Oleh: Asep Tapip Yani
(Dosen Pascasarjana UMIBA Jakarta)
Setiap 20 Mei, kita memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Momentum ini sering diwarnai upacara dan seremoni, tetapi maknanya sering kali luput dari renungan mendalam. Padahal, kebangkitan nasional bukan sekadar urusan sejarah, tetapi tentang kesadaran kolektif untuk terus bergerak dari keterpurukan menuju kejayaan. Kebangkitan nasional bisa dimaknai sebagai proses transformasi kolektif: dari keterpurukan menuju kemajuan, dari keterjajahan menuju kedaulatan, dari ketergantungan menuju kemandirian.
Namun ada pertanyaan penting yang tetap relevan: kita sedang bangkit dari apa, dan hendak menuju ke mana?
Bangkit dari Penjajahan, Kemiskinan, dan Krisis Nilai
Kebangkitan nasional lahir dari penderitaan panjang akibat penjajahan. Bangsa ini terfragmentasi oleh politik adu domba, diinjak harga dirinya, dicegah dari pendidikan, dan dieksploitasi ekonominya. Namun kebangkitan bukan hanya soal lepas dari kolonialisme fisik, melainkan juga kebangkitan jiwa, akal, dan harga diri bangsa.
Secara historis, kebangkitan nasional ditandai oleh berdirinya Boedi Oetomo pada 1908. Organisasi ini bukan gerakan bersenjata, tapi simbol kesadaran baru: bahwa bangsa ini harus bersatu, berpikir, dan bergerak bersama untuk melepaskan diri dari cengkeraman penjajahan. Namun makna “penjajahan” tak berhenti pada kolonialisme Belanda dan bangsa penjajah lainnya.
Kini, kita menghadapi bentuk-bentuk penjajahan baru:
- Penjajahan Ekonomi dan Sumber Daya Alam
Secara historis, bangsa ini dijajah selama lebih dari 3 abad. Kebangkitan berarti bangkit dari inferioritas, keterbelakangan, dan dominasi bangsa asing. Penjajahan gaya baru melalui ketergantungan ekonomi, utang luar negeri, dan dominasi asing atas Sumber Daya Alam strategis. Banyak kekayaan alam dikuasai korporasi asing atau segelintir elite dalam negeri. Rakyat yang seharusnya menjadi pemilik sah justru hanya jadi penonton, bahkan korban. - Ketergantungan dan Mental Inlander
Mental inlander, yang merasa produk luar lebih unggul daripada karya anak bangsa sendiri. Kita masih cenderung melihat luar negeri sebagai superior. Produk luar dianggap lebih hebat, sementara karya anak bangsa kerap dicibir. Bangkit dari sikap rendah diri, selalu mengandalkan luar negeri, tidak percaya diri sebagai bangsa besar. - Kesenjangan Sosial dan Pendidikan
Keterbatasan akses pendidikan dan ekonomi yang timpang adalah warisan kolonial yang masih terasa. Bangkit berarti memutus rantai kemiskinan dan membuka akses ilmu pengetahuan secara luas. Akses terhadap pendidikan dan kesehatan yang bermutu belum merata. Masih banyak anak Indonesia belajar di ruang kelas rusak atau tanpa guru yang memadai. Kemiskinan struktural yang membuat anak-anak Indonesia tidak punya akses merata terhadap pendidikan berkualitas. - Krisis Moral dan Kepemimpinan
Krisis nilai; saat korupsi, kebohongan publik, dan kejahatan elite dianggap hal biasa. Korupsi merajalela, etika publik runtuh, dan banyak pemimpin lebih sibuk membangun pencitraan daripada peradaban. Bangkit dari krisis moral, ketimpangan sosial, serta kehilangan arah dan visi sebagai bangsa merdeka.
Bangkit berarti keluar dari semua jebakan ini, dari ketertindasan yang kasat mata maupun yang terselubung. Bangkit berarti mengubah nasib sendiri, bukan menunggu keajaiban.
Kita sedang bangkit dari “penjajahan baru” yang bentuknya tidak selalu kasat mata: kesenjangan sosial yang kian lebar, polarisasi politik yang membelah rakyat, ketergantungan teknologi tanpa kedaulatan digital, hingga budaya instan dan hedonistik yang meracuni generasi muda.
Bangkit ke Mana?
Kebangkitan harus punya arah. Tanpa visi, kebangkitan hanya akan berputar-putar. Maka pertanyaan selanjutnya adalah: bangkit untuk menuju ke mana?
1. Menuju Kedaulatan Sejati
Bangsa yang bangkit harus berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian dalam budaya. Tidak boleh lagi tunduk pada kepentingan asing, elite rakus, atau sistem global yang menindas. Kita tak boleh terus-menerus menggantungkan diri pada utang luar negeri, pada investor asing, atau pada ide-ide impor yang tak kontekstual. Secara politik; merdeka dalam menentukan nasib sendiri, tanpa intervensi asing. Secara ekonomi; berdikari, tidak tergantung pada utang dan impor. Secara budaya; menghargai kearifan lokal dan tidak inferior terhadap budaya global. Kedaulatan juga berarti berani berkata tidak pada proyek atau kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat. Ini soal martabat bangsa, bung!
2. Menuju Keadilan Sosial
Pasal 33 UUD 1945 harus dijalankan sungguh-sungguh: bumi, air, dan kekayaan alam untuk kemakmuran rakyat, bukan korporasi asing atau segelintir konglomerat. Bangsa yang bangkit tidak boleh membiarkan anak-anak mati gizi, buruh tertindas, dan petani digusur atas nama investasi.
Pasal 33 dan 34 UUD 1945 bicara soal kesejahteraan dan jaminan sosial bagi seluruh rakyat. Tapi ketimpangan antara kota dan desa, pusat dan daerah, si kaya dan si miskin, justru makin menganga. Mewujudkan Pasal 33 dan 34 UUD 1945, menutup jurang antara kaya dan miskin, pusat dan daerah, kota dan desa.
Kebangkitan sejati harus memutus rantai ketimpangan. Keadilan tidak boleh hanya menjadi jargon.
3. Menuju Keunggulan IPTEK dan Inovasi
Negara maju tak bisa dibangun tanpa ilmu pengetahuan. Kita harus mencetak ilmuwan, teknokrat, dan inovator. Jangan sampai bonus demografi malah berubah menjadi beban karena generasi mudanya tidak dipersiapkan.
Bangkit berarti berinvestasi pada pendidikan bermutu, riset, dan inovasi. Negara yang bangkit tak hanya menjadi pasar, tapi juga produsen ilmu, teknologi, dan budaya. Kita harus mencetak saintis, teknokrat, pemikir, dan kreator masa depan.
Bangsa yang bangkit harus menjadi produsen ide, bukan sekadar konsumen tren global. Bangkit menuju bangsa pembelajar dan pencipta, bukan sekadar pengguna teknologi.
4. Menuju Peradaban yang Bermartabat
Kebangkitan sejati bukan sekadar pertumbuhan ekonomi, tapi kebangkitan nilai. Indonesia harus menjadi bangsa yang menjunjung kejujuran, empati, gotong royong, dan integritas. Tanpa etika publik, kemajuan hanya akan melahirkan kehancuran.
Pembangunan tanpa moral hanya akan menghasilkan bangsa yang hampa. Kita perlu membangun karakter, integritas, dan etika publik. Hanya bangsa yang beradab yang bisa menjadi panutan dunia.
Membangun bangsa yang beradab, bukan sekadar maju secara material, tapi juga bermartabat secara moral. Kebangkitan harus menyentuh jiwa bangsa, bukan hanya tubuhnya.
- Menjadi Pemimpin di Dunia yang Terpecah
Indonesia bisa tampil sebagai kekuatan moral global, juru damai dunia, penyokong solidaritas global, dan suara negara-negara berkembang. Bukan pengekor, tapi pelopor.
Indonesia sebagai poros maritim dunia, penengah konflik internasional, penyumbang solusi perubahan iklim, dan pusat peradaban dunia.
Bangkit Itu Proses, Bukan Seremoni
Kebangkitan bukan sekadar mengenang sejarah atau menggelar upacara tahunan. Ia harus menjadi proyek kolektif jangka panjang. Butuh kemauan politik, kepemimpinan visioner, dan partisipasi rakyat. Butuh reformasi struktural, bukan hanya kosmetik. Butuh revolusi mental yang nyata, bukan slogan belaka.
Bangkit juga berarti melawan lupa. Bahwa bangsa ini dibangun dengan darah dan air mata. Jangan biarkan pengkhianatan sejarah terjadi lagi. Jangan biarkan cita-cita para pendiri bangsa dikorupsi oleh elite yang bermental pedagang dan oportunis.
Kebangkitan sebagai Proyek Kolektif
Kebangkitan nasional bukan urusan pemerintah semata. Ini adalah proyek kolektif seluruh rakyat. Setiap warga negara punya peran: guru, petani, pelajar, pengusaha, aktivis, hingga pejabat. Semua harus merasa terlibat.
Kita juga perlu pemimpin yang bukan hanya pintar bicara, tapi juga mampu memberi teladan. Pemimpin yang tidak memperalat sejarah untuk kekuasaan, tapi yang menyalakan obor semangat kolektif untuk masa depan.
Bangkit bukan berarti selalu menang. Tapi selalu mencoba berdiri kembali. Seperti kata Bung Karno: “Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan sejarahnya.” Tapi jangan berhenti di sejarah. Kita harus mencipta sejarah baru.
Kebangkitan sebagai Jalan Panjang nan Terjal
Bangsa yang besar bukan bangsa yang tak pernah jatuh,
Tapi yang selalu mampu bangkit, meski berkali-kali roboh.
Kebangkitan bukan soal tanggal bersejarah,
Tapi tekad yang terus menyala dalam sejarah yang kita cipta bersama.
Hari ini, dunia sedang menghadapi tantangan baru: perubahan iklim, revolusi digital, polarisasi global. Indonesia tidak boleh hanya menonton. Kita harus ambil bagian, menjadi kekuatan moral dan spiritual di tengah kekacauan global.
Kebangkitan Nasional bukan hanya milik masa lalu. Ia adalah panggilan untuk masa kini dan masa depan. Maka jangan biarkan kebangkitan tinggal sebagai slogan. Jadikan ia gerak nyata—dalam pikiran, hati, dan tindakan kita sehari-hari.
Di tengah tantangan global, krisis iklim, ketegangan geopolitik, dan revolusi digital, Indonesia punya peluang besar untuk bangkit dan memimpin. Tapi semua itu hanya akan terjadi jika kita bersatu, belajar dari sejarah, dan berani menentukan arah sendiri. Merdeka bukan akhir. Kebangkitan adalah jalan. Kebangkitan adalah awal dari semua kemungkinan.
https://www.koransinarpagijuara.com/2025/05/07/koran-tarbiyah-santri/











