OPINI/Artikel

Ketahanan Pangan Islam Punya Solusi

adminsigiku.com
×

Ketahanan Pangan Islam Punya Solusi

Sebarkan artikel ini

Oleh : Siti Saadah (Ibu Rumah Tangga)

Ketahanan pangan seringkali dijadikan bahan perbincangan, karena pentingnya pangan bagi kelangsungan hidup manusia.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Organisasi Riset Energi dan Manufaktur (OREM) menggelar diskusi panel yang bertajuk Smart Farming for Sustainable Growth, dengan tema:”Inovasi dan Tantangan Penerapan Standar Berkelanjutan dan Community Development untuk mendukung Ketahanan Pangan dan mengatasi Perubahan Iklim di Jakarta Convention Center, kamis (16/11). Diskusi diselenggarakan dalam kaitan dengan hari pangan sedunia.

Kepala BRIN Laksana Tri Handoko menyatakan, perubahan iklim kali ini ada kemungkinanterjadi dimasa yang akan datang karena akibatvpemanasan global dapat menimbulkan musim hujan dan kemarau yang tidak bisa diprediksi dengan baik. Perubahan tersebut juga berdampak pada produktivitas lahan pertanian. Selain itu, terjadinya perang antar negara di beberapa kawasan dunia semakin mempersulit penyediaan bahan pangan, bahkan berakibat terhambatnya rantai pasok dan distribusi bahan pangan.

Sekertaris Badan Standardisasi Instrumen pertanian, Kementerian Pertanian Haris Syahbuddin mengatakan, guna mengantisipasi terhambatnya rantai pasok bahan pangan perlu memperkuat kemandirian produksi pangan dalam negeri di tingkat Desa, Kecamatan, Kabupaten-Kota dengan memanfaatkan potensi masing-masing baik menggunakan kearifan lokal dan adopsi teknologi yang sesuai dan mendatangkan produksi pertanian. Dikutif dari media online https://www.brin.go.id/news

Kehidupan ini telah semakin maju, akan tetapi masih banyak PR dalam memenuhi kebutuhan pangan. Terlebih saat ini dengan pengaruh kapitalistik sekuler menjadikan bahan pangan yang bergizi sulit di gapai oleh rakyat menengah ke bawah.meski banyak produk-produk kapitalis beredar dengan harga murah, tetapi di dominasi oleh konsumsi siap saji yang kurang akan gizi.

Produksi pangan yang sering kali kurang distribusinya yang belum merata, serta sulit dijangkau harganya oleh masyarakat, membuat masyarakat terbiasa mengkonsumsi pangan tanpa perduli lagi kandungan gizi.

Mewujudkan ketahanan pangan oleh negara di kondisi krisis dan kesenjangan ekonomi pengaruh kapitalis tentu tidak mudah, sebab membutuhkan anggaran yang besar. Dari sisi teknologi butuh alat penunjang yang efisien. Dari segi lahan harus tersedia sarana produksi pangan. Sementara, banyak lahan-lahan pertanian yang telah dialihfungsikan menjadi perumahan, industri bahkan infrastruktur. Sehingga lahan-lahan produktif yang mampu memasok ketersediaan pangan terus berkurang. Yang pada akhirnya, Indonesia tertinggal dalam ketahanan pangan dengan pengaruh kapitalistik sekuler akan sangat jauh terwujudkan.

Lain halnya dalam Islam yang tidak hanya mengatur ibadah saja, namun juga memiliki mekanisme terbaik dalam menjaga produktivitas dan distribusi pangan.

Dalam pandangan Islam, pertanian merupakan salah satu pilar ekonomi. Sebab, dari pertanianlah bahan-bahan pangan akan terproduksi. Sehingga jika pertanian melemah, akan mengganggu stabilitas negara yang membuatnya bergantung dengan negara lain. Islam tidak akan membiarkan Negara tergantung dan menjadikan Negara didominasi kebijakannya oleh segelintir orang-orang yang berkepentingan. Karena yang terpenting diatas kebijakan adalah ketaatan pada hukum Allah SWT dan terpenuhinya hak-hak rakyat baik secara jamaah maupun individu.

Pada masa Khilafah Kepemimpinan Umar bin khattab, pernah terjadi krisis pangan akibat kemarau panjang. Hingga masa paceklik, Umar bin khattab memiliki suatu kebiasaan baru, yaitu setelah selesai mengimami salat isya beliau langsung pulang dan melakukan salat malam sampai menjelang shubuh. Kemudian khalifah Umar keluar menelusuri lorong-lorong jalan untuk mengontrol apakah ada rakyatnya yang kelaparan.

Kemudian khalifah Umar mengirim surat kebeberapa Gubernur di berbagai wilayah kekhalifahan Islam. Dan meminta mereka mengirim bantuan untuk menutupi kebutuhan masyarakat Hijaz. Diantara yang dikirimi surat adalah Amr bin Ash di Mesir, Muawiyah bin Ali Sufyan di Syam, Sa’ad bin Abi Waqqash di Irak.

Hal ini menunjukkan sekaligus memberikan contoh bahwa pemimpin dan negara wajib menenuhi kebutuhan pangan rakyatnya. Memastikan tiap individunya tumbuh menjadi SDM unggul dan bertakwa. Semua tentunya hanya akan terwujud dengan aturan yang pasti dan benar dari Allah SWT. Wallahu’alam bish-shawwab