Oleh: Sumiati
Beberapa waktu lalu di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, para peternak sapi perah dan para pengepul terpaksa membuang susu hasil perahannya. Hal ini terjadi karena pabrik atau industri pengolahan susu (IPS) telah membatasi kuota penerimaan pasokan susu dari para peternak dan pengepul tersebut. Hal ini dilansir dari tempo.co (8/11/2024).
Karena merasa kecewa akhirnya para peternak Susu dan para pengepul membagi-bagikan susu tersebut kepada warga di kawasan Simpang Lima Boyolali Kota secara gratis. Sebanyak 500 liter susu ludes diberikan kepada warga di sekitar lokasi hanya dalam waktu 15 menit. Sebagai bentuk kekecewaannya sekitar 30 peternak dan pengepul susu dari berbagai kecamatan di Kabupaten Boyolali mendatangi Kantor Dinas Peternakan wilayah itu untuk mengadukan permasalahan yang mereka alami.
Yang bikin miris adalah disaat para peternak susu dan pengepul susah mendistribusikan susunya kepada IPS karena pembatasan kuota, IPS malah membuka kran impor susu bubuk. Alasannya adalah karena susu bubuk impor lebih murah bahkan lebih murah dibandingkan dengan market price (harga pasar dunia). Padahal kalau dilihat dari segi kualitas, susu segar yang dihasilkan dari peternak lokal lebih baik dibandingkan dengan susu bubuk impor.
Harapan besar para peternak dan produsen susu lokal kepada pemerintah agar lebih memikirkan nasib mereka dibandingkan harus impor. Menurut salah satu peternak dan pengepul susu lokal, padahal untuk memenuhi kebutuhan susu nasional sebenarnya dapat dipasok oleh para peternak lokal tidak perlu impor. Salah satu koperasi yang ada di Boyolali yang membawahi sekitar 800 peternak dapat memproduksi hingga 10 ton atau 10 ribu liter susu dalam sehari. Dalam waktu dua minggu terakhir koperasi tersebut telah membuang susu sekitar 33 ton atau 33 liter dan kerugian yang harus ditanggung oleh koperasi mencapai ratusan juta rupiah.
Yang lebih miris lagi disaat para peternak dan pengepul kesulitan menyalurkan susunya, tersiar kabar kalau program makan bergizi gratis (MBG) memasok susu dari investor Vietnam sebanyak 1,8 juta ton. Ada juga perusahaan dari Qatar yang siap memproduksi dua juta ton susu pertahun di Indonesia. Tentu ini menjadi peluang bahwa impor adalah solusi ketersediaan susu sekaligus berakibat pada kurangnya serapan dari peternak lokal oleh oleh IPS.
Disaat polemik susu ini mencuat, pemerintah menawarkan solusi pragmatis berupa hilirisasi dan pemberian insentif bagi peternak yang terdampak dari kebijakan impor. Solusi dari pemerintah ini tidak mampu menyelesaikan permasalahan para peternak tersebut. Hilirisasi hanya akan semakin memperkuat para investor untuk menanamkan modalnya serta berkeinginan untuk mendirikan perusahaan di negeri ini. Pemberian insentif pun kalau bea tarif impor susu tidak 0%, tentu tidak akan mudah dalam penerapannya. Justru ini akan berdampak pada berkurangnya keuntungan yang selalu diburu oleh para importir, tentu mereka tidak akan bersedia.
Melihat realitas ini, pemerintah hanya setengah hati dalam menyelesaikan permasalahan ini. Seharusnya pemerintah lebih fokus kepada peningkatan produksi susu nasional bukan membuka kran impor. Hal ini karena pemerintah menerapkan sistem demokrasi kapitalisme yang membebaskan siapa pun ikut berkontribusi yang sejatinya hanya ingin mendapatkan keuntungan semata. Negara dalam kapitalisme selalu berpihak kepada pengusaha dan mengesampingkan kepentingan rakyat.
Ini sangat jauh berbeda dengan sistem Islam dimana negara sangat bertanggung jawab atas kesejahteraan rakyatnya. Negara sebagai rain(pengurus urusan umat) akan memfasilitasi rakyatnya dalam penyerapan susu kepada IPS. Pemerintah juga tidak akan mudah membuka kran impor selama ketersedian di dalam negara masih bisa terpenuhi kecuali kekurangan pasokan baru negara mengimpor itupun akan dibatasi. Dalam pemberdayaan peternakan sapi perah, negara akan menjamin dengan mengakomodasi dan memfasilitasi kawasan yang berpotensi membangun peternakan sapi perah.
Karena susu begitu banyak manfaatnya, serta agar masyarakat menikmatinya, maka negara dalam Islam akan memberikan jaminan kepada para peternak sapi perah, baik dalam penyediaan pakan, kesehatan ternak, infrastruktur serta pengolahan susu dan pendistribusiannya. Wallahu’alam bishshawab
