Olen : Neng Tintin (Ibu Rum ah Tanga)
Sebagai bentuk komitmen terhadap peningkatan kualitas pendidikan kejuruan, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk Regional 2 Jabodetabek Jabar menyelenggarakan webinar bertajuk “Kiat Sukses Wujudkan SMK Unggul”.
Webinar ini dihadiri oleh enam ratus peserta yang terdiri dari kepala sekolah, guru, hingga tim IT sekolah. Turut hadir Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Banten, DR. M Tabrani M.Pd, Kepala Bidang SMK Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pemprov DKI Jakarta, Erni Mawarni,S.E.Par, M.Pd Dan kepala Bidang PSMK Provinsi Jawa Barat, Drs. Eddy Purwanto, M.M.
Executive Vice president Telkom Regional 2, Edie Kurniawan, menekankan pentingnya kesiapan Lilian SMK salad menghadapi perubahan any terjadi di industri, terutama yang dipicu oleh otomatisasi dan digitalisasi.
Otomatisasi teknologi telah merubah dunia kerja, menggantikan beberapa peran tradisional dengan sistem otomatis, tetapi disisi lain juga menciptakan peluang baru dibeberapa sektor.
Menurut data McKinsey, diperkirakan akan ada 27-46 juta pekerjaan baru yang tercipta akibat digitalisasi hingga 2030. Peran kita saat ini adalah mempersiapkan lulusan SMK agar siap menghadapi peluang tersebut,” jelas Edie. Sumber: TribunJabar.id
Sudah kita ketahui bersama, bahwa kemudahan teknologi saat ini dirasa memberikan angin segar bagi semua aspek kehidupan, termasuk kedalam pendidikan. Disamping pasti ada sisi positive dan negatif nya.
Memang benar, dengan adanya acara webinar ini dirasa sangat membantu para pelajar lulusan SMK, agar dapat menjadi pelajar yang unggul dalam digitalisasi teknologi. Sehingga diharapkan para pelajar lulusan SMK nanti kelak dapat bersaing di dalam dunia kerja. Yang mungkin lebih banyak menggantikan beberapa peran tradisional ke arah digitalisasi teknolgi.
Akan tetapi yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa arah tujuan pendidikan Saar ini seolah hanya untuk memenuhi kebutuhan industri saja? sangat disayangkan sekali jika arah tujuan pendidikan hanya fokus sekedar untuk mencari lapangan kerja.
Memang benar, beberapa waktu lalu visi pendidikan di Indonesia yang dicanangkan Kemendikbud sempat menuai protes keras dari berbagai elemen umat Islam.
Pasalnya, visi pendidikan yang tertuang dalam draft peta Jalan Pendidikan Nasional (PJPN) 2020-2035 itu tidak tercantum lagi frasa agama. Setelah menuai protes Kemendikbud pun merevisi draft rumusan PJPN. Namun demikian, hal itu tidak menghapus fakta adanya upaya pengkerdilan agama dalam PJPN. Terlihat jelas pada draft PJPN tersebut tidak memuat frasa agama, yang ada hanya sekedar frasa akhlak mulia dan budaya.
Indonesia sebagai negeri dengan penduduk Muslim terbesar didunia tentu terancam bahaya, jika pendidikannya minim atau bahkan nir agama.
PJPN itu lebih mengarus utamakan aspek pragmatis, yakni sekadar pertimbangan pasar dan ekonomi. Agama tidak mendapatkan perhatian secara semestinya. Misalnya, disebutkan bahwa agama yang menjadi pertimbangan utama penyusunan PJPN itu adalah perubahan teknologi, perubahan sumber-sumber ekonomi Indonesia, kondisi demografi Indonesia, serta kondisi pasar kerja dunia global.
Sungguh sangat disayangkan, dan berbahaya jika hanya fokus mencetak SDM yang unggul secara sains Dan teknologi hanya untuk tuntutan pasar global, namun lemah dari sisi keterikatan pada ajaran agama (Islam). SDM semacam itu justru berpotensi mengancam negeri ini, melalui berbagai perilakunya yang kelak tidak memperhatikan standar agama (Islam) berupa halal dan haram.
Sebagaimana diketahui, dalam sistem pendidikan sekuler sebagaimana saat ini, peran agama (Islam) saat ini seolah dikerdilkan, bahkan seperti disingkirkan. Akibatnya sangat fatal, diantaranya adalah dekadensi moral dikalangan remaja/pelajar semakin parah. Sebabnya tidak lain karena para remaja/pelajar tersebut tidak dibekali bekal agama yang cukup.
Didalam Islam, pendidikan dapat dimaknai sebagai proses manusia menuju kesempurnaan sebagai hamba Allah SWT. Dan di dalam Islam pun ada sosok yang wajib menjadi panutan (role model) yaitu Rasulullah Saw. Allah SWT berfirman:
“Sungguh pada diri Rasulullah Saw itu terdapat suri teladan yang baik (QS al-Ahzab:21).
Keberadaan sosok panutan (role model), inilah yang menjadi salah Saturday ciri pembeda pendidikan Islam demean sistem pendidikan yang lain. Karena itu dalam sistem pendidikan Islam, akidah Islam harus menjadi dasar pemikirannya. Sebab, tujuan intisari dari sistem pendidikan Islam adalah membangun genersi yang berkepribadian Islam. Selain menguasai ilmu-ilmu kehidupan dunia, seperti matematika, sains, teknologi, dan lain-lain.
Hasil belajar (output) pendidikan Islam akan menghasilkan peserta didik yang kokoh keimanannya dan mendalam pemikiran Islamnya (tafaqquh fiddin). Pengaruhnya adalah ketetikatan peserta didik dengan syariah Islam. Dampaknya (impact) adalah terciptanya masyarakat yang bertakwa, yang didalamnya tegak amar ma’ruf nahi mungkar Dan tersebar luasnya dakwah Islam.
Dalam Islam, pemikiran (fikrah) pendidikannya tidak bisa dipisahkan dari metodologi penerapan (thariiqah)-nya, yaitu sistem pemerintahan yang didasarkan pada akidah Islam. Karena itu didalam Islam, penguasa bertanggung jawab penuh atas penyelenggaraan pendidikan warganya. Sebab pendidikan adalah salah satu diantara banyak perkara yang wajib diurus oleh negara. Rasulullah Saw bersabda:
“Imam (kepala negara) adalah pengurus rakyat, dan ia akan dimintai pertanggung jawaban atas rakyatnya (HR al- Bukhari dan Muslim).
Karena itu, Indonesia yang berpenduduk mayoritas Muslim, sudah seharusnya menjadikan sistem Islam menjadi dasar pendidikan, sekaligus mewarnai seluruh kebijakan pendidikan di Tanah Air.
WalLahu a’lam…










