Pewarta: Dwi Arifin
Koran SINAR PAGI (Kota Bandung)-, Sekolah negeri dan swasta di wilayah Kota Bandung Jawa Barat telah rutin menggelar pembelajaran tatap muka (PTM) 100 persen, mulai sejak Senin 10 Januari 2022. Para kepala sekolah dan guru memastikan PTM 100 persen berjalan optimal dan menerapkan protokol kesehatan (prokes) dengan ketat.
Kepala SLB Budaya Bangsa Kota Bandung, Suhartini Suryawati S.Pd, M.M menyampaikan sejak program vaksinasi siswa dan guru sudah mencapai hamper 99 %. Dan adanya arahan dari dinas untuk pelaksanaan pendidikan tatap muka. Mudah-mudahan kegiatan belajar di sekolah ini bisa berjalan dengan baik. Terutama karena ada dukungan dari orang tua murid untuk melaksanakan kegiatan di sekolah. Mulai dari mereka secara langsung berperan untuk mengantarkannya ke sekolah, jelasnya kepada media cetak dan online di ruang tamu sekolah (11/1/2022)
Menurutnya sebelumnya karena terkendala pandemi kemarin setelah satu tahun setengah, jika rata-rata siswa belajar secara daring. Mudah-mudahan dengan adanya PTM ini, kami dapat melayani mereka lebih baik lagi. Siswa kami dan guru-guru di SLB kota Bandung dalam hal ini sangat bergembira dengan adanya kemajuan kegiatan belajar, sebab menurunnya kasus covid19.

Guru siswa kelas 7 & 9 SLB, Sisilia Hitipeuw, S.E, S.Pd mengungkapkan Kita bisa lagi mengajar di sekolah seperti dulu, semoga tidak ada lagi virus. Hal ini sangat menyenangkan karena anak-anak dan guru bisa berinteraksi langsung dengan nyaman tanpa ada ketakutan seperti sebelum pandemi.
Saat mereka di sekolah para guru berkewajiban untuk mengarahkan mengedukasi mulai terbiasa sebelum masuk lingkungan sekolah harus cuci tangan. Kemudian pakai handsanitizer terus anak di kelas juga kita memang dibatasi dengan jarak sesuai jumlah muridnya. Kita batasi gerak mereka dan mereka juga sudah paham dengan hal itu.
Walaupun anak berkebutuhan khusus, tapi mereka dengan edukasi ini mereka sudah mengerti. Tentang bahwa kita itu harus melaksanakan kan proses protokol kesehatan. Tentunya hal ini baru bagi mereka dan kami pengajarnya, ungkapnya Sisilia guru yang hampir mengajar 12 tahun di sekolah
Sisilia menyimpulkan beban kami mengajar lebih banyak saat pandemi. Karena kebanyakan orang tua kesulitan mendampingi belajar saat di rumah. Sedangkan guru di sekolah yang bukan mengajar di SLB, khususnya untuk kami guru bagi mereka yang berkebutuhan khusus di mana banyak keterbatasan jadi banyak sekali kendala. Misalnya saat komunikasi seperti contohnya dalam pendengaran atau Tunarungu. Kalau ada tugas itu tidak seperti anak umumnya. Mereka harus adaptasi terhadap isi materinya, tidak bisa langsung mudah paham. Sebab siswa kami harus didampingi langsung gurunya. Intinya peran guru SLB lebih besar dibanding dengan orang tua. Kalau diumumkan peran yang besar yaitu dari orang tuanya.













