Muztahidin Al Ayubi, Tokoh Teladan

0
600

Oleh : Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd.
(Praktisi Pendidikan)

Tak salah bila IPB memberikan gelar The Most Inspiring Alumni kepada sosok teladan bernama Muztahidin Al Ayubi. IPB adalah kampus level nasional yang tidak sembarangan memberikan gelar dan menyeleksi ratusan alumnus terpilih dan terbaik.

Sosok Muztahidin Al Ayubi terpilih menjadi yang terbaik sebagai The Most Inspiring Alumni. Siapakah Muztahidin Al Ayubi? Ini yang menarik kita selami, kita dalami sosok istimewa dari Bogor. Sosok yang bisa memberi inspirasi untuk seluruh Indonesia.

Sebenarnya kita bisa mengenali Beliau lebih jauh dalam buku yang berjudul “Cincin Emas Di Ujung Jembatan”. Kisah dalam buku ini sangat inspiratif, disusun oleh Tony Hartus. Namun dalam tulisan berikut narasinya lebih kepada apa yang Saya lihat saat bertemu Beliau dan apa yang sudah Ia berikan pada dunia pendidikan.

Kalau kita lihat sosok Muztahidin Al Ayubi dengan segala yang Ia miliki saat ini tentu kita akan menyimpulkan Ia adalah Sultan, Ia adalah milyuner, Ia adalah orang kaya raya di Bogor. Kita bisa menyangka Ia adalah keturunan darah biru, keturunan pengusaha kaya, punya warisan orangtua yang uangnya tak berseri.

Dugaan kita ini salah dan sangat salah. Justru masa lalunya yang menjadi inspirasi bagi kita semua, terutama bagi anak didik dan generasi muda. Ia mematahkan teori “Si Keturunan Miskin Selamanya Akan Terus Miskin”. Ternyata teori ini terpatahkan oleh Muztahidin Al Ayubi.

Ia sejak usia SD hidup sangat miskin. Karena miskin dan harus bekerja sejak SD, sekolahnya pun menjadi 10 tahun. Bukan karena Ia bodoh melainkan karena Ia bekerja mencari nafkah untuk keluarga sejak SD. Saat SMP, Ia tidur di sekolah dan menjadi Satpam sekolah, tanpa dibayar.

Namun kualitas personalnya yang istimewa, Ia dipercaya menjadi Ketua OSIS saat SMA. Ia adalah pribadi tangguh dan memiliki “Smart Religion”. Smart Religion bisa diartikan kecerdasan person yang tersambung dengan Tuhan. Tuhan seolah “menyatu” dalam dirinya.

Derita Sang Teladan Muztahidin Al Ayubi terkisahkan ketika usia SD harus cari beras dengan mendulang pasir, mengumpulan batu, membelah batu, untuk dua liter beras. Tangannya sangat kasar, cape dan tentu sakit karena selalu bersentuhan dengan benda kasar di sungai.

Kini Ia malah “cape” karena menghitung uang, kebanyakan uang. Uang menumpuk, cape menghitungnya. Setiap hari Ia bisa menghasilkan uang Rp 400 juta sampai Rp 1 milyar. Dulu Ia anak miskin yang harus menghidupi keluarga sejak SD karena sangat miskin.

Kini Ia pun memberikan sejumlah beasiswa pada semua anak didik dan mahasiswa yang tak mampu. Ia sangat peduli pada anak yatim piatu dan anak miskin agar bisa sekolah. Ia punya spirit bekerja dan belajarlah lebih dari yang lain. Tentu saja dalam ridha Ilahi.