OPINI/Artikel

Hati-hati !!!! Klenik Politik Membawa Azab!

adminsigiku.com
×

Hati-hati !!!! Klenik Politik Membawa Azab!

Sebarkan artikel ini

Oleh :  Amanahtya (Ibu Rumah Tangga , Dayeuhkolot, Bandung-Jawa Barat)

Sebagaimana kita ketahui, telah diketahuii perbincangan di media massa, tentang Presiden Joko Widodo yang berkemah di titik nol Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara. Presiden berkemah ditemani 34 gubernur se-Indonesia. Dalam acara tersebut, Presiden Jokowi melakukan ritual di titik nol yang terletak di kecamatan Sepaku, Kabupaten Penjam Pasar Utara, Kalimantan Timur. Ritual kendi dilakukan dengan menyatukan tanah dan air yang dibawa oleh masing-masing gubernur dari daerahnya masing-masing dalam kendi besar yang diberi nama Kendi Nusantara. Para gubernur yang diundang hadir diminta membawa satu liter air dan dua kilogram tanah dari daerah masing-masing ke lokasi perkemahan.

Secara sosiologi politik, ritual klenik tapi bernuansa politik ini disebut dengan klenik politik, yang memang ada dalam tatanan kehidupan masyarakat. Dianut oleh individu yang meyakini ada cara untuk lepas dari segala tipu daya, meski individu tadi meyakini adanya Tuhan, tetapi memandang ada kekuatan gaib lain di luar Tuhan. Al hasil, prosesi klenik masih menjadi ikonik untuk bisa mendapatkan bantuan perlindungan, kekuatan, dan kesuksesan. Di era yang katanya modern dan maju ini, mengapa klenik yang notabene merupakan bentuk kesyirikan, masih diadopsi sebagai seremonial resmi negara?

Sebenarnya klenik politik seperti ini bukanlah hal baru. Maka ada beberapa hal yang bisa dianalisis terkait klenik politik ini, yaitu:
Pertama, tata kehidupan yang sekularis berupa memisahkan agama dari kehidupan, telah meniscayakan agama sekedar ritual, sehingga aspek faktual kehidupan dunia tidak diatur oleh agama, termasuk ranah politik. Dalam alam politik sekulari demokrasi saat ini, sah-sah saja dengan praktek klenik, karena dipandang sebagai wujud kebebasan yang dijunjung tinggi oleh demokrasi.

Kedua, mindset yang masih lekat dengan model politik yang ada sebelumnya, yaitu beberapa pelaku politik memiliki guru spiritual. Jika yang dimaksud guru spiritual itu orang ‘pintar’ dalam kacamata perdukunan, maka bisa jadi malah salah jalan.

Ketiga, secara individu bergantung pada keimanan yang melekat dalam dadanya. Jika meyakini bahwa Allah sebagai Al-Khalik (pencipta) dan Al-Mudabbir (pengatur) maka keimanan seseorang telah sempurna. Sebaliknya, jika Allah hanya dianggap sebagai sesembahan dan syariah-Nya diabaikan, maka kesyirikan berpotensi menjadi pilihan.

Keempat, hilangnya rasionalitas dan maraknya kebodohan berpikir. Tak bisa dipungkiri meski survey sudah digelar dan menggiring opini publik, klenik jadi senjata penyempurna. Tidak afdhol rasanya jika tak menggunakannya.

Jika klenik politik masih dijadikan praktik, maka bagaimana bisa negeri ini mendapatkan keridhaan dan keberkahan dari Sang Khalik (Allah SWT)? Bisa jadi praktek klenik ini akan membawa azab.
Kita tentu masih ingat kejadian di Donggala Palu beberapa tahun yang lalu. Sebelum terjadi gempa dan tsunami dahsyat, telah diadakan festival Palu Nomoni yang didalamnya menghidupkan kembali ritual Balia. Tak lama setelah melakukan ritual tersebut, kota Palu dilanda gempa dan disapu Tsunami. Tentu kita tidak ingin hal serupa terjadi kembali.

Oleh karena itu, yang di khawatirkan ritual kendi nusantara yang bernuansa klenik ini akan membawa azab, berupa ditimpakannya bencana dahsyat atas IKN yang baru, seperti yang di alami oleh kota Palu. Hendaknya kita ingat peringatan dari Allah SWT dalam QS Al an-am (6) ayat 65 yang artinya:

“Katakanlah (Muhammad), “Dialah yang berkuasa mengirimkan azab kepadamu, dari atas atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebagian kamu keganasan sebagian yang lain.” Perhatikanlah, bagaimana Kami menjelaskan berulang-ulang tanda-tanda (kekuasaan Kami) agar mereka memahami(nya).”

Sebagaimana kita ketahui sejatinya seorang pemimpin bekerja berdasarkan amanat Allah, bukan berdasarkan amanat dukun dan perintah paranormal. Indonesia telah mengalami banyak musibah, jangan ditambah musibah ini dengan azab Allah SWT yang akan datang karena membiarkan praktek kesyirikan, termasuk dalam seremonial negara.

Terlebih dari itu semua, yang paling utama adalah keridhaan dan keberkahan Allah SWT tidak akan dapat dirasakan oleh negeri ini. Negeri dengan mayoritas penduduk beragama Islam, tapi masih melakukan praktek kesyirikan. Bukankah maksud dari penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepada Al-Khalik (Allah SWT)? Yang berarti harus taat kepada syari’at-Nya, dengan menjadikannya sebagai aturan yang mengatur kehidupannya, menyelesaikan segala permasalahan hidupnya.

Maka jika negeri ini ingin mendapatkan keberkahan dan keridhaan dari Allah SWT, kita harus mengingat firman Allah yang artinya

” Apabila penduduk suatu negeri beriman dan bertaqwa, niscaya Kami akan limpahkan barokah dari langit dan bumi…”
(TQS Al-‘ Araf;96)

Wallahu alam bishwab