Pewarta : Red
Jakarta – Badan Gizi Nasional (BGN) resmi mencoret 76 sekolah di Pulau Jawa dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sebanyak 39.352 siswa terdampak kebijakan yang disebut sebagai langkah efisiensi anggaran sekaligus pengalihan bantuan ke wilayah dan kelompok yang lebih membutuhkan.
Wakil Kepala BGN, Agustina Arumsari, mengatakan sekolah yang dicoret umumnya dinilai mampu memenuhi kebutuhan gizi siswa secara mandiri sehingga tidak lagi memerlukan intervensi pemerintah.
“Yang secara mandiri bisa memenuhi gizinya, terutama yang berasal dari kelompok ekonomi tinggi, tidak akan diberikan program MBG,” ujarnya.
BGN kini memfokuskan program MBG ke daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal) serta kelompok rentan 3B, yakni ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Jumlah sekolah yang dicoret pun masih berpotensi bertambah karena proses evaluasi terus dilakukan.
Penentuan penerima bantuan akan mengacu pada sejumlah indikator, seperti kerentanan gizi, kondisi sosial ekonomi, dan akses terhadap pemenuhan gizi.
Menurut BGN, kebijakan ini bertujuan memastikan anggaran negara benar-benar menyasar masyarakat yang paling membutuhkan, sehingga program MBG lebih tepat sasaran dan berdampak maksimal. Selain itu, pemerintah juga tengah menata ulang sistem dapur MBG agar lebih sesuai dengan kebutuhan masing-masing daerah.













