OPINI/Artikel

Menyoal Tulisan Dr. DNK

adminsigiku.com
×

Menyoal Tulisan Dr. DNK

Sebarkan artikel ini

Oleh : Adi Tama
(Guru Sekolah Dasar)

Assalamualaikum, Bapak Ibu Guru di manapun berada. Salam sehat dan bahagia

Saya Adi Tama, Guru SD di Kota Cirebon. Tulisan ini sebagai curhatan, tanggapan, sekaligus pendapat saya pribadi untuk tulisan-tulisan Pak Dr. Dudung Nurullah Koswara yang saya baca di media sosial.

Pak Dr. DNK merupakan sosok guru yang konsisten memperjuangkan guru dan orprof PGRI. Tulisan beliau yang memuat tema guru dan PGRI sudah tak terhitung lagi jumlahnya, mungkin lebih dari 500 judul.

Akhir-akhir ini saya sering membaca tulisan beliau perihal Ketua PGRI haruslah Guru. ketua PGRI janganlah dijabat oleh orang yang bukan berprofesi sebagi guru.

Saya sependapat dengan pemikiran beliau. Idealnya ketua PGRI mulai dari ranting hingga pusat memang harus seorang guru atau kepala sekolah (Kepala Sekolah masih guru dan bekerja di sekolah setiap hari)

Agar apa? Agar memang benar-benar mengerti segala permasalahan di bawah, juga benar-benar memperjuangkan profesinya melalui organisasi.

Kenyataannya banyak sekali ketua PGRI yang dijabat oleh orang yang bukan atau tidak lagi berprofesi guru. Hal ini tentu berpengaruh terhadap roda organisasi. Misalnya saja katakanlah saya ketua PGRI (nyatanya saya hanya anggota biasa) lalu saya dialih tugaskan ke dinas pariwisata, dinas lingkungan hidup atau yang lain. Maka tupoksi saya sudah berbeda, tugas saya sudah berbeda! Lalu kenapa saya harus teriak atau memperjuangkan guru yang bukan lagi tugas saya? Kenapa saya harus menggerakan organisasi PGRI yang sudah bukan lagi ranah tupoksi saya?

Sebenarnya jika ada vote, saya yakin sebagian besar atau mungkin semua guru akan berkata “Ya Setuju” jika ketua PGRI haruslah seorang guru atau kepala sekolah agar optimalisasi profesi dan organisasi sejalan, seirama dan diharapkan bisa mencapai visi misinya.

Namun, hal tersebut tidaklah mudah. Ada berbagai hal dan kepentingan di dalamnya. Ada yang tak acuh atau sibuk dengan hal lain.

Hemat saya, yang dilakukan Pak Dr. DNK adalah baik. Mengedukasi publik khususnya guru agar mengerti dan peduli terhadap organisasinya. Menumbuhkan pola pikir, emosi, respek, simpati pada profesi dan organisasinya. Cara beliau mengedukasi publik sudah sangat banyak contohnya, silakan saja baca tulisan-tulisan beliau.

Namun apa yang sudah dilakukan Dr. DNK belumlah cukup. Mengedukasi publik tidaklah cukup.
Hal penting yang harus dilaksanakam adalah,
1. Membenahi ADART dalam tubuh organisasi PGRI.
2. Setiap anggota atau pengurus PGRI harus membuka hati, pikiran, dan mencurahkan energinya untuk ini.
3. Harus ada pasal dan ayat tegas, jelas, dan lugas yang memuat bahwa,
3.a. Ketua PGRI haruslah seorang guru dan/ atau kepala sekolah.
3.b. Jika ketua PGRI sudah tidak menjabat sebagai guru/ ks maka jabatannya otomatis akan terhenti.
3.c. Jabatan ketua sementara (plt) akan diisi oleh wakil, sekretaris, atau pengurus lain yang berprofesi sebagai guru/ ks.
3.d. Pemilihan ketua selanjutnya akan dilaksanakan pada atau jika.

Jika pasal tersebut tertuang jelas dalam AD ART PGRI, maka akan jelas alur organisasinya, siapa yang memang pantas dan tepat untuk menduduki posisi ketua.

Jika PGRI itu sebuah organisasi profesi guru yang menyuarakan suara guru dan demokrasi, maka seluruh pengurus dan anggota PGRI haruslah membuka matanya. Agendakan Mubes! Duduk bersama, memikirkan bersama-sama tentang organisasinya agar roda bisa berlajan ke puncak harapan yang terang.

Salam literasi, salam solidaritas, salam hangat untuk semua guru Indonesia