Pewarta: Dwi Arifin
Koran SINAR PAGI (Kota Bandung)-, Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Sensorik Netra Wyata Guna, Bandung dalam masa pandemi fokus memberikan dukungan vokasi bagi Penyandang Disabilitas. Dukungan itu agar para penyandang disabilitas tetap mampu beradaptasi melawan kesulitan saat pandemi.
Kepala Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Sensorik Netra Wyata Guna, Bandung, Sudarsono menjelaskan pada masa pandemi kami terus mensupport yang terkait dengan kebutuhan dasar penyandang disabilitas. Selain itu kami bukan ruang pekerjaan diantaranya merakit tongkat dan sebagainya. Ini bagian daripada menjaga stabilitas mereka, termasuk kita dukung dengan bantuan-batuan atau lebihnya usaha-usaha. Ada beberapa usaha yang kita dorong yang mereka jalankan. Mudah-mudahan dengan itu, lalu kita coba evaluasi. Apakah apa yang kita lakukan ini dapat mendorong mereka bertahan hingga bisa berkembang. Syukur syukur dan kami sangat berharap perkembangan mereka di masa pandemi ini. Kita bisa pastikan agar dalam situasi seperti ini, mereka tetap bisa memenuhi kebutuhan-kebutuhannya dengan pembinaan dari BRSPDSN Wyata Guna, jelasnya kepada media cetak dan online Koran SINAR PAGI di ruang kerjanya (11/2/2022)
Misalnya, Suparman disabilitas yang di Baleendah, kita berikan bantuan alat bantu untuk penunjang kesehariannya. Kita berikan bantuan juga alat bantu usahanya dan seterusnya. Sehingga dia setiap hari bisa menjalankan usahanya lebih maksimal. Melalui bantuan motor roda tiga dari Balai Cibinong, dengan itu usaha-usaha yang kita berikan membuat mudah memperluas akses usahanya agar meluas ke mana-mana.
Sudarsono juga mengungkapkan kita ada upaya memberdayakan disabilitas melalui perakitan alat bantu. Itu yang sempat kami kembangkan dengan merekrut para disabilitas tuna netra atau tuna wicara, keterbatasan fisik dan yang lainnya. Mereka diberdayakan untuk produksi, hasilnya kita distribusikan ke disabilitas yang memerlukan. Mereka bisa mengerjakan itu, melakukan kegiatan-kegiatan perakitan alat bantu yang bisa meningkatkan atau mengembangkan kreativitas atau pengembangan produk. Jadi dari upaya itu kita coba dorong agar disabilitas bertahan atau mampu adaptasi di masa pandemi. Tujuannya agar mereka mendapatkan penghasilan dari proses perakitan yang sesuai standarisasi dan upah minimal provinsi.
Menurutnya, Balai yang dipimpin pada masa pandemi yang hampir lebih 2 tahun kebelakang. Berjalan sesuai dengan arah kebijakan Kementrian Sosial, terutama Bagaimana kita bisa memberikan dukungan kepada para disabilitas perihal pelayanan Kesejahteraan Sosialnya untuk bisa memenuhi berbagai kebutuhannya. Kita berikan beberapa layananan kebutuhan yang bisa diakses dan dilakukan oleh Balai. Baik itu kebutuhan dasar, kebutuhan-kebutuhan yang berkaitan dengan terapi-terapi bagi disabilitas.
Kita punya tiga strategi yang bisa dilakukan diantaranya bisa berbasis keluarga, penyandang disabilitas tidak perlu dibawa ke sini, cukup di keluarganya dan kita monitoring atau berikan pembinaan berkala. Atau dukungan kepada keluarganya untuk bisa memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar penyandang disabilitas anak-anaknya dan sebagainya. Kedua kita bisa berbasis komunitas, jadi kalau misalnya disabilitas sudah ada yang ditangani oleh komunitas, kita support kebutuhan berbasis residensialnya. Atau misalnya ada ODGJ atau orang dengan gangguan jiwa, lalu ada dari teman-teman kelompok masyarakat. Apakah itu LSM atau apapun yang punya kepedulian terhadap persoalan sosial, menemukan persoalan-persoalan itu dan berupaya ikut menanganinya secara bersama-sama. Sedangkan yang ketiga melalui penanganan langsung dari balai di sini.
Kami juga punya pekerja sosial yang berperan memantau bagaimana kondisi sosialnya, berupaya untuk memetakan kondisi psikologi penyandang disabilitasnya. Karena beberapa kasus ada anak yang harus melakukan terapi-terapi psikologinya. Seterusnya kita juga tetap memberikan pelatihan-pelatihan vokasi untuk meningkatkan skill-skill mereka. Misalnya dalam proses asesmen bagi yang berminat mau jadi barista kita berikan keahliannya. Hasil dari pembinaan BRSPDSN Wyata Guna mereka para disabilitas ada yang memilih keluar negeri setelah diberi bekal vokasi untuk meraih cita-cita atau masa depan mereka. Namun kadang sayangnya ada orang tuanya yang tidak mengijinkan ke arah sana.
Sudarsono menyampaikan syarat untuk disabilitas mendapatkan dukungan ataupun bantuan dari Balai, cukup hanya dia jelas punya persoalan sosialnya dan memiliki data kependudukan. Kalau tidak punya kita langsung komunikasikan dengan dinas yang menanganinya. Supaya sebagai warga negara bisa dapat bantuan pangan non tunai berupa beras hingga uang atau berupa bantuan yang lainnya. Sehingga kebutuhan-kebutuhannya tercukupi. Berkelanjutan menerima bantuan segala macam dengan sistem sosial yang dikembangkan pemerintah.
Kita juga menangani anak yang mengalami kebutuhan khusus, anak yang melanggar hukum dalam proses atau sudah diputuskan pengadilan dan anak yang ditelantarkan orang tuanya dan sebagainya. Kami memungkinkan hadir untuk memperbaiki hubungan dengan keluarga dan menyelesaikan masalahnya. Dari langkah-langkah itu, kita ingin memastikan walaupun mereka disabilitas, jangan sampai terpuruk.
Sudarsono menjabarkan perihal jangkauan layanan balai di 9 kabupaten kota. Diantaranya kabupaten kota itu di Jawa Barat, kita hanya menjangkau Kota Bandung dan kabupaten Bandung Barat. Selebihnya 7 Kabupaten kotanya di provinsi Lampung, jadi sebagian besar kami membina teman-teman multi disabilitas yang ada di Lampung, mencakup Lampung Utara Lampung Tengah Lampung Timur ada Way Kanan, Mesuji ada Tulang Bawang dan Tulang Bawang Barat.
Dari data yang ada, pelayanan untuk saat ini total penyandang disabilitas ditargetkan 2980 orang. Tapi realisasinya sampai 3000-an dan tahun ini kita ada target tambahan 1980-an. Karena kita membuka pelayanan multi disabilitas.
