Oleh: Asep Tapip Yani
Dosen UMIBA Jakarta
“Penjajah Tanpa Seragam”
Ia tak datang dengan senjata
tapi dengan senyuman dan hoaks di layar kita.
Ia tak merampas tanah
tapi mencuri nalar dan logika pelan-pelan.
Kita pikir kita merdeka,
padahal kita hanya lebih bebas memilih kebodohan.
Dan jika kita diam,
mungkin cucu-cucu kita akan dibesarkan
oleh algoritma digital, bukan akal budi dan nurani.
“Kebodohan adalah musuh abadi kemerdekaan.”— Thomas Jefferson
“Orang bodoh tidak tahu bahwa dia bodoh. Orang berilmu tahu betapa sedikit yang dia tahu.”— Socrates
“Di dunia yang makin kompleks, kebodohan adalah senjata paling ampuh untuk menghancurkan masa depan.”— Yuval Noah Harari
Bodoh Bukan Berarti Tak Sekolah
Bung Karno pernah mengatakan: “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah. Tapi perjuangan kalian akan lebih sulit karena melawan bangsa sendiri yang tidak mengerti.”
Kebodohan tidak selalu lahir dari ketidaksesuaian akses terhadap pendidikan formal. Ia juga bisa lahir di tengah-tengah mereka yang sarjana tapi kehilangan daya berpikir kritis. Ia hidup di ruang-ruang diskusi publik yang lebih banyak diisi opini tanpa data, emosi tanpa argumentasi.
Hari ini, banyak orang yang merasa cukup tahu hanya karena membaca satu utas media sosial atau menonton satu video pendek. Kebodohan baru yang membahayakan bukanlah ketidaktahuan, melainkan ilusi pengetahuan merasa tahu padahal tidak tahu apa-apa.
Struktur yang Tak Membebaskan
Sistem pendidikan kita selama bertahun-tahun cenderung menghafal, bukan membebaskan. Membentuk ketundukan, bukan keberanian berpikir. Bahkan sekolah dan universitas sering kali jadi mesin pencetak seragam kognitif: sama cara berpikir, sama cara menjawab, dan sama-sama takut salah.
Kurikulum yang terlalu padat, guru yang dibebani administrasi, dan masyarakat yang mengukur keberhasilan anak dari nilai ujian. Semua itu bagian dari sistem yang diam-diam merawat kebodohan.
Budaya Anti-Kritis dan Kultus Kepatuhan
Di banyak ruang sosial kita, berpikir kritis sering dianggap membangkang. Bertanya dianggap mengganggu. Mengkritik dianggap tidak tahu diri. Maka lahirlah masyarakat yang malas bertanya, dan takut berbeda pendapat.
Kita dibesarkan dalam budaya “jangan terlalu pintar, nanti disingkirkan”. Dalam dunia seperti ini, pengetahuan dianggap ancaman. Maka tak heran jika hoaks lebih cepat menyebar daripada jurnal ilmiah.
Politik yang Diuntungkan oleh Kebodohan
Kebodohan adalah ladang subur bagi populisme murahan. Di sanalah politik identitas dan politik uang tumbuh subur. Pemilih yang tidak kritis mudah diarahkan oleh janji palsu dan simbol-simbol semu.
Politisi yang takut pada rakyat cerdas akan memilih mempertahankan kebodohan. Mereka tahu, rakyat bodoh adalah jaminan kekuasaan yang stabil. Maka program pencerdasan tak benar-benar dijalankan, hanya dislogankan.
Melawan dari Diri Sendiri: Literasi, Nalar, dan Keberanian
Melawan kebodohan bukan hanya tugas guru, tapi setiap warga yang sadar. Gerakan literasi, diskusi publik yang sehat, dan keberanian mempertanyakan “kebenaran” yang mapan adalah langkah awal.
Kita harus kembali menyalakan semangat belajar sepanjang hayat. Bukan belajar demi nilai, tapi demi merdeka berpikir. Bukan belajar demi gelar, tapi demi kearifan. Dan terutama, kita harus belajar bahwa tidak tahu bukan aib, tapi membela ketidaktahuan adalah kejahatan intelektual.
Jangan Takut Pintar
Bangsa ini tidak hanya perlu orang-orang cerdas secara akademis, tapi juga cerdas secara moral dan sosial. Kita tidak butuh banyak gelar, kita butuh banyak kesadaran.
“Melawan kebodohan adalah bentuk tertinggi dari nasionalisme.”
Jika hari ini kita membiarkan kebodohan terus bercokol, maka besok kita akan dipimpin oleh mereka yang pandai berslogan, tapi tak mampu berpikir. Dan saat itu tiba, jangan salahkan siapa pun, karena kita telah membiarkannya. Rasa-rasanya ini sedang berlangsung, ya. Jangan-jangan kita sedang berada dalam fase itu, ya.

