Oleh : Haprianti
Gaya hidup zero food waste merupakan gaya hidup bebas sampah, bertujuan untuk meminimalkan jumlah sampah yang dihasilkan setiap harinya. Diharapkan dapat menjaga sumber daya dan melestarikan alam. Food west sendiri diartikan sebagai membuang makanan yang siap dikonsumsi manusia namun dibuang begitu saja dan akhirnya menumpuk di TPA.
Fakta hari ini, TPA (Tempat Pembuangan Akhir) disetiap daerah di Indonesia selalu overload. Limbah makanan memiliki dampak yang luas, baik secara nasional maupun global. Limbah makanan terjadi diseluruh aspek, mulai dari produksi, dari pertanian, hingga distribusi ke pasar dan konsumen. Makanan yang terbuang menghasilkan metana, gas rumah kaca yang kuat yang berkontribusi terhadap pemanansan global.
Negeriku tercinta, ternyata dalam hal membuang makanan menjadi “juara” nya, bahkan se-ASEAN. Propinsi yang paling banyak membuang makanana adalah Dki Jakarta, Banten, dan Jawa Barat. Jenis makanan yang paling banyak terbuang adalah beras/jagung .Yang merupakan sumber pokok penduduk negeri ini.
Pemerintah setempat membuat program-program untuk menanggulangi permasalahan sampah yakni dengan mewajibkan setiap warga membuat dua lubang cerdas ( LCO) dihalaman rumahnya masing-masing, dengan tujuan untuk mengurangi sampah, khususnya organik.Dan mereka bergabung k bank sampah untuk penanganan sampah organik. Program yang lainnya yaitu memanfaatkan sisa makanan yang masih layak konsumai.
Namun, upaya penanganan sampah makanan tidak cukup dengan penyelesaian asfek hilirnya saja, namun juga harus memperhatikan aspek hulu, yaitu penyebab banyaknya sampah makanan.
Membludaknya sampah makanan ini tidak lepas dari sebuah sistem kapitalisme, sistem ini menggenjot perusahaan prosusen pangan melakukan produksi besar-besaran, demi target perolehan propit yang besar. Inovasi varian produk baru juga terus dilakukan. Padahal nyatanya tidak semua produk yang diproduksi mampu terserap oleh pasar. Akhirnya produk yang tidak terjual menjadi kadaluarsa, dan akhirnya dimusnahkan atau dibuang. Para kapitalis lebih suka pangan tersebut dimusnahkan daripada dikonsumsi oleh warga miskin. Kapitalis memang hanya mementingkan produksi dan mengabaikan distribusi. Bahan dan prodak makanan banyak yang diproduksi, tetapi distribusinya tidak merata sehingga masalah kemiskinan ekstrem tak kunjung berakhir.
Tak hanya makanan kadaluarsa yang dibuang, makanan sisa yang masih layak dikonsumsi pun dibuang, karena tidak laku selama proses penjualan. Sangat miris, ketika disuatu tempat terjadi pemusnahan beras/jagung yang berkutu yang sudah lama menumpuk digudang,susu kadaluarsa, dan makanan kadaluarsa lainnya, ditempat lain banyak anak negeri ini yang mengalami gizi buruk
Padahal, Rasulullah sangat tegas melarang umat Islam untuk membuang-buang makanan dan minuman. Beliau saw. menyatakan agar kita memakan makanan sampai tidak tersisa sedikitpun dipiring, karena keberkahan makanan ada pada batas terakhir pada makanan.
Dalam sistem kapitalisme yang berasaskan sekulariame (memisahkan agama dari kehidupan). Gaya hidup masyarakatnya pun ikut andil menghasilkan sampah makanan. Sistem saat ini memunculkan perilaku masyarakat yang tidak bertanggung jawab terhadap makanan, membuang makanan hingga sampah menumpuk. Para pemimpin juga abai mendidik masyarakat agar menghargai makanan. Karakter masyarakat saat ini ditunjang oleh sisitem pendidikan yang hanya berkutat dengan hal-hal yang beesifat akademis, hingga lalai membentuk kepribadian Islam, yang salah satunya adalah menghargai makanan sebagai rezeki dari Allah Swt.
Ternyata, persolan sampah makananan bukan semata tentang gerakan daur ulang dan aksi sejenisnya, tetapi terkait dengan persepsi terhadap makanan, gaya hidup, sistem ekonomi dan peran pemimpin.
Untuk menyelesaika persoalan sampah makanan dibutuhkan solusi yang tuntas dan menyeluruh dengan peubahan sistem, yaitu dari sisitem kapitalisme menuju sisitem Islam.
Dalam Islam, posisi makanan adalah sebagai rezeki dari Allah Swt. bagi manusia, untuk bisa hidup, berkembang, dan beraktifitas dengan baik. Allah Swt. memerintahkan kita untuk menghargai makanan dan tidak mencelanya. Islam memerintahkan masyarakat untuk bersikap zuhud, salah satunya adalah tidak berlebih-lebihan. Allah Swt. berfirman :
“Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi tidak berlebihan. Sunguh Allah tidak menyuakai orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf [7] : 31)
Islam mengajarkan agar tidak bersikap mubadzir dalam makanan, seorang muslim harus meyakini bahwa makanan yang ia miliki akan ada pertanggung jawabannya diakhirat. Dalam sisitem Islam pemimpin akan menanamkan kepribadian Islam melalui kurikulum kepribadian Islam. Sehingga zuhud menjadi gaya gidup masyarakat, hidup akan terpola untuk makan secukupnya.
Akan selalu mengawasi industri agar tidak membuang-buang makanan. Makanan diproduksi secukupnya sesuai dengan kebutuhan pasar, bila ada pelanggaran akan diberikan sanksi yang tegas.
Dalam proses pendistribusian makanan kepada masyarakat yang lebih membutuhkan akan dilakukan dengan segera , hingga tidak ada lagi masyarakat miskin dan tidak bisa makan. Pada saat yang sama akan menyediakan dana di baitulmal, untuk memastikan tiap-tiap masyarakat bisa mendapatkan makanan yang layak. Lalu akan memfasilitasi warga yang memiliki kelebihan makanan untuk menyedekahkannya. Hal ini pernah dicontohkan oleh Umar bin Khathathab, seorang pemimpin Islam pada saat itu, ketika beliau menolak memakan daging karena masyarakatnya sedang mengalami krisis pangan.
Dengan semua aturan syar’i, yaitu aturan dari Allah Ta’ala sebagai pencipta dan pengatur kehidupan manusia semua persoalan akan mampu diselesaikan dengan tuntas. Termasuk persoalan sisa makanan hari ini.
Wallahu’alam bisshawab











