OPINI/Artikel

Tak Viral Maka Tak Sayang

adminsigiku.com
×

Tak Viral Maka Tak Sayang

Sebarkan artikel ini

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)

Ungkapan “Tak Kenal Maka Tak Sayang” nampaknya mulai tergeser oleh ungkapan “Tak Viral Maka Tak Sayang”. Itulah pergeseran diksi, istilah dan fenomena.

Dahoeloe, orang saling kenal karena ketemu secara fisik. Bertemu fisik, ada komunikasi dan ada kontak. Kini zaman berubah. Tanpa harus bertemu secara fisik, orang bisa dikenali.

Ada ungkapan menggelitik mengatakan “Ideologi kalah kuat sama viralogi”. Artinya, segala sesuatu yang viral di zaman ini sangat mempengaruhi publik, dibanding ideologi.

Orang bisa jad tak peduli dengan ideologi, bahkan agama. Namun semua orang seolah sangat peduli pada viralogi. Sesuatu yang viral, lebih menarik dari apa pun saat ini.

Ungkapan, “Viralkan!”. Dianggap lebih kuat dari ungkapan “Do’akan!”. Viralisasi atau viralogi menjadi hal melekat pada masyarakat kita saat ini, terutama publik netizen.

Ungkapan dahulu mengatakan “Kedaulatan ada ditangan rakyat”. Ungkapan ini bergeser walau agak identik menjadi “Kedaulatan ada ditangan netizen”.

Bisa jadi “hukum” tertingggi saat ini dan masa depan adalah viralogi. Bila ada soalan kehidupan, viralkan maka akan cepat selesai.

Tak viral maka tak sayang. Tak viral maka tak selesai. Tak viral maka sepi sepi saja. Tak viral maka tak punya rezeki. Viralogi, kehidupan yang viral menjadi bagian dari masyarakat kekinian.

Untuk menjadi pesohor di zaman ini, tak butuh televisi, radio dan media cetak. Jadilah manusia kreatif, produktif, menarik, unik, aneh, otentik dan viral di dunia medsos.

Jumlah like, subscribe dan komen identik jumlah rezeki dan viralogi seseorang. Zaman berubah tak bisa ditolak. Adaptasi atau teralienasi.