Pewarta – Gervan
Kab. Sumedang – 20 (dua puluh) Tahun bukan waktu yang singkat. Di Desa Citimun, Kecamatan Cimalaka, perjalanan panjang itu dirangkai dalam sebuah perayaan yang sarat makna. Bertepatan dengan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, masyarakat Desa Citimun berkumpul dalam pawai pembangunan bertajuk “Jejak Bakti 2 Dekade”, Minggu (23/08/2026).
Lapangan Desa Citimun berubah menjadi lautan warga. Perwakilan dari berbagai RW tampil membawa kreativitas masing-masing, mulai dari bidang keagamaan, kesehatan, pertanian hingga beragam potensi masyarakat lainnya.
Kemeriahan juga semakin terasa dengan hadirnya UMKM yang ikut meramaikan kegiatan. Produk-produk masyarakat menjadi bagian dari wajah pembangunan desa yang ingin ditampilkan dalam momentum kemerdekaan.
Di balik kemeriahan tersebut, terselip suasana haru. Kepala Desa Citimun, Dadan, mengungkapkan bahwa sekitar tiga bulan lagi masa jabatannya akan berakhir setelah mengabdi selama tiga periode atau hampir 20 tahun, terhitung sejak 2006 hingga 2026.
Bagi Dadan, kegiatan tersebut bukan sekadar pawai. Ia melihatnya sebagai momentum untuk memperkuat semangat yang menjadi fondasi pembangunan desa: kemerdekaan, kebersamaan dan gotong royong.
“Tujuan dari kegiatan itu kita menegakkan semangat kemerdekaan, semangat kebersamaan, semangat pembangunan,” ungkap Dadan.
Ia pun mengaku bersyukur karena selama menjalankan amanah, dirinya mendapatkan dukungan dari masyarakat Desa Citimun.
Namun, Dadan menyadari bahwa perjalanan selama dua dekade tidak sepenuhnya berjalan tanpa kekurangan. Masih terdapat harapan dan keinginan masyarakat yang belum seluruhnya dapat diwujudkan.
Karena itu, ia berharap kepemimpinan berikutnya dapat meneruskan pekerjaan dan program yang belum selesai.
“Mudah-mudahan nanti dalam ajang Pilkades yang akan datang, siapapun yang terpilih menjadi Kepala Desa Citimun, bisa melanjutkan program-program kegiatan yang belum tuntas dilaksanakan di periode saya,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Dadan juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat apabila selama memimpin terdapat kesalahan dan kekurangan.
Pesan terakhirnya sederhana, namun kuat: kebersamaan jangan sampai berhenti ketika kepemimpinan berganti.
Ia mengajak masyarakat untuk terus menjaga persatuan dan gotong royong dengan semangat “Rempug, Jukung, Sauyunan” demi kemajuan Desa Citimun.
Pawai pembangunan sendiri diikuti sekitar 85 persen masyarakat berdasarkan laporan dari para ketua RW. Dari delapan RW yang ada, tujuh RW mengikuti kegiatan. Sementara RW 7 yang merupakan lingkungan Yonif 301/PKS tidak dapat mengikuti pawai karena adanya kegiatan di lingkungan batalion.
Dengan jumlah penduduk sekitar 6.000 jiwa, partisipasi tersebut menunjukkan tingginya antusiasme warga. Hari itu, Citimun bukan hanya merayakan kemerdekaan, tetapi juga menuliskan satu bab penting dalam perjalanan desa: dua dekade pengabdian, kebersamaan, dan harapan untuk masa depan.













