OPINI/Artikel

Kemerdekaan Palestina Tanggungjawab Bersama

adminsigiku.com
×

Kemerdekaan Palestina Tanggungjawab Bersama

Sebarkan artikel ini

Oleh : Siti saadah (Ibu Rumah Tangga)

Dengan berpegang pada prinsip antipenjajahan, anti penindasan, dan solidaritas global, Indonesia terus memperjuangkan hak-hak rakyat Palestina di tengah situasi yang makin memburuk akibat konflik.

Dalam pidatonya Presiden Prabowo Subianto mengatakan bahwa seluruh negara-negara muslim harus terus membela Palestina, di sampaikan dalam acara forum Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke -11 Developing Eight Countries (D8) di Kairo, Mesir, kamis 19 Desember 2024. Negara-negara muslim di dunia belum maksimal memberikan sikap yang konkret untuk melawan ketidakadilan penegakkan HAM terhadap Palestina sebagai salah satu negara muslim di dunia.

Kalau hanya dalam pernyataan dukungan saja tidak akan banyak membawa perubahan atas Palestina. Oleh karena itu, Yusak meyakini pernyataan Prabowa dalam KTT ke-11 (D8) merupakan imbawan untuk bersatunya kaum Muslim untuk memusnahkan sikap ketidakadilan negara adidaya yang justru melanggar HAM terhadap warga Palestina. Indonesia sendiri menegaskan dukungan penuh terhadap perjuangan rakyat Palestina untuk meraih kemerdekaan.

Di satu sisi, tidak bersatunya visi para pemimpin negeri-negeri kaum muslim terkait pembebasan Palestina dari entitas Zionis Yahudi adalah satu masalah. Di sisi lain, sikap Indonesia dalam politik luar negeri yang bebas-aktif dan nonblok, seraya tetap menjalani persahabatan dengan semua negara pun butuh peninjauan ulang.

Tidak dimungkiri, Palestina merupakan isu global yang kerap dijadikan pemimpin Islam dunia untuk menarik simpati kaum muslim. Para pemimpin Islam berupaya mengesankan gaya kepemimpinan populis melalui retorika, ucapan simpati, dan semacamnya terhadap krisis yang menimpa rakyat Palestina. Namun sayang, hingga saat ini belum tampak sikap tegas mereka untuk melakukan aksi nyata mengusir entitas Yahudi dari bumi Palestina.

Hasilnya pun masih belum tampak terlihat karena sampai saat ini belum ada yang mampu membebakan Palestina. Oleh karena itu, seruan persatuan negeri-negeri muslim seharusnya diiringi tindakan nyata yang menunjukkan kapasitas kerja level negara dan pemimpin dunia.

Para pemimpin muslim sudah seharusnya mengerahkan pasukan militernya, bukan sekedar melontarkan kecaman atau pernyataan prihatin atas krisis di sana. Setiap harinya rakyat Palestina mengalami situasi peperangan yang tidak jelas kapan usainya. Satu-satunya yang bisa menghentikan arogansi Yahudi hanyalah dengan jihad fii sabilillah yang diinisiasi oleh negeri-negeri muslim secara global. Inilah yang akan menggetarkan musuh. Jelas, pengiriman pasukan militer sesungguhnya urgent dan sangat dibutuhkan oleh Palestina.

Perkara mendasar kaum muslim yang saat ini belum bergerak mengerahkan militernya untuk membebaskan Palestina adalah karena adanya perbedaan kepentingan dan ketiadaan visi yang sama. Demikian juga sikap politis negeri-negeri muslim, termasuk Indonesia yang cenderung mengikuti narasi “Perdamaian”dan” Peperangan “sesuai perspektif barat.

Indonesia ataupun negeri-negeri muslim lainnya pada hakikatnya sama. Sama-sama terjajah oleh narasi Barat dalam mencari solusi atas Palestina. Yakni menjadikan perdamaian dunia sebagai jargonnya. Sedangkan deklarasi perdamaian dunia adalah yang nyata-nyata memasung negeri-negeri muslim untuk menolong saudara seakidah mereka di Palestina.

Negeri-negeri muslim sejatinya adalah satu kesatuan wilayah dalam naungan Khilafah Islamiah. Penjajah kafir yang sangat berhasrat untuk meruntuhkan peradaban Islam saat itu berupaya untuk melemahkan kaum muslim secara internal. Mereka menghembuskan ide nasionalisme, melakukan politik belah bambu di antara umat Islam melalui isu Pan-Islamisme dam Pan-Arabisme, hingga umat lupa dengan persatuan akidah.

Untuk melawan perang pemikiran menyikapi opini sesat Barat, serta mengungkap cara pemimpin negeri-negeri muslim hari ini dalam memberikan loyalitasnya kepada Barat. Dibutuhkan kerja politis yang melibatkan seluruh elemen umat Islam.

Kondisi ini sejatinya sama dengan masa dakwah Rasulullah saw. Yang mengawali langkahnya dengan upaya penyadaran, serta meletakkan dasar pemikiran di kalangan Arab jahiliyah pada waktu itu sehingga prinsip dasar Islam teguh dan kukuh pada diri umat Islam. Pengakuan pada konsep-konsep Islam yang Rasulullah saw dakwahkan ini lantas terimplementasi pada upaya untuk menerapkannya dalam konteks negara.

Saat itu Rasulullah saw dan para sahabat menghimpun dalam kelompok dakwah yang senantiasa membenturkan pemahaman Islam yang shahih dengan kebiasaan Arab jahiliyah yang menyembah berhala. Metode dakwah yang Rasulullah saw lakukan ini semestinya dapat diadopsi umat Islam untuk melakukan gerak-gerak terarah dalam satu kelompok dakwah (kutlah jama’i) dan melakukan penyadaran akan pentingnya persatuan umat Islam dan berjuang secara politis sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah saw.

Melalui kelompok dakwah ideologis ini pula umat akan bergerak secara terorganisir dan memotivasi para generasi muslim di berbagai wilayah untuk berjuang bersama membebaskan satu per satu belenggu nation state dan membebaskan wilayah mereka dari cengkraman kapitalisme.

Ketika Islam dan umat Islam kembali menggantikan peradaban kelam yang sangat hegemonik hari ini, maka keberkahan Islam akan hadir. Islam dan syariatnya akan menjadi rahmat yang hakiki bagi seluruh alam.

Wallahu’alam bish-shawwab