Oleh : Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd
(Praktisi Pendidikan)
Satu hari Saya diskusi dengan seorang manajer pendidikan. Dalam diskusi disampaikan bahwa anak didik dan orangtua adalah pelanggan layanan pendidikan di rumah ibadah pendidikan. Pelanggan dalam dimensi bisnis adalah raja. Itulah motto yang berkembang dan cukup populer.
Di setiap perusahaan, pelanggan adalah pemangku kepentingan utama demi kelangsungan bisnis perusahaan dan merupakan bagian penting yang selalu masuk dalam strategi bisnis sebuah perusahaan. Pelanggan adalah raja.
Bagaimana dalam dunia layanan pendidikan ? Saya sampaikan kepada Sang Manajer pendidikan bahwa motto pelanggan adalah raja adalah mainstream. Sudah tak cocok di zaman yang makin disruptif. Ungkapan bagi pelanggan sebagai raja harus diubah menjadi “Pelanggan Adalah Nyawa Kita”.
Terutama di dunia pendidikan, apalagi bagi sekolah swasta yang masa depannya di ujung jurang gulung tikar. Banyak sekolah yang “tak bernyawa” lagi karena pelanggan sayup sayup menguap dan sekolahpun bangkrut. Bangunan sekolah pun menjadi kuil dan dipenuhi rerumputan.
Menempatkan pelanggan pengguna jasa layanan pendidikan sebagai nyawa sekolahan tentu lebih baik. Apalagi di rumah ibadah pendidikan bernama sekolahan, jangan sepelekan anak didik dan orangtua. Merekalah nyawa sekolahan. Hidup mati sekolah tergantung orangtua dan anak didik.
Jangan coba-coba salah layanan dan komunikasi pada orangtua dan anak didik. Mereka harus aman, nyaman dan berkembang di sekolahan. Masuk sekolah mereka harus merasa masuk taman, taman siswa versi Ki Hajar Dewantara. Belajar harus menyenangkan dibanding libur belajar.
Orang akan bahagia bila dihormati, dilayani dan dimuliakan dengan optimal. Setiap GTK di semua sekolahan harus memahami, melayani dan memuliakan semua anak didik dengan afirmasi berdiferensiasi sesuai harapan dan potensinya. Tentu dalam intruksi dan pembinaan dari kepala sekolah sebagai manajer.
Anak didik dan orangtua adalah nyawa, oksigen dan bahkan “logistik” bagi kehidupan sekolahan. Jangan anggap biasa-biasa atau formalistik dalam melayani orangtua dan anak didik. Mereka benar-benar nyawa sukses sekolahan. Bukan hanya sekedar raja.
Bedanya dengan dunia bisnis murni, dunia sekolahan spirit edukasinya lebih dominan. Kemasan layanan pendidikan adalah kemasan layanan edukasi. Termasuk pada orangtua dan siapa pun yang terkait dengan kepentingan sekolahan, pendekatanya lebih berwajah edukatif kolaboratif.
Ungkapan, “Semua anak adalah bintang”. “Semua anak adalah juara”. “Semua anak adalah amanah titipan Tuhan”. Ya, faktanya “Setiap anak adalah nyawa sekolahan”. Tanpa anak didik, sekolah mati dan gulung tikar. Jangan pernah sia-siakan setiap anak didik.
Proses penyia nyiaan anak bisa tak terasa kita (GTK) lakukan. Misal melayani proses belajar dan bimbingan yang tidak optimal. Guru masuk ruang kelas terlambat, ngajar dan mendidik formalitas dan asal kerja. Ini bahaya! Mengapa bahaya ? Karena urusannya sama nyawa sekolahan.
Andaikan setiap GTK atau guru bisa secara optimal melayani setiap anak didik dan memberi kepuasan pada setiap orangtua, sungguh akan sangat-sangat baik. Bagi keberlangsungan sekolahan. Ciri sukses sekolah melayani anak didik, diantaranya anak semangat berangkat ke sekolah dan mendapatkan banyak pelajaran hidup yang menyengkan di sekolahan.
Waspada jangan sembarangan memahami, melayani dan memuliakan setiap orangtua dan anak didik. GTK dan para kepala sekolah adalah pelayan pelanggan pendidikan. Merekalah yang menentukan kita dianggap sukses atau gagal mengelola sekolahan. Mereka bukan hanya raja tetapi nyawa sekolahan.











