Oleh: Heni Ruslaeni
Kasus DBD di Indonesia mengalami perkembangan yang fluktuatif. Memang bukan penyakit baru namun, perlu di waspadai oleh kita terhadap penularan virus yang berasal dari gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes Albocpictus. Gejala yang akan muncul yaitu di tandai demam mendadak, sakit kepala, nyeri belakang bola mata, mual dan menifestasi pendarahan seperti mimisan atau gusi berdarah serta kemerahan di bagian permukaan tubuh pada penderita.
Berdasarkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi penularan penyakit Hand, Foot, and Mouth disease (HFMD) selama arus mudik dan balik Lebaran 1445 H/2024 M.
Karena, penyakit ini memiliki kecepatan penularan yang tinggi meski jarang menyebabkan sakit berat. Selama perjalanan mudik berpotensi mempercepat penyebaran, terutama di kalangan bayi dan balita. Kemenkes dr. M Syahril dalam keterangannya, Jum’at (12/4/2024).
Tercatat, hampir 6.500 kasus HFMD hingga pekan ke-13 tahun 2024. Sebagian besar kasus terjadi pada usia anak, dan sebagian lainnya pada orang dewasa. Kasus HFMD terbanyak ada di Pulau Jawa, di antaranya Jawa Barat (2.119), disusul Banten (1.171) DI Yogyakarta (561), dan Jawa Tengah (464).
dr. Syahril mengimbau masyarakat untuk tetap menjaga kesehatan dan kebersihan selama perjalanan mudik dengan mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, serta menerapkan etika batuk atau bersin. Selain itu, masyarakat diminta menghindari kontak langsung dengan orang yang terinfeksi. Pemudik untuk tetap menjaga kebersihan di kampung halamannya untuk mengurangi risiko adanya demam berdarah dengue.
DBD sangat berbahaya sebab tingkat kematiannya tinggi maka yang di lakukan yaitu pemberantasan Sarang Nyamuk di kampung halaman, mengerjakan kebiasaan baik supaya tidak tertular Demam Berdarah. Kebanyakan yang terjangkit adalah anak- anak, penyebab tingginya DBD bisa jadi di picu oleh musim hujan yang membuat jentik nyamuk sangat mudah berkembang biak sebab genangan air yang di biarkan di sekitar permukiman, untuk bisa menjaga lingkungannya untuk tetap bersih dan sehat masih sulit. Selain itu mayoritas masyarakat Indonesia berpenghasilan rendah, untuk bisa memenuhi asupan gizi pada anak masih kesulitan padahal itu salah satunya supaya imunitas tubuh anak terjaga, untuk bisa makan kenyang saja masih kesulitan. Realitanya tidak ada jaminan kesehatan yang mumpuni, BPJS pun bukan jaminan tetap saja rakyat harus membayar. Apa kabar dengan orang yang tidak mampu membayar, terlebih birokrasi BPJS yang sering kali menghambat terpenuhinya hak sehat bagi rakyat.
Di Indonesia wilayah yang angka kasus demam berdarahnya tinggi.
Sebab, hingga pekan ke-14 tahun 2024 atau April ini, tercatat sebanyak 60.296 kasus demam berdarah di Indonesia dengan angka kematian sebanyak 455. Jumlah ini terus bertambah dari pekan-pekan sebelumnya.
Alhasil, pencegahan DBD tidak cukup hanya dengan penyuluhan, melainkan juga membutuhkan kekuatan ekonomi. Dalam sistem saat ini seharusnya negara berperan penting dalam hal ini. Bagaimana rakyat bisa hidup sehat, hidup layak, menjaga lingkungannya, dan asupan makanan yang bergizi, jika faktor ekonominya lemah? Jangankan membersihkan genangan air, akses terhadap air bersih saja kesulitan.
Sistem saat ini hanya berasaskan manfaat untuk golongan mereka saja. Keadilannya adalah keadilan untuk golongan tertentu bukan keadilan untuk seluruh masyarakat.
Berbeda dengan sistem Islam pemerintah bertanggung jawab terhadap semua kebutuhan hajat seluruh masyarakat. Salah satunya adalah kesehatan mulai pencegahan hingga pengobatan semua solusinya ada di dalam Islam. Pemerintah tidak akan membiarkan wabah ini berlangsung cukup lama.
Khilafah Islamiyah adalah suatu urgensi yang harus segera di tegakkan demi kepentingan seluruh masyarakat dan seluruh umat baik muslim atau non muslim di seluruh dunia. Tampak jelas betapa bobroknyasistem saat ini hanya di manfaatkan oleh segolongan orang yang ingin berkuasa saja.
Waalahu’ allam bishsawab










