OPINI/Artikel

Hadir “15 Ribu” Guru Di Workernas Bali

adminsigiku.com
×

Hadir “15 Ribu” Guru Di Workernas Bali

Sebarkan artikel ini

Oleh : Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd.
(Ketua DPP Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia)

Pagi hari Ketua Umum DPP AKSI, Dr. Asep Tapip Yani, M.Pd. dan Anas Ponijan, M.Pd. kepala sekolah berprestasi Kemdikbud Ristek tahun 2022, berdiskusi. Diskusi yang santuy dan imajinatif. Einstein mengatakan science tidak lebih hebat dari imajinasi.

Penulis Buku Best Seller berjudul “Homodeus” Prof. Yuval Noah Harari pun mengatakan dahsyatnya kekuatan imajinasi dalam mengubah peradaban manusia.

Einstein dan Yuval meyakini bahwa imajinasi adalah sebuah energi terhebat yang mampu menggerak umat manusia. Manusia sangat berbeda dengan binatang, diantaranya terkait kekuatan akal dan imajinasi.

Imajinasi, mimpi, visi dan harapan adalah realitas fiktif (belum terjadi) meminjam istilah Prof. Yuval Noah Harari namun bisa menggerakan kekuatan manusia untuk mencapainya. Bukankah manusia ingin terbang seperti burung menciptakan pesawat?

Bukankah manusia ingin menguasai lautan seperti ikan menciptakan kapal selam? Diskusi antara Ketua Umum DPP AKSI dan Kepala Sekolah Berprestasi di atas adalah diskusi imajinatif konstruktif, terkait mimpi ideal pendidikan Indonesia ke depan.

Ketua Umum DPP AKSI mengatakan, “Bila kepala sekolah yang ratusan orang hadir di Workenas Bali dikalikan dengan jumlah guru yang mereka pimpin, maka kehadiran Workernas Bali sama dengan kehadiran sekitar 15 ribu guru”. Wow, sebuah dampak yang diharapkan.

Narasi ini menjadi lebih menarik lagi sebagaimana pernyataan Anas Ponijan. Ia mengatakan ratusan kepala sekolah yang hadir bila dikalikan dengan jumlah siswa maka bisa jutaan. Ahaa, sebuah diskusi imajinatif konstruktf motivatif yang baik.

Ya, faktanya ratusan kepala sekolah yang hadir dalam Workernas Bali mewakili wilayah provinsi di seluruh Indonesia, harus berdampak pada transformasi konstruktif jutaan guru yang mereka pimpin di semua sekolahan. Plus puluhan juta anak didik yang ada di semua sekolah di Indonesia, dalam dan luar negeri.

Kepala sekolah yang aktif di AKSI adalah kepala sekolah pilihan yang “waras” memahami undang-undang. Undang-undang menuntut semua profesi harus masuk, aktif dan kontributif dalam organisasi sejenisnya. AKSI adalah organisasi legal, terdaftar di pemerintah dan wajib kontributif pada bangsa dan negara.

Apa yang dilakukan DPP AKSI dalam Workernas Bali terkait giat peningkatan kompetensi, rekomendasi, silaturahmi nasional, menguatkan solidaritas, menguatkan dukungan pada pemerintah pusat dan daerah dalam mentransformasi pendidikan.

Resonansi giat DPP AKSI dan dinamika AKSI di daerah harus berdampak pada realitas implementasi ideal layanan peningkatan mutu pendidikan di setiap daerah dan sekolahan. Semua guru dan anak didik di Indonesia berada dalam tangan edukatif Sang Pemimpin Pembelajaran.

AKSI pun adalah organisasi profesi percontohan. Mengapa percontohan? Organisasi profesi itu kode etiknya harus sejenis atau serumpun. Di AKSI semua anggota, pengurus adalah kepala sekolah. Tidak ada anggota dan pengurus di luar kepala sekolah.

Faktanya, saat ini masih ada organisasi profesi yang “nano-nano”. Hal ini bisa jadi jelimet kepentingan. Bahkan bisa dipolitisasi Sang Pemimpin yang bukan dari jenis profesinya. Misalkan bukan guru, ngurus organisasi guru.

Ada orprof guru yang di dalamnya ada para pencari nafkah dan kehormatan semata. Padahal bukan entitasnya, bukan guru sebagaimana definisi undang-undang. Di AKSI Semuanya kepala sekolah.

Bukan kepala sekolah tidak boleh masuk jadi anggota dan pengurus AKSI. Ini ideal sesuai keinginan pemerintah dan undang-undang. AKSI Adalah organisasi profesi terbuka, non partisan dari semua kepala sekolah negeri, swasta dan yang berada di luar negeri.

Mari para kepala sekolah Indonesia, di Workernas tahun depan kita “goyang Indonesia” dengan goyangan transformatif berdiferensiasi demi tujuan sukses pendidikan nasional. Harapan lahirnya Profile Pelajar Pancasila dan Generasi Emas 2045 adalah imajinasi kolektif entitas kepala sekolah.

Semoga bangsa kita ke depan menjadi bangsa merdeka yang sebenar benarnya merdeka. Dimulai dari Merdeka Belajar, kepala sekolah merdeka dan sekolah merdeka. Anak didik, guru dan kepala sekolah adalah “Trisula Sukses” masa depan bangsa.

Semua guru fakta hariannya ada ditangan entitas kepala sekolah, di semua sekolahan. Semua anak didik keselamatan masa depannya terkait kapasitas pempimpin pembelajaran. Kepala sekolah adalah “Mendikbud” di sekolahan yang setiap detik bersama masyarakat, bersama anak didik dan guru.