OPINI/Artikel

Efektifkah Seruan Jihad Para Ulama dalam Membela Gaza?

adminsigiku.com
×

Efektifkah Seruan Jihad Para Ulama dalam Membela Gaza?

Sebarkan artikel ini

Oleh : Nia Umma Zhafran (Aktivis Muslimah)

Setelah hampir 1.5 tahun terjadi genosida di Gaza, akhirnya para ulama internasional bersuara menyerukan jihad untuk membela Gaza. Dilansir dari Merdeka.com (05/04/2025), sejumlah ulama muslim terkemuka baru-baru ini mengeluarkan fatwa yang menyerukan jihad melawan Israel.

Fatwa yang dikeluarkan oleh International Union of Muslim Scholars (IUMS) ini menyerukan kepada semua negara muslim untuk melakukan intervensi militer, ekonomi, dan politik guna menghentikan apa yang mereka sebut sebagai genosida dan penghancuran total di Gaza. Dimana tindakan Israel terhadap warga Palestina ini telah melanggar hak asasi manusia dan prinsip-prinsip kemanusiaan.

Seruan Ulama Internasional terkait jihad ini merupakan respon dari semakin brutalnya Zionis di Gaza dan juga suatu berbagai macam kegagalan dari ikhtiar umat dalam menolong kaum muslimin di sana, seperti upaya demo, boikot, bantuan logistik, dan lain-lain.

Ditengah diamnya para penguasa muslim, dan ketakberdayaan umat Islam selama ini, menjadi suatu keharusan para ulama menjadi garda terdepan dalam perjuangan dan pembelaan terhadap muslim Gaza-Palestina. Dengan ketinggian ilmu dan ketakwaannya, mereka mampu tuk terus mengingatkan umat, juga berani menghadapi para penguasa Islam agar mau mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya untuk mengusir penjajah di bumi Palestina.

Mengingat masalah Palestina adalah kehadiran penjajah Zionis dengan pasukan militernya yang didukung secara penuh oleh kekuatan negara adidaya (AS dan Eropa), maka seruan jihad ini merupakan langkah yang tepat. Namun, apakah seruan ini akan efektif jika “hanya” berupa deklarasi atau fatwa?

Jika “hanya” berupa fatwa, tentu tidak akan efektif, apalagi fatwa tidak memiliki kekuatan mengikat. Padahal kekuatan militer (pasukan dan senjatanya) ada di tangan para penguasa yang selama ini hanya menyeru namun tidak mengirimkan pasukan. Terlebih jihad defensif selama ini sudah dilakukan oleh kaum muslimin di Palestina di bawah komando sebuah kelompok bersenjata, yakni Hamas.

Upaya membebaskan Palestina dengan jihad sejatinya butuh kekuatan yang sepadan. Kekuatan itu adalah kehadiran sebuah negara adidaya yang dibangun di atas kesadaran ideologis umat tentang kewajiban menerapkan seluruh syariat Islam dan kemestian mereka bersatu di bawah satu kepemimpinan Islam. Kepemimpinan seperti ini tidak lain adalah Khilafah dengan pemimpinnya yang disebut Khalifah.

Hanya saja, isu tentang kepemimpinan Islam (Khilafah) saat ini belum menjadi opini umum di tengah mayoritas umat, melainkan baru sekadar wacana di tengah berbagai fitnah dan upaya-upaya yang dilakukan Barat untuk menghalangi penegakannya. Padahal, Khilafah Islam hanya bisa tegak jika ada dukungan mayoritas umat dan para pemilik kekuatan sebagai buah dari proses dakwah.

Dengan demikian menghadirkan kepemimpinan seperti ini seharusnya menjadi agenda utama umat Islam, khususnya gerakan-gerakan dakwah yang konsern ingin menolong muslim Gaza-Palestina. Kepemimpinan yang disebut sebagai Khilafah hanya bisa tegak atas dukungan mayoritas umat sebagai buah dari proses penyadaran ideologis yang dilakukan oleh gerakan Islam yang tulus dan lurus berjuang semata demi Islam.

Karena, umat adalah pemilik hakiki kekuasaan. Merekalah yang akan mampu memaksa penguasa yang ada untuk melakukan apa yang mereka inginkan atau menyerahkan kepada yang lain jika penguasa melakukan apa yang berbeda dari apa yang umat inginkan.

Urusan penegakkan Khilafah sejatinya menyangkut hidup matinya umat, tidak hanya untuk problem Palestina. Maka menjadi kewajiban kita semua untuk terlibat dalam memperjuangkannya. Seruan jihad kepada tentara muslim terus dikumandangkan seiring juga seruan untuk menegakkan Khilafah

WalLaahu a’lam bish-showwab