag sembarang. Dibutuhkan tokoh-tokoh mumpuni dan genuine “penyuka” pendidikan yang lahir dari panggilan jiwa sebagai pekerja pendidikan. Jabar juara lahir batin dalam dimensi pendidikan harus menjadi kenyataan.

Sukses pendidikan Jabar sangat terkait dengan peran para guru dan kepala sekolah. Para kepala sekolah dan guru adalah entitas penentu apakah Jabar juara lahir batin dalam dunia pendidikan akan tercapai atau hanya sebatas target yang sulit tercapai? Target akan tercapai dengan baik bila semua potensi seirama, fokus, kolaboratif, tidak asal serta tidak menganggap kepala sekolah selaku penggerak pendidikan sebagai tugas tambahan.

Menjadi kepala sekolah sudah bukan tugas tambahan. Tugas tambahan hanya identik dengan para guru yang menjadi wakasek, wali kelas dan pembina esktrakurikuler. Karena tugas utama guru adalah mengajar dan mendidik siswa. Dalam Permendikbud No 6 Tahun 2018 dinyatakan bahwa kepala sekolah adalah guru yang diberi tugas untuk memimpin dan mengelola satuan pendidikan. Tidak ada definisi dalam regulasi kita yang mengatakan kepala sekolah sebagai tugas tambahan.

Jabar juara lahir batin tidak akan tercapai dengan baik bila para kepala sekolah dianggap sebagai tugas tambahan. Menjadikan Jabar juara lahir batin tidak bisa dengan spirit “tugas tambahan” tidak ada lagi identikasi tugas tambahan bagi jabatan kepala sekolah. Stop! Sisi psikologis, diksi tugas tambahan tidak akan membuat para kepala sekolah serius. Kalau jabatan kepala sekolah sebagai tugas tambahan, lalu jabatan utamanya apa? Mengajar? Itu dulu, kini kepala sekolah tidak diwajibakan mengajar 6 jam lagi, kecuali darurat sikon dan mendesak demi anak didik.

Kesalahan masa lalu dan Saya sudah kritik sejak tahun 2013 bahwa kegagapan dunia pendidikan kita diantaranya adalah karena menganggap jabatan kepala sekolah sebagai tugas tambahan. Bila kepala sekolah didefinisikan sebagai tugas tambahan maka seolah-olah tak penting, karena bukan tugas utama. Mulai tahun 2018 pemerintah menyadari dan mulai mengetahui bagaimana fakta sebenarnya dari tanggung jawab berat para kepala sekolah. Dahulu saat ditugaskan mengajar 6 jam, mayoritas kepala sekolah tidak mengajar. Mengapa? Karena tugasnya tidak ringan dan banyak tugas penting yang tidak bisa ditinggalkan.

Kepala sekolah adalah pimpinan satuan pendidikan. Kepala sekolah adalah manajer satuan pendidikan. Kepala sekolah adalah orang yang punya beban berat “mengendalikan” satuan pendidikan. Dalam Permendikbd No 6 Tahun 2018 BAB VI pasal 15 dinyatakan bahwa “Beban kerja kepala sekolah sepenuhnya untuk melaksanakan tugas pokok manajerial, pengembangan kewirausahaan, dan supervisi kepada guru dan tenaga kependidikan. Kepala sekolah adalah manajer, Ia harus memanage satuan pendidikan dengan segala potensi dan impotensi yang ada.

Tidak mungkin Jabar juara lahir batin dalam dimensi pendidikan digerakan oleh spirit tugas tambahan. Para kepala sekolah adalah pengerak satuan pendidikan melalui otoritasnya sebagai manajer dan pimpinan satuan pendidikan, bukan tugas tambahan. Jabar juara lahir batin akan lebih cepat terwujud bila semua aparatur pendidikan fokus dan memposisikan diri dengan tugas utama masing-masing bukan menjadikan tugas penting sebagai tugas tambahan. Visi Jabar juara lahir batin bukan visi misi tambahan, melainkan target utama.

Bila kita melacak jejak sejarah, kita akan tahu ada sejumlah “aparatur Tuhan” dalam menda’wahkan ajaran agama. Diantaranya adalah para waliyullah. Para wali saat menda’wahkan ajaran agama mereka punya “tugas tambahan”, apa tugas tambahan mereka? Tiada lain, tiada bukan adalah berdagang. Berdagang adalah tugas tambahan mereka, tugas utama mereka adalah syiar agama, da’wah. Syiar agama akan sangat lambat dan tak akan tercapai dengan baik bila tugas da’wah sebagai “tugas tambahan” bukan tugas utama.

Rusaknya dunia syiar agama adalah karena da’wah sebagai sambilan dan dagang sebagai tugas utama. Hal yang benar adalah “Berda’wah sambil berdagang, bukan berdagang sambil berda’wah”. Para pedagang memang pekerjaan utamanya adalah dagang. Namun para wali pekerjaan utamanya adalah da’wah, bukan dagang. Dagang hanyalah tugas tambahan. Para kepala sekolah jangan salah spirit. Tugas para kepala sekolah di satuan pendidikan bukan tugas tambahan melainkan tugas utama. Syiar, da’wah pendidikan yang dilakukan para kepala sekolah adalah tugas utama seperti para waliyullah dahulu, hal lainnya adalah tambahan.

Sukses pendidikan, Jabar juara lahir batin hanya akan tercapai dengan baik bila semua guru dan kepala sekolah memiliki spirit yang sama. Spirit apa yang dikerjakan dan menjadi tanggung jawab guru dan kepala sekolah bukan tanggung jawab sebagai tugas tambahan. Semua tugas adalah utama. Loyalitas, dedikasi, prestasi dan inovasi di era disrupsi memang butuh lebih agresif dan proaktif. Tuntutan perubahan, kompetisi, semburan informasi begitu cepat memenuhi dunia kerja. Kadang kita tedesak, gagap dan serasa kejar tayang. Semuanya tidak bisa diselesaiakan dengan tugas tambahan. Semuanya utama, semuanya menjadi sangat penting.