Ekonomi & Bisnis

Bunda Bilqis dan Cerita Manis di Balik Gedong Gincu Sumedang

adminsigiku.com
×

Bunda Bilqis dan Cerita Manis di Balik Gedong Gincu Sumedang

Sebarkan artikel ini

Pewarta : Gervan

Kab. Sumedang – Bukan sekadar buah berwarna merah-kuning, Mangga Gedong Gincu telah menjelma menjadi salah satu wajah produk unggulan Kabupaten Sumedang.

Di balik manis rasanya, tersimpan cerita tentang ketekunan petani, inovasi dalam proses panen, hingga geliat ekonomi yang terus tumbuh dari kawasan sentra mangga.

Hal itu turut menjadi perhatian Hj. Yuslita Sumartini Bilqis, S.M., atau yang akrab disapa Bunda Bilqis, saat menyempatkan diri menyambangi kios pedagang Mangga Gedong Gincu, Selasa (15/9/2026).

Kehadiran Bunda Bilqis bukan sekadar melihat aktivitas jual beli. Ia ingin menyaksikan lebih dekat bagaimana komoditas khas Sumedang tersebut bergerak dari kebun hingga sampai ke tangan konsumen.

Dari Mangga Gedong hingga Lahirnya “Gincu”

Perjalanan Gedong Gincu di Sumedang memiliki cerita tersendiri.

Di Kecamatan Jatigede, para petani pada awalnya mengenal buah tersebut sebagai mangga gedong. Perubahan mulai terasa pada awal 2000-an, ketika sejumlah petani mencoba memasarkan mangga yang dibiarkan matang langsung di pohon.

Hasilnya cukup menarik perhatian pasar.

Mangga yang matang secara alami menampilkan semburat warna merah dan kuning yang khas. Dari tampilan inilah sebutan “Gedong Gincu” semakin populer dan perlahan melekat sebagai identitas mangga asal Sumedang.

Bukan hanya soal penampilan. Cara panen tersebut juga memberikan nilai tambah secara ekonomi. Mangga yang matang di pohon disebut mampu memiliki harga hingga dua kali lipat dibandingkan buah yang dipanen dalam kondisi mentah atau setengah matang.

Kini, petani di sejumlah sentra seperti Jatigede, Tomo, dan Ujungjaya semakin banyak memilih memanen buah ketika tingkat kematangannya mencapai sekitar 85 persen atau lebih. Munculnya warna merah menjadi salah satu indikator kematangan yang banyak dicari pasar.

Dari Kebun Jatigede Menembus Pasar

Daya tarik Gedong Gincu Sumedang tidak berhenti pada warnanya.

Cita rasa manis dengan sensasi segar menjadi salah satu karakter yang membuat mangga dari Jatigede dan sejumlah sentra lainnya memiliki pasar tersendiri.

Dari sisi pasokan, kawasan Jatigede, Tomo, dan Ujungjaya juga memiliki peranan penting dalam peredaran Gedong Gincu. Sekitar 70 persen mangga Gedong Gincu yang beredar disebut berasal dari kawasan sentra tersebut.

Tak heran, para bandar dari Indramayu dan Cirebon datang langsung membeli mangga dari sejumlah wilayah di Jatigede, termasuk Cibeber dan Lebaksiuh.

Khusus di Kecamatan Jatigede, areal tanaman mangga Gedong Gincu mencapai hampir 800 hektare. Potensi tersebut membuat Gedong Gincu tidak hanya menjadi buah unggulan, tetapi juga bagian dari roda ekonomi masyarakat.

Bagi Bunda Bilqis, potensi besar tersebut perlu dirawat bersama. Penguatan petani, menjaga kualitas buah, serta memperluas pemasaran menjadi bagian penting agar nilai ekonomi Gedong Gincu semakin dirasakan masyarakat.

“Gedong Gincu bukan sekadar mangga, tetapi bagian dari potensi dan kebanggaan Sumedang. Kita harus terus mendukung para petani agar kualitasnya terjaga, pemasarannya semakin luas, dan manfaat ekonominya benar-benar dirasakan oleh masyarakat,” ujar Bunda Bilqis, Selasa (15/9/2026).

Infrastruktur Jadi Penopang

Sementara itu, Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir mengatakan pemerintah terus melakukan perbaikan infrastruktur menuju kawasan sentra mangga, termasuk wilayah Kaleci yang mencakup Desa Kadu, Lebaksiuh, dan Cintajaya.

Perbaikan akses tersebut diharapkan dapat memperlancar distribusi hasil pertanian sekaligus membuka peluang pasar yang lebih luas bagi para petani.

Pada akhirnya, kisah Gedong Gincu menjadi gambaran bagaimana produk lokal dapat tumbuh menjadi kekuatan ekonomi ketika kualitas, inovasi petani, akses distribusi, dan dukungan berbagai pihak berjalan beriringan.

Dari kebun – kebun Jatigede, manisnya Gedong Gincu terus bergerak. Bukan hanya membawa rasa, tetapi juga membawa nama Sumedang ke pasar yang lebih luas.