Oleh : Neng Tintin (Ibu Rumah Tangga)
Geliat dan antusias masyarakat menyambut pesta Demokrasi sudah mulai terasa. Bahkan euforianya pun kian hangat terjadi di tengah-tengah masyarakat saat ini. Padahal pemilu masih sekitar 1 tahun lagi.
Berbagai survei oleh sejumlah lembaga survei pun dilakukan, diantaranya untuk membangun opini seputar para capres tersebut. Tidak ketinggalan kesibukkan para Parpol dan elit politik pun mulai terjadi, mereka mulai melakukan beragam manuver politik, mulai bernegosiasi dan mulai mensosialisasikan capres mereka masing-masing. Antusiasme dan harapan yang besar pun tampak di tengah- tengah kaum Muslim, yang masih berharap besar akan terwujudnya perubahan melalui Pemilu tahun depan.
Memang sudah kita ketahui, bahwa keadaan di Negeri ini memang sedang tidak baik-baik saja. Jadi boleh dibilang Pemilu ini menjadi harapan yang sangat besar bagi sebagian masyarakat untuk menuju perubahan, tapi tidak sedikit pula masyarakat yang meragukan terwujudnya perubahan yang lebih baik melalui jalan Pesta Demokrasi ini.
Berbagai persoalan yang membelit Negeri ini, seakan terus terjadi dan tanpa henti. Mulai dari persoalan ekonomi, sosial, keamanan hingga politik terus saja terjadi.
Contohnya secara ekonomi, negeri yang memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah ruah ini, justru memiliki utang luar negeri yang menggunung tinggi, korupsi terjadi silih berganti, belum lagi angka kriminalitas yang lainya pun semakin tinggi. Bahkan secara keamanan nasional,warga masih terancam oleh serangan kelompok teroris OPM di Papua yang sudah menelan banyak korban jiwa, serta masih banyak lagi persoalan-persoalan yang membelit lainya.
Perlu kita pahami dan kita sadari, bahwa perubahan keadaan suatu kaum tentu tidak hanya didasarkan pada perubahan (pergantian) pemimpin. Karena sekedar pergantian pemimpin jelas tidak menjamin kondisi negeri ini menjadi lebih baik.Seperti halnya keadaan yang kita rasakan saat ini.
Karena harus kita fahami bahwa siapapun yang berkuasa, jika tetap mengabaikan aturan-aturan Allah, tidak akan pernah menghilangkan berbagai kerusakan (fasad) di seluruh penjuru negeri.
Allah SWT telah memperingatkan didalam al-Quran:
” Telah tampak kerusakan didarat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia, supaya Allah menimpakan sebagian dari (akibat) dari perbuatan mereka, agar mereka kembali (kejalan yang benar) (TQS.ar-Rum:41).
Semestinya kaum Muslim kembali merujuk pada analisis al-Quran yang mengurai penyebab kerusakan umat manusia, yakni akibat meninggalkan aturan Allah SWT.
Dan berbagai kerusakan hanya dapat diperbaiki saat pemimpin kaum Muslim menerapkan Islam secara total. Inilah perubahan hakiki yang semestinya menjadi program setiap pribadi, kelompok, dan Parpol Islam. Bukan hanya sekedar mengusung calon pemimpin Muslim, akan tetapi sekaligus mendorong pemimpin Muslim untuk menerapkan Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan. Bukan hanya memilih siapa yang menjadi pemimpin, akan tetapi menentukan sistem kehidupan apa yang akan di terapkan; Islam atau selain islam?
Memang benar, kaum Muslim hari ini masih menyembah Allah SWT, akan tetapi sayangnya dalam kehidupan sosial, ekonomi, politik, dan bernegara justru menolak diatur Allah SWT dengan Syariah-Nya.
Kaum Muslim juga masih menyatakan bahwa sumber hukum mereka adalah al-Quran dan as-Sunnah, namun faktanya mereka membiarkan akal dan hawa nafsu menjadi sumber hukum dan sandaran bagi mereka. Padahal jelas Allah SWT telah memerintahkan untuk hanya berhukum kepada Syariah-Nya . Allah SWT berfirman:
“Karena itu hukumilah mereka menurut hukum yang telah Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepada dirimu (TQS al-Maidah: 48).
Di dalam Islam, kepala negara atau Khalifah tinggal menjalankan aturan yang sudah ada, yakni Syariah Islam. Tidak ada hak sedikitpun penguasa ataupun wakil rakyat, apalagi oligarki asing dan aseng maupun lokal untuk mengotak ngatik hukum-hukum Allah. Dengan demikian sistem Islam bebas dari intervensi siapapun, karena selalu berpatokan pada dalil al-Quran dan as-Sunnah.
Karena sebenarnya telah jelas bahwa akar persoalan negeri ini bagi Kaum Muslim, yakni Karena mereka telah berpaling dari Syariah Islam. Pertanyaannya: maukah kita memutus akar permasalahan tersebut dengan kembali kepada Syari’at Islam?
Ataukah kita akan terus menerus berputar-putar dalam lingkaran setan, dan terus mencari solusi diluar Islam?
WalLaahu a’lam….











