Peristiwa

Longsor Ancam Jalan Provinsi di Cikalongwetan, Akses Penghubung Dua Kecamatan Terancam

adminsigiku.com
×

Longsor Ancam Jalan Provinsi di Cikalongwetan, Akses Penghubung Dua Kecamatan Terancam

Sebarkan artikel ini

Pewarta : Herlina SC

Kab. Bandung Barat – Ancaman tanah longsor mulai mengganggu akses jalan provinsi di Kampung Dangdeur, Desa Rende, Kecamatan Cikalongwetan, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Longsor yang menggerus tepi jalan tersebut membuat pengendara harus ekstra waspada saat melintasi jalur penghubung Kecamatan Cikalongwetan dan Cipeundeuy.

Berdasarkan pantauan di lokasi, Selasa (3/11/2026), terlihat rekahan tanah di sisi jalan yang mengalami longsor. Area rawan tersebut telah diberi pembatas berupa tali, karung, dan bambu sebagai penanda bagi pengguna jalan.

Warga setempat, Jaenudin (53), mengatakan longsor terjadi pada Jumat (30/10/2026) sore setelah wilayah tersebut diguyur hujan deras. Menurutnya, derasnya aliran air hujan yang masuk ke tepi jalan menjadi pemicu gugurnya tanah.

“Eta teh kadupak cai (guguran tanah terjadi karena air hujan masuk ke tepi jalan),” kata Jaenudin, Selasa siang.

Ia menjelaskan, saluran drainase yang tertutup tembok atau bangunan milik warga menyebabkan air hujan tidak mengalir sebagaimana mestinya. Akibatnya, limpasan air atau cileuncang meluap ke badan jalan hingga menggerus bagian tepinya.

“Lumpatna ka dieu (air lari ke tepi),” ujarnya.

Kondisi tersebut dinilai membahayakan pengguna jalan, terutama saat hujan deras karena aliran air melintasi jalan layaknya sungai. Terlebih, titik longsor memiliki panjang sekitar delapan meter dengan kedalaman mencapai tiga meter dan berada tepat di sisi jalur yang ramai dilalui kendaraan.

Jaenudin berharap pemerintah segera melakukan penanganan agar kerusakan tidak semakin meluas. Ia juga meminta saluran air yang tertutup dipulihkan sehingga limpasan hujan tidak kembali mengarah ke titik longsor.

Menurutnya, perbaikan jalan tanpa membenahi sistem drainase berisiko membuat longsor kembali terjadi ketika hujan deras mengguyur kawasan tersebut.

Ancaman longsor juga ditemukan di sejumlah titik lain di Kecamatan Cikalongwetan. Salah satunya berada di Kampung Cikubang, RT 3 RW 19, Desa Mandalasari, yang mengancam keberadaan bangunan pondok pesantren.

Pantauan pada Senin (2/11/2026) menunjukkan sejumlah titik longsor bermunculan di sepanjang jalan penghubung Cipada-Ciawitali. Timbunan tanah terlihat di beberapa sisi jalan, sementara kondisi cukup mengkhawatirkan ditemukan di kawasan Cikubang.

Area persawahan di lereng bukit mengalami guguran tanah. Rekahan longsor berada tepat di tepi jalur Cipada-Ciawitali dan berpotensi mengancam bangunan pesantren yang terletak di bagian bawah lereng.

Pemkab Bandung Siapkan BTT Rp. 10 Miliar

Di wilayah Kabupaten Bandung, pemerintah daerah memastikan anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) masih tersedia untuk mengantisipasi kebutuhan penanganan bencana maupun kondisi darurat lainnya.

Bupati Bandung Dadang Supriatna mengatakan, hingga awal November 2026, anggaran BTT yang masih tersedia mencapai Rp. 10 miliar. Dana tersebut dapat digunakan untuk penanggulangan bencana alam, nonalam, bencana sosial, kejadian luar biasa, hingga operasi pencarian dan pertolongan sesuai ketentuan.

“Siap mengucurkan BTT dengan tetap memenuhi ketentuan. Kami berharap, tak sampai terjadi (dampak bencana yang menimbulkan situasi mendesak atau darurat),” kata Dadang.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bandung M Akhiri Hailuki menilai kesiapsiagaan menghadapi bencana tidak cukup hanya mengandalkan ketersediaan anggaran dan personel. Edukasi serta peningkatan pemahaman masyarakat mengenai mitigasi bencana juga perlu diperkuat.

Menurutnya, simulasi penanganan bencana menjadi salah satu langkah efektif untuk mengukur kesiapan petugas sekaligus memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai tindakan yang harus dilakukan sebelum, saat, dan setelah bencana terjadi.

Cimahi Petakan Kawasan Rawan Bencana

Terpisah, Pemerintah Kota Cimahi mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi seiring peralihan musim kemarau ke musim hujan.

Wali Kota Cimahi Ngatiyana mengatakan, setelah melewati kemarau panjang, wilayahnya mulai menghadapi peningkatan potensi curah hujan yang diprediksi berlangsung pada November hingga Desember 2026.

Ia meminta masyarakat turut menjaga kebersihan lingkungan, terutama saluran air dan kawasan yang berpotensi memicu banjir maupun longsor.

“Saya harapkan kepada seluruh masyarakat waspada, bersih – bersih lingkungan yang kira-kira bisa menimbulkan bencana banjir, tanah longsor, dan sebagainya,” ujarnya.

Pemkot Cimahi juga telah memetakan sejumlah kawasan rawan bencana. Potensi longsor terutama berada di wilayah utara, meliputi Kecamatan Cimahi Utara, Cipageran, dan Citeureup, serta wilayah selatan di kawasan Cibeber.

Sementara itu, potensi banjir diwaspadai di sekitar bantaran Sungai Cimahi, Sungai Cibeureum, hingga kawasan Melong.

Meningkatnya ancaman longsor dan banjir di sejumlah daerah tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah untuk memperkuat kesiapsiagaan, memperbaiki infrastruktur drainase, serta memastikan penanganan cepat di kawasan rawan bencana.