OPINI/Artikel

Keberadaan Guru Honorer di Sekolah

adminsigiku.com
×

Keberadaan Guru Honorer di Sekolah

Sebarkan artikel ini

Oleh : Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd.
(Dewan Pembina PGRI)

Prof. Dr. KH. Komarudin Hidayat pernah melontarkan sebuah narasi bahwa orang yang pertama masuk Surga adalah entitas guru. Mengapa? Karena semua orang hebat yang hidupnya telah memberi manfaat dan beriman dengan baik adalah terkait jasa entitas guru.

Pendapat di atas sangat afirmatif pada jasa strategis profesi guru. Namun pendapat ini Saya kritik. Tunggu dulu! Guru yang mana dulu? Bagi Saya guru yang pertama masuk Surga adalah guru honorer. Disusul oleh guru-guru yang aktif di PGRI dan guru-guru berprestasi yang diidolakan anak didik.

Mengapa guru honorer dahulu menyalip guru PNS dan guru aktivis PGRI? Jawabannya karena jasa guru honorer dan dedikasi mereka luar biasa tapi belum terkifarati oleh upah yang didapat dari negara. Guru honorer jasanya “belum terbayar” dengan baik, maka Ia menabung amal tiada tara bagi dunia pendidikan kita.

Amalan guru honorer dalam melayani anak didik di atas semua amalan guru PNS dan aktivis PGRI. Sungguh luar biasa para guru honorer yang tetap konsisten dalam bekerja walau kesejahteraan dan status masih belum ASN/PNS. Nilai ibadahnya dalam dunia pendidikan melintasi entitas guru PNS.

Ada sejumlah sekolah yang tidak ada PNSnya. Sejumlah sekolah SDN, SMPN, SMAN, SMKN sederajat tidak ada guru PNSnya. Artinya beberapa sekolah berkembang hanya mengandalkan satu PNS yakni kepala sekolahnya saja.

Disini guru honorer benar-benar telah menjadi abdi negara yang telah bekerja menyelamatkan wajah pemerintah dihadapan masyarakat. Bila shalat adalah tiang agama. Bisa jadi guru honorer adalah tiang negara dalam dimensi pendidikan.

Ada pula beberapa sekolah yang hanya beberapa PNS saja. Lagi dan lagi entitas guru honorer menjadi tulang punggung dan andalan sekolah dalam melayani anak bangsa. Tanpa guru honorer, sekolah ini bisa bubar.

Berbeda dengan sekolah mainstream yang hampir 99 persen GTKnya PNS. Ini sekolah normal yang tidak istimewa bila berprestasi. Sehebat apa pun prestasinya, wajar dan biasa-biasa saja. Karena syarat suksesnya normal, lengkap.

Beda dengan sekolah minus PNS dan hanya kepala sekolahnya saja yang PNS atau hanya ada satu dua PNS kemudian mampu menjadi sekolah dengan layanan standar, atau malah berprestasi. Sekolah semacam inilah yang luar biasa. Mengapa luar biasa? Karena keterbatasan SDM PNS masih bisa eksis dan prestatif.

Kalau kita mau berbicara jujur maka keberadaan guru honorer adalah penyelamat wajah pemerintah. Telah menolong pemerintah atas ketidakmampuannya dalam melayanai hak belajar anak didik di negeri ini. Tanpa guru honorer, anak didik mau belajar sama siapa?

Faktanya mereka tak bergaji normal bahkan abnormal bila dikalkulasi dengan kebutuhan keluarga mereka. Kehidupan mereka tidak rasional bila dihitung secara matematis. Kecuali matematika Ilahi.

Guru honorer telah menjadi pahlawan pendididikan yang sebenarnya pahlawan. Apalagi yang sudah mengabdi belasan tahun dan mampu menjadi idola anak didik. Sungguh guru honorer yang tidak malas, tidak lola, tapi semangat 45 hadir melayani anak didik setiap hari, sangat mulia dan istimewa.

Sebaliknya bila ada guru honorer pemalas dengan alasan klasik karena ngajar dimana-mana, alasan karena hanya guru honoer dan bukan PNS. Bahkan Ia menjadi pekerja asal-asalan, asal kerja, kerja asal, maka Ia tak cocok menjadi aparatur pendidikan di sekolahan. Lebih baik mencari pekerjaan lain. Bahkan bila Ia lolos ASN PPPK atau ASN PNS bisa merugikan sekolahan.

Menjadi guru honorer yang dedikatif, prestatif dan mendukung manajerial kepala sekolah dengan semangat 45 pasti hidupnya akan berkah. Para guru honorer yang “tidak hitung-hitungan” ini lah ahli Surga yang sebenarnya. Karena Allah lah yang akan menghitung amalan dan jasa mereka.

Mengapa di atas, Saya katakan guru honorer ahli Surga pertama yang akan masuk? Selain narasi yang Saya jelaskan tadi, alasan lainnya karena orang yang bekerja melintasi tuntutan formal dan melintasi kompleksitas keterbatasan dirinya adalah orang-orang yang ada Allah di hatinya.

Mengapa aktivis PGRI dan guru prestasi pun masuk Surga. Karena guru aktivis PGRI adalah guru-guru yang mematuhi UURI No 14 Tahun 2005. Setiap guru wajib “aktif” di organisasi profesi guru.

Bila hal wajib dan amanah undang-undang diabaikan maka dosa profesi masuknya. Tidak melaksanakan yang wajib adalah dosa. Hayo masuk PGRI atau berdosa karena tidak melaksanakan hal wajib.

Mengapa guru prestasi masuk Surga pula? Karena Ia adalah guru (PNS/honorer) yang telah berhasil menorehkan karya, manfaat di atas rata rata dalam melayani anak didik dan mengembangkan sekolahan. Guru honorer, guru aktivis PGRI dan guru berprestasi adalah tiang penyangga sukses layanan pendidikan.

Guru yang lain bagaimana? Guru yang lain yang biasa-biasa saja dan hanya menggugurkan kewajiban, bekerja formalistik, hanya tukang ngajar, tentu sulit masuk Surga. Karena untuk masuk Surga setidaknya karena dua hal. Iman pada Allah dan bermanfaat bagi sesama.

Ciri guru yang beriman dan bermanfaat baik bagi sesama manusia adalah mengajar dan mendidik dengan sangat baik, melintasi tuntutan formalnya dan tidak hitungan secara materi. Hitungannya adalah ibadah kepada Allah melalui layanan terdiferensiasi dari hati dan cinta anak didik di sekolah.

Sekolah bagi guru terbaik adalah “Rumah Ibadah Pendidikan Terbaik”. Sakralitas sekolah sama dengan rumah ibadah lainnya. Kepala sekolah adalah “Imam Pendidikan”, GTK dan anak didik adalah makmum yang harus mengikuti ucapan, gerak dan manajerial Sang Imam Pendidikan.

Ada ungkapan, “Shalatlah di luar shalat”. Shalat di luar shalat bisa diartikan melakukan hal yang manfaat, meninggalkan hal yang mudharat. Mendidik, mengajar dan menjadi guru yang baik serta taat pada imam satuan pendidikan (kepala sekolah) adalah diantara shalat di luar shalat dalam praktek amaliah pendidikan.

Amaliah adalah inti berkehidupan sebagai umat manusia. Amaliah yang berbasis Lillah dengan menjadi guru adalah sebuah amalan wow yang tak ternilai harganya. Harus diingat amaliah terbaik diantaranya adalah amaliah sosial mendidik.

Apalagi entitas guru honorer yang statusnya belum ASN/PPPK atau PNS amalannya akan Allah lipatgandakan. Hidup adalah tabur tuai. Setiap amaliah kita dan performa kita akan kembali pada kita.