OPINI/Artikel

Manunggaling Semesta

adminsigiku.com
×

Manunggaling Semesta

Sebarkan artikel ini

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)

Bila ada orang ditendang kuda, maka Ia akan emosi pada Sang Kuda. Ia akan menganggap Sang Kuda telah melukainya. Ia tidak pernah marah pada kaki kuda. Faktanya kaki kuda hanya digerakan oleh Sang Kuda.

Nah mengapa ketika kita dikhianati, difitnah, diserang atau dibuli, kita marah pada orang yang melakukannya. Ini persis dengan menyalahkan kaki kuda. Mengapa? Karena manusia adalah bagian dari kaki semesta.

Sahabat pembaca dimana pun berada. Jangan pernah kita terlalu menghakimi, marah, kecewa dan dendam pada seseorang karena Ia telah melakukan hal yang buruk pada kita. Ia adalah “kaki kuda” bagian dari kuda semesta.

Memberi maaf, memaknai mengapa seseorang atau sekelompok orang melakukan hal buruk pada kita. Jangan jangan ada pesan semesta yang harus kita terjemahkan untuk transformasi perbaikan diri kita.

Usahakan kita tidak melihat orang per orang. Pastikan setiap orang dan sekelompok orang adalah bagian dari “body semesta”. Kita hanya merespon pada semesta saja. Seseorang atau sekelompok orang hanyalah pembawa pesan semesta yang Allah perintahkan.

Hal yang harus kita lakukan adalah bersahabat, harmonis, berpikir dan berkeyakinan positif pada semesta. Semesta adalah makhluk yang Allah lekatkan kepada kita. Ia hanya merespon sesuai respon kita.

Semesta adalah cermin besar. Apa yang akan terjadi pada kita, terkait apa yang sudah kita lakukan. Mengapa paragraf di atas Sang Kuda menendang? Karena yang ditendang berada di belakang kuda. Bila di depan pasti tidak ditendang.

Kita sebagai manusia setidaknya manunggal bersama semesta. Dimana bumi dipijak, disitu langit dijungjung. Dalam ilmu sosial setiap manusia wajib menjadi bagian dari realitas sosial, dimana pun.

Alam semesta ini adalah realitas yang tidak bisa kita hindari dengan segala hukum hukumnya. Makanya Allah, Tuhan yang maha love memerintahkan kita untuk mencintai sesama dan lingkungan. Agar hidup kita pun dicintai semesta, yakni sesama dan alam.

Mari belajar menangkap pesan Tuhan dibalik dinamika respon semesta yang menghampiri atau menimpa kita. Yakini dan pastikan mentalitas kita selalu positif dan reflektif, cerdas menangkap makna.