Oleh : Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd.
(Ketua DPP Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia)
Pakar komunikasi dunia Harold Laswell mengatakan, “Komunikasi dapat membentuk perubahan sikap, peningkatan wawasan, perubahan cara pandang bagi Si Pendengar”. Benarkah ?
Komunikasi adalah hal yang sangat strategis dalam realitas relasi umat manusia. Asbab komunikasi banyak hal bisa dicapai dengan baik. Bahkan sejumlah hal pun bisa gagal karena salah komunikasi.
Pentingkah komunikasi yang efektif? Tentu saja sangat sangat penting. Caranya? Tentu sangat tak mudah. Banyak variabel yang bisa menentukan sukses dan gagalnya sebuah pola komunikasi.
Diantara kiat sukses agar tercipta “Budaya Komunikasi Efektif” terutama di sebuah organisasi, perlu diperhatikan hal berikut. Pertama, pastikan apa yang disampaikan memberi manfaat bagi pendengar.
Pepatah bijak mengataan, “Jika kamu tidak memiliki sesuatu yang baik untuk dikatakan, jangan katakan apa pun.” Pepatah lainnya mengatakan, “Diam adalah emas”. Artinya diam lebih baik daripada berkata yang tidak informatif, afirmatif dan solutif.
Kedua pastikan kita (komunikator) berkomunikasi dengan jelas, simple, intonatif, antusias dan bersahabat. Anggap layan bicara (komunikan) sebagai “kekasih”. Sampaikan informasi penuh cinta.
Ketiga pastikan kita adalah komunikator yang komunikan. Artinya kita adalah pendengar yang baik dan antusias saat orang lain (komunikan) menyampaikan suatu hal. Anggap penting apa pun yang disampaikan orang lain.
Pepatah bijak mengatakan, “Pembicara yang baik adalah pendengar terbaik”. Pastikan kita menjadi bagian dari entitas pendengar yang baik. 1000 kali mendengar, 1 kali berbicara.
Budaya komunikasi yang baik lahir dari budaya mendengar yang baik. Pendengar yang baik lahir dari keingintahuan, pragmatisme/kepentingan, plus Si Komunikator yang antusias.
Mengapa ghibah dan gosip selalu menarik ? Diantaranya karena hal di atas. Si Komunikator antusias dan komunikan penasaran. Pendengar menjadi fokus karena ada hal penting. Ada “pelibatan” hati, rasa ingin tahu.
Ungkapan “Perlakukan orang lain sebagaimana Ia ingin diperlakukan”. Ungkapan ini pun berlaku pada budaya komunikasi. Perlakukan orang lain/pendengar dengan sangat terhormat dan pahami keinginannya.
Lama bicara tidak lebih penting dari photo bersama. Pidato tidak lebih penting dari photo photo. Budaya komunikasi efektif bisa lahir dari komunikasi yang simple, jelas, afirmatif dan memperlakukan pendengar sebagaimana Ia ingin diperlakukan.
Komunikasi adalah kunci untuk membuka ruang kolaborasi dan membangun kebersamaan atau komitmen. Pastikan komunikasi itu menyenangkan dan memberi sesuatu pada entitas komunikan.
Komunikasi terbaik adalah “memberi” bukan “meminta”. Artinya informasi apa yang mampu memberi apresiasi, motivasi, inspirasi dan manfaat bagi Si Pendengar.
Pastikan kita (komunkator) adalah pribadi berintegritas dan menarik. Orang Sunda mengatakan “Hade gogog, hade tagog”. Bicaranya ok, penampilan ok. Apa yang didengar indah di telinga, pembicara pun indah di mata.
Quote lebay “Wanita hanya butuh pria yang mampu mendengarkan curhat dan memberi kata kata indah di telinganya”. Ini komunikasi romantik yang dibutuhkan wanita. Faktanya, publik pun demikian.











