OPINI/Artikel

Mengapa Organisasi AKSI Penting ?

adminsigiku.com
×

Mengapa Organisasi AKSI Penting ?

Sebarkan artikel ini

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Ketua Umum DPP AKSI)

Semua organisasi sangatlah penting, bahkan negara ini adalah sebuah organisasi. Para pejuang kemerdekaan dahoeloe mengatakan, “Organisasi hanya bisa dikalahkan oleh organisasi”. Betapa pentingnya sebuah organisasi dalam mewujudkan tujuan bersama atau menghadapi tantangan bersama.

Satu orang hebat, Superman sekali pun tidak akan mampu melawan tantangan zaman yang semakin berat dan kompleks. Nabi Muhammad, Nabi Isa tanpa “organisasi” dengan empat sahabat dan dua belas murid, tak bisa berbuat banyak. Kebersamaan dan kolaborasi dalam sebuah organisasi dilakukan para nabi.

Kita? Bagaimana kita ? Setiap manusia lemah bila sendirian, sekali pun nabi. Kebersamaan, kolaborasi dan organisasi adalah keniscayaan. Tidak ada yang kuat kalau sendirian dan tidak ada yang lemah kalau bersama sama dan berorganisasi.

Organisasi akan kuat termasuk AKSI bila memperhatikan hal berikut.

Pertama, Organisasi harus punya tujuan yang sama dan musuh bersama. Bukankah AKSI punya tujuan yang sama ingin menjadi kepala sekolah yang aman, nyaman dan sejahtera?

Apa musuh bersamanya ? Musuh bersamannya adalah terutama gangguan eksternal dalam bentuk politisasi, intimidasi, eksploitasi dan modusisasi dalam ragam wajah. Posisi kepala sekolah bisa sangat tidak aman dan berisiko.

Organisasi menghimpun, menyatukan, saling menguatkan atas segala kelemahan dan kekurangan diri. Pepatah bijak mengatakan “Seorang penakut menjadi setengah berani bila bertemu teman yang senasib”. Apalagi bila dibentuk organisasi yang legal dan terdaftar di KumHAM.

Domba yang terpisah, akan mudah dimangsa harimau atau hiena. Domba yang berada di tengah tengah ribuan gerombolan domba, tak bisa dimangsa, terlindungi, saling melindungi. Kita bukan domba dan bukan gerombolan. Kita kepala sekolah pemimpin/manajer yang ada dalam organisasi AKSI.

Kedua, Pastikan organisasi bermitra kontributif dengan berbagai pihak terkait, terutama pemerintah pusat dan daerah. Kemitraan, relasi dan kolaborasi adalah sebuah kebutuhan untuk saling menguatkan. Eksistensi, resistensi dan prestasi berkelindan dengan relasi kolaborasi dan kemitraan. Berbagai pihak potensial harus jadi bestie.

AKSI harus kontributif pada pemerintah pusat dan daerah. Beraksi, berkolaborasi dan berprestasi, bukan jargon, melainkan kelakon, terwujud. Selain sukses mengelola GTK dan anak didik di satuan pendidikan. Sukses eksternal dan internal adalah penting. Sukses mikro, meso dan makro, mengapa tidak ?

Ketiga, Pastikan mental kolektifitas sangat kuat. AKSI harus mampu “mengorkestrasi” solidaritas semua kepala sekolah Indonesia. Apa yang terjadi pada satu kepala sekolah menjadi tanggung jawab bersama. Satu untuk semua, semua untuk satu. Setidaknya seruan moral, dukungan anggota AKSI bisa membentuk opini publik positif.

Kebenaran hari ini identik kebenaran versi netizen. Apalagi bila kebenaran itu muncul dari para sarjana pemimpin satuan pendidikan. Sungguh akan menjadi kekuatan meng_Indonesia bila semua kepala sekolah yang tergabung dalam AKSI dalam dan luar negeri, negeri dan swasta, semua jenjang, bersuara, bersahut sahutan, untuk kepentingan anggota.

Kekuatan entitas kepala sekolah ada di kemampuan mengelola organisasi (AKSI), kemampuan mengelola literasi (menulis di berbagai media), kekuatan mengelola guru dan anak didik sebagai warga negara istimewa, paling strategis dan potensial. Setidaknya AKSI mampu menjadi “Learning Community” bagi entitas kepala sekolah bermental “Growth Mindset”.

Mengapa AKSI penting ? Amanah UURI No 14 Tahun 2005 dan sejatinya manusia adalah berorganisasi, tidak individualis, sporadis dan bagai domba yang dieksploitasi berbagai pihak. Kita bukan domba, kita sarjana dan manajer pendidikan yang harus saling belajar dan saling menguatkan.

Kekuatan profesi ada diorganisasi dari kita, oleh kita, untuk kita, demi bangsa. Kekuatan bukan di orang lain atau pihak eksternal yang beda profesi. Ungkapan “Burung sejenis akan hinggap di dahan yang sama” menjelaskan burung saja “berorganisasi” sesuai jenisnya. Kita para kepala sekolah, saatnya hinggap di dahan AKSI, topangan kita semua.

Kita para kepala sekolah harus hinggap di “dahan yang sama”, tiada lain adalah AKSI, “Rumah Kita” kata Ahmad Albar walau hanya rumah bambu. Tentu saja rumah bambu lebih baik daripada tak punya rumah. Bahkan rumah bambu itu sangat sehat dan alami, bukan kramik yang bikin rematik.