Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)
Adalah KH Buya Syakur seorang ulama yang melintasi 20 tahun belajar di negara negara Arab. Di Irak tahun 1971, Syiria 1973, Libanon, Mesir, Libya, Tunisia, Marokok, Aljazair dan sejumlah negara lainnya.
Sosok KH Buya Syakur adalah cendikiawan yang kecendikiawanannya sejajar dengan sahabat sahabatnya yakni Gus Dur, Cak Nur. Literasi dan kedalaman pengetahuan agama di atas rata rata ulama yang ada di Indonesia.
Banyak orang yang kaget dengan pernyataan dan ceramah ceramah KH Buya Syakur, bahkan sejumlah orang menyebutnya sesat. Bagi KH Buya Syakur menanggapi pernyataan miring sejumlah orang direspon santai.
Respon orang lain adalah respon pribadi setiap manusia dan punya “kebebasan” menyimpulkan apa yang dicernanya. KH Buya Syakur menjelaskan bahwa setiap orang punya volume literasi yang tak sama. Apa yang disampaikan orang, direspon orang terkoneksi dengan literasi dirinya.
Diantara pernyataan menggelitiknya adalah tentang entitas Habaib dan kaum mukibin. Ia mengatakan *di sejumlah negara Arab tidak ada orang yang dipanggil habib, langka panggilan bab bib bab bib itu* demikian pernyataannya.
Bagi KH Buya Syakur hanya di Indonesia panggilan habib populer. Bahkan di Malayasia pun tidak ada. Mengapa demikian? Ini lah dinamika masyarakat kita. Masyarakat yang mudah terkagum kagum pada kisah kisah imajiner.
Kisah rantai dari langit, tiang bisa bicara, padamnya api neraka, bahkan kisah Bidadari yang memfasilitasi kemesuman diri para pria. Masyarakat kita unik adan membutuhkan waktu yang panjang untuk terus belajar.
Rektor UIN Palu, Prof. Dr. KH Lukman S. Thahir, M.Ag., mengatakan bahwa umat muslim Indonesia kalau ingin lebih baik harus punya pengetahuan multidisipliner. Kalau hanya tahu satu bidang ilmu akan maslah.
Terutama ilmu sejarah, sosiologi, antropologi harus jadi pengetahuan dasar umat beragama. Mengapa? Agar apa yang dipahami tidak halu dan anakronistik dengan fakta sebenarnya. Kisah tanpa fakta adalah halu.
Makam – makam palsu, nasab palsu dan barang palsu masih mudah mempengaruhui masyarakat Indonesia Bahkan entitas lulusan SLTA dan sarjana pun masih jauh dari literet. Mari kita terus belajar sebagaimana belajarnya KH Buya Syakur melintasi 20 negara, dari Arab sampai Barat.











