OPINI/Artikel

Perdagangan Bayi, Buruknya Perlindungan Anak Dalam Sistem Kapitalisme

adminsigiku.com
×

Perdagangan Bayi, Buruknya Perlindungan Anak Dalam Sistem Kapitalisme

Sebarkan artikel ini

Oleh: Sumiati

Baru-baru ini Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jawa Barat mengungkap kasus penjualan bayi. Penjualan bayi tersebut bahkan sampai lintas negara yaitu ke Singapura. Bahkan beberapa bayi dipesan semenjak masih ada di dalam kandungan. Sampai biaya persalinan pun ditanggung oleh si pembeli. Diketahui bahwa mayoritas bayi yang dijual itu berasal dari Kabupaten Bandung. Dilansir dari Tribunjabar.id (Kamis, 17/7/2025).

Guna mendukung penyelidikan dan perlindungan terhadap bayi-bayi tersebut pihak DP2KBP3A berkoordinasi dengan Polresta Bandung. Berdasarkan pernyataan kepala DP2KBP3A Kabupaten Bandung, Muhammad Hairun, aspek perlindungan terhadap anak tidak hanya setelah anak lahir ke dunia tapi semenjak masih dalam kandungan. Keluarga memiliki peran penting dalam mencegah terjadinya kekerasan maupun eksploitasi terhadap anak. Kasus penjualan bayi ini merupakan adanya persoalan yang serius di tingkat keluarga.

Himpitan ekonomi menjadi sumber persoalan ini menjadikan akal sehat dan naluri keibuannya hilang. Biaya melahirkan yang mahal membuat seorang ibu nekat untuk menjual anaknya. Tidak ada rasa khawatir akan kehilangan buah hatinya. Hal ini juga disebabkan tidak adanya sistem pendukung seperti keberadaan suami serta lingkungan yang sama-sama terhimpit ekonomi pula. Rasa ketidakpedulian sesama juga menjadi pendukung penyebab kalapnya seorang ibu.

Berulangnya kasus penjualan bayi diakibatkan penerapan sistem kapitalisme saat ini. Sistem ekonomi dalam kapitalisme dikendalikan oleh para pemilik modal sehingga terjadi ketimpangan yang kaya makin kaya yang miskin semakin terjepit. Sistem ini juga membuat negara lepas tangan dari tugasnya yaitu mengurusi rakyatnya. Para penguasa lebih mementingkan dirinya sendiri dan memperkaya diri beserta kroninya yang akhirnya mengabaikan kesejahteraan rakyatnya.

Kita lihat saja bagaimana kebutuhan pokok terus melonjak naik membuat rakyat kecil sulit untuk membelinya. Bukan hanya kebutuhan pokok tapi juga kebutuhan publik lainnya seperti pendidikan, kesehatan, transportasi, gas dan lain-lain ikut naik. Semua serba mahal karena sudah dipatok oleh pemerintah.

Karena kebutuhan hidup tersebut serba mahal sementara keimanan lemah akhirnya nekat untuk berbuat apa saja sekalipun harus melanggar syariat seperti menjual bayi demi mendapatkan keuntungan. Kejahatan yang terus merajalela ini hasil dari diterapkannya sistem kapitalisme yang meminggirkan aturan dari Sang Maha Pencipta dari kehidupan bermasyarakat maupun bernegara.

Ketika aturan yang diterapkan bukan aturan Allah SWT, maka yang terjadi adalah hilangnya fitrah manusia dan akal sehatnya. Bagi masyarakat yang sudah kehilangan iman dan akal sehatnya, memandang perdagangan bayi bukanlah sebuah dosa besar. Dalam sistem kapitalisme menghalalkan segala cara untuk mendapatkan materi adalah suatu keniscayaan.

Kasus penjualan bayi yang sering terjadi tidak akan terjadi tatkala sistem Islam diterapkan. Pasalnya, Islam bukanlah sebuah agama yang hanya mengatur urusan ibadah saja tapi juga sebuah sistem atau aturan hidup untuk segala aspek kehidupan mulai dari individu, masyarakat sampai negara. Islam menetapkan negara sebagai ra’in (pengurus urusan rakyat), ia  bertanggung jawab atas urusan tersebut. Maka dari itu kesejahteraan rakyatnya akan dijamin oleh penguasa. Negara menjamin kebutuhan rakyat mulai dari sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan dan lain sebagainya dengan penerapan sistem ekonomi Islam. Tidak akan ada ketimpangan ekonomi karena harta tidak akan berputar hanya pada orang-orang kaya saja sebagaimana dalam sistem kapitalisme.

Agar mewujudkan masyarakat yang sejahtera negara akan membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya. Negara juga akan memberikan bantuan modal usaha bagi yang tidak mampu dan keterampilan bagi mereka yang ingin membuka usaha. Negara dalam Islam juga memastikan tiap-tiap laki-laki dewasa yang sehat dan mampu bekerja untuk memenuhi nafkah dirinya dan keluarganya.

Dengan nafkah yang cukup dan jaminan dari negara ini tidak akan membuat pusing para ibu. Sehingga para ibu akan fokus pada tugas utama sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Tidak akan terbesit dalam dirinya untuk menjual anaknya. Seorang ibu akan fokus mengurus anaknya membentuk generasi pemimpin. Pendidikan dalam Islam didasari dengan akidah Islam sehingga akan membentuk individu-individu yang beriman dan bertakwa berkepribadian Islam.

Meskipun tidak menutup kemungkinan kejahatan dalam Islam juga ada, tapi Islam memiliki hukum pidana yang akan membuat efek jera. Dengan hukuman tersebut, kejahatan tidak akan merajalela. Wallahu’alam bishshawab