Oleh : Ai Sumiati (Ibu Rumah Tangga)
Indonesia mengirimkan dua pemudi yang berasal dari Kabupaten Bandung mewakili Indonesia dalam ajang Best diplomats di Istanbul, Turki pada 1 hingga 4 Maret 2024. Diberangkatkannya mereka berdua untuk mempromosikan kebudayaan dan pariwisata serta potensi Kabupaten Bandung kemudian membawa pulang pengetahuan yang berharga bagi mereka dan para pemuda umumnya. Dilansir dari KETIK.
Best diplomats adalah penyelenggara simulasi diplomatik yang didedikasikan untuk menanamkan keterampilan diplomasi dikalangan pemuda. Simulasi ini sebagai platform kuat bagi pemimpin muda dan agen perubahan untuk terlibat dalam dialog konstruktif dan menangani isu global yang paling mendesak.
“Beri aku 1000 orang tua, niscaya akan ku cabut Semeru dari akarnya, beri aku 10 pemuda, niscaya akan ku guncang dunia.”
Sebuah ungkapan powerful dari bung Karno terkait pemuda. Ungkapan yang menggambarkan bahwa kekuatan Pemuda dalam perubah sangat besar. Pemuda saat ini dijadikan sebagai harapan utama sebagai pengubah peainan. Kondisi carut marut multidimensi, peradaban global memang menuntut ada para pelaku pengubah sistem. Namun sangat disayangkan, potensi pemuda dalam sistem kapitalisme sekuler saat ini hanya difokuskan pada aspek ekonomi. Pemuda difokuskan pada sektor usaha dan teknologi yang justru akan memandulkan daya kritis mereka terhadap kondisi umat yang sesungguhnya. Hal ini adalah pembajakan intelektualisme pemuda yang seharusnya memberikan solusi-solusi masalah global.
Pembajakan potensi kepemimpinan pemuda terlihat dari arah pemikiran dan pemberdayaan pemuda. Pembajakan pemikiran di kalangan pemuda muslim telah melahirkan keengganan mereka menerima nilai-nilai syariat Islam. Dari arah pemberdayaan pembangunan pemuda dilibatkan dalam setiap isu pembangunan. Mulai dari tataran konsep hingga implementasi solusinya akan mengukuhkan gagasan dan program kapitalisme.
Pemuda dalam Islam sebagai harapan bangsa, sebagai tonggak peradaban yang memikul beban yang berat dan kewajiban dalam menjaga diri, agama, serta umatnya. Maka kewajiban negara untuk mengoptimalkan potensi pemuda melalui pembangunan yang berlandaskan akidah Islam. Akidah Islam melalui pendidikan akan melahirkan pemuda yang berkepribadian Islam. Kehidupan Islam akan melahirkan generasi hebat serta mampu menjadi pemimpin peradaban mulia. Mereka tidak akan menyia-nyiakan masa muda mereka dalam kesenangan dunia yang hanya sementara. Sebagai contoh, Muhammad Al Fatih yang mampu menaklukan Konstantinopel di usianya yang masih muda. Mush’ab bin Umair, ketika masuk Islam belia tidak gentar dan tetap mamilih Islam sebagai petunjuk hidup meski harus dibenci oleh ibunya dan diambil segala pasilitas kesenangannya. Dalam waktu singkat Mush’ab makin ahli dalam mendakwahkan Islam , argumen-argumennya begitu kuat, sosoknya yang tenang begitu menghujam dibenak orang-orang Madinah. Bahkan beliau menjadi delegasi pertama dalam Islam untuk mengemban misi dakwah politik diluar teritorial wilayah dakwah Rasulullah saw. Keyakinan yang kokoh, hati yang bersih, dan pendirian yang kuat ini harus kita contoh.
Pemuda dalam Islam adalah pemuda yang berdakwah secara politik, tanpa kekerasan, yang mengajarkan Islam mulai dari akidah, syariah, penerapan syariah yang menjelaskan sebuah problem dengan sangat detail, mengupas tuntas akar permasalahannya, memahami solusinya dan memahami pula apa yang harus dilakukan untuk menyelesaikan permasalah tersebut. Maka hal itu akan menjadikan para pemuda yang akan membawa perubahan besar. Wallahu’alam bishshawab
Sumiati











