OPINI/Artikel

Dr. Nina, Bangga Menjadi Guru SD

adminsigiku.com
×

Dr. Nina, Bangga Menjadi Guru SD

Sebarkan artikel ini

Oleh : Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd
(Praktisi Pendidikan)

Nampaknya setiap sosok yang memiliki unikasi dan inspiratif layak Saya tulis. Berawal saat diskusi di forum doktoral Unpak, ada satu nama yang memohon dukungan pada rekan sejawat terkait giat pemilihan ASN berprestasi di Jawa Barat. Ia adalah Dr. Nina Krisna Ramdhani.

Saya baru tahu kalau Ia adalah guru SD dan aktivis PGRI. Awalnya saya menduga Ia dosen atau kepala sekolah jenjang pendidikan menengah. Ternyata Ia guru SD, sangat bangga dan merdeka menjadi guru di pendidikan dasar.

Ia sosok yang unik dan bisa menjadi teladan motivatif bagi para guru, khusunya guru pendidikan dasar. Apa keistimewaan Dr. Nina? Mari kita telusuri. Ia adalah seorang guru SD yang sangat tahu persisi betapa mendidik anak SD adalah fondasi pendidikan terpenting.

Ia tidak sama sekali berkeinginan menjadi kepala sekolah atau menjadi dosen. Ia ditawari menjadi dosen di salaha satu perguruan tinggi swasta ternama. Ia tolak. Menjadi guru SD baginya adalah pengabdian dan kebangaan tersendiri.

Namun walau pun Ia guru SD, ternyata Ia punya sejumlah giat dan kontribusi pada guru dan pendidikan di Indonesia. Ia membangun komunitas Change Educator Organizer (CEO) pada tahun 2016, Berbadan hukum KEMENKUMHAM No AHU-0002321.AH.01.04.Tahun 2017 dengan nama Yayasan Pendidik Indonesia Pelopor Perubahan (YPIPP).

Sejumlah guru di tanah air bersama YPIPPnya memperoleh pelatihan baik tatap muka, daring, maupun blanded learning sebagai upaya peningkatan kompetensi dan menghasilkan banyak karya literasi sesuai harapan pemerintah melalui program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB).

Ia sampai saat ini masih aktif menjadi narasumber “langganan” Disdik Batam. Melihat sejumlah karya tulis ilmiah, menjadi narasumber di hadapan para guru dan aktif di organisasi profesi PGRI menjelaskan Ia sosok dedikatif dan pembelajar.

Tidak hanya sampai disana, Ia adalah pengusaha dan punya bakat menyanyi yang baik. Sungguh sangat langka guru SD yang doktor, narsum, pengusaha dan punya bakat seni yang baik. Ia pun punya sejumlah pemikiran yang meloncat dan anti mainstream.

Dalam sebuah “celotehannya” Ia pun kritis menyentil entitas organisasi. Ia menyatakan sebuah organisasi yang masih menarik iuran dari bawah ke atas dan transfaransinya tidak bisa diakses semua anggota maka organisasi ini masuk kategori tradisional”.

Saya jadi teringat organisasi yang Ia ikuti yakni PGRI. Jangan-jangan celotehannya menyidir PGRI sebagai organisasi tradisional yang “mekanis” menyedot iuran pada anggota tapi transfaransinya hanya pada pengurus dan anggota seluruh Indonesia tidak tahu. Padahal “hari gini” bisa dibuat sistem dan aplikasi yang bisa diakses sampai ke pegunungan.

Dalam celotehan lainya Ia menyindir dan memotivasi seorang ABG yang melamar kerja di kafe perusahannya. Sang ABG melamar sebagai marketing. Dr. Nina bertanya jail, “Sudah punya pacar belum?”. Sang ABG menjawab. Belum Bu! Dr. Nina memotivasi sambil kelakar, “Kok melamar kerja jadi marketing masih jomblo?”

Sebuah kelakar yang memberi motivasi bahwa sebaiknya para marketing harus “laku” dihadapan lawan jenis. Marketing diri, selanjutnya marketing hal lainnya. Sebuah sindiran yang memberi efek kejut pada professi marketing. Namun tentu jadi marketing pun jangan jadi “crocodile darat”.

Luar biasa Dr. Nina, guru SD multitalenta. Pendidik, narsum pendidikan, pengusaha, penyanyi, Bahasa Inggrisnya baik dan tidak mengejar jabatan. Baginya mengumpulkan uang untuk memberi pada sesama dan membeli apa yang Dia inginkan lebih penting. Uang bukanlah segalanya tapi harus dengan uang kita bisa lebih bermanfaat bagi sesama dan jalan-jalan kemana pun