Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)
Dr. KH Syaiful Karim, Sang Hafiz Qur’an, penceramah dan scientis, selalu membuat Saya tersenyum atas lompatan pikirannya. Dalam sebuah media Tiktok, Saya menangkap pernyataan anti mainstream terkait guru.
Ia mengatakan, “Kesalahan anak didik adalah sarana belajar, anak salah jangan dihukum”. Setiap guru jangan menempatkan diri sebagai guru, jangan merasa guru. Bergurulah pada anak didik.
Guru sebenarnya adalah anak didik. Anak didik adalah guru. Semua guru harus belajar dan berguru pada dinamika anak didik setiap hari. Anak didik bisa memberi pengalaman, pengetahuan dan penebalan ilmu keguruan.
“Guru yang sebenarnya adalah murid murid kita, kita bisa belajar kebijaksanaan pada anak didik kita” demikian KH Syaiful Karim mengatakan. Anak didik bukan objek, melainkan subjek belajar bagi para guru.
Faktanya memang benar, guru berprestasi adalah guru yang berusaha “berguru” memahami keragaman anak didik. PTS, PTK, Best Practice dan sejumlah skripsi lahir dari dunia anak didik, dunia pembelajaran. Hakekatnya semua “berguru” pada realitas dinamika anak didik.
Secara tidak langsung, KH Syaiful Karim berpendapat bahwa anak didik yang melakukan kesalahan adalah sebuah tantangan bagi para guru untuk belajar tentang anak didik.
Anak didik yang dikeluarkan dari sekolah karena melakukan kesalahan belum tentu sebuah tindakan yang benar. Bisa jadi guru dan kepala sekolah mengambil jalan pintas, mengeluarkan anak, mentidaknaikan anak, tidak benar.
Guru sejatinya belajar dan berguru pada anak didik. Bila anak didik diangggap “guru” dengan 1001 permasalahan maka akan memberi 1001 pengetahuan tentang anak didik. Kuliah menjadi guru adalah kuliah bagaimana melayani anak didik.
Hahikatnya segala dinamika kehidupan adalah ayat ayat kauniyah, apalagi dinamika diferensiasi anak didik, tentu saja bisa jadi referensi dalam pengembangan pendidikan.
Jangan alergi belajar pada anak didik. Mereka adalah guru. Guru untuk sabar. Guru untuk meningkatkan metode/cara. Guru untuk mengubah pendekatan sesuai sikon dan emosi anak.
Dr. KH Syaiful Karim bahkan mengatakan, menjadi guru atau bekerja itu bukan sebuah kewajiban profesi. Melainkan panggilan hati, need dan cinta pada dunia pendidikan karena Allah memberi kita berkesempatan menjadi guru.
Guru yang bekerja karena kewajiban, karena jam kerja, karena atasan akan sangat buruk dalam bekerja. Guru terbaik adalah guru yang dirindukan anak didiknya karena Ia menebar cinta kasih penuh keteladanan dan menginspirasi.











