OPINI/Artikel

Rumah Tanpa Bendera

adminsigiku.com
×

Rumah Tanpa Bendera

Sebarkan artikel ini

Oleh : Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd
(Praktisi Pendidikan)

Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 76 adalah sebuah momentum kebangsaan. Rasa kebangsaan dan kebangaan pada tanah air Indonesia harus terus dipelihara. Plus penghormatan dan etika memuliakan para pejuang kemerdekaan. Mereka para pahlawan, berjuang tulus tanpa modus.
Militansi, rela berkorban dan berjuangan sampai penghabisan demi kemerdekaan bangsa adalah pilihan tanpa bisa ditawar. Kini dimomen HUT Kemerdekaan RI penguatan rasa kebangsaan itu harus ditumbuhkan. Minimal ada nuansa merah putih sebagai wujud hormat pada pejuang zaman dahulu.

Tema HUT ke 76 RI bertema “Indoenesia Tangguh, Indonesia Tumbuh” membawa pesan pada kita semua agar tangguh dan tetap tumbuh. Tangguh dan tumbuh di setiap zaman. Apa pun zamannya kita harus tetap tangguh dan bertumbuh. Dulu kita tangguh menghadapi kolonialieme, kini kita wajib tangguh menghadapi “kolonialisme” wabah.

Jangan lupa rasa nasionalisme ditengah kesulitan hidup menghadapi wabah dan menghadapi tantangan lainnya tetap harus dipelihara. Dimana kita berada, rasa nasionalisme dan simbol-simbol kebangsaan harus tetap ada. Kita adalah Indonesia, kita adalah penduduk Indonesia, Rumah kita ada di Indonesia, Rumah kita minimal ada bendera atau nuansa merah putih.

Spirit kemerdekaan, cinta kebangsaan dan cinta tanah air harus tetap menyala dalam batin bangsa kita. Rumah tanpa bendera di momen HUT ke 76 RI nampak kurang elok. Bila kita apatis dan tak peduli dengan rasa kebangsaan dan penghargaan pada pahlawan, siapa kita ?, Kita adalah warga negara Indonesia yang tak pernah terlibat dalam derita dan pengorbanan meraih kemerdekaan.

Tugas kita hari ini adalah mengisi kemerdekaan dengan menjadi warga negara yang tidak membebani negara tetapi meringankan beban negara. Apa yang kita bisa berikan pada negara bukan apa yang kita dapatkan dari negara. Idealnya demikian.

Setidaknya berikan pada negara sebuah bendera di rumah kita sebagi bukti kecil kita telah “memberi pada negara”. Lebih tak elok lagi bila kita lebih memuja, memuji dan menangisi bendera lain selain bendera negara kita. Ini namanya anomali kebangsaan. Anomali lebay yang salah menempatkan kebangsaan pada bangsa lain.

Rumah tanpa bendera di HUT Ke 76 RI adalah sebuah sikap yang kurang elok. Lebih tak elok lagi bila kita lupa jasa para pahlawan. Siapa diantara pahlawan yang sangat berjasa pada kemerdekaan Republik Indonesia ? Diantaranya adalah para guru dan para ulama. Selain BKR, TKR, TNI dan Polisi, Terutama entitas guru benar-benar sangat-sangat berjasa pada lahirnya kemerdekaan.

Kemerdekaan diperjuangkan setelah ada rasa kebangsaan. Rasa kebangsaan pertama kali merambah jiwa-jiwa pelajar mahasiswa Indonesia. Berkat jasa para guru maka lahir golongan pelajar yang membawa jentik-jentik spirit dan nilai-nilai nasionalisme sebagai lawan kolonialisme.

Golongan mahasiswa dan pelajar lahir dari tangan para guru. Bung Karno dan Bung Hatta adalah diantara para tokoh nasional yang melintasi hidup sebagai pelajar dan mahasiswa. Mantan mahasiswa dan pelajarlah yang memproklamirkan kemerdekaan Republik Indonesia. Bukan yang lain. Tidak ada pelajar dan mahasiswa tanpa guru. Guru lah pada hakekatnya entitas di belakang layar yang terlibat memerdekakan bangsa Indonesia.

Semua rakyat yang punya jiwa kebangsaan saat pergerakan kemerdekaan terlibat. Pemantiknya para guru, ulama dan tokoh-tokoh anti imperialisme kolonialisme. Mari kita pasang bendera di rumah kita di setiap momen kemerdekaan Republik Indonesia. Selanjutnya pasang di dalam mentalitas kita, kebangsaan Indonesia