Pewarta : Herlina SC
Kab. Bandung Barat – Produksi ikan budidaya di Kabupaten Bandung Barat (KBB) mengalami penurunan signifikan sepanjang 2026. Fenomena upwelling atau naiknya massa air dari dasar waduk ke permukaan diduga menjadi salah satu pemicu kematian massal ikan di Keramba Jaring Apung (KJA) Waduk Saguling.
Berdasarkan data Dinas Perikanan dan Peternakan (Dispernakan) KBB, produksi ikan selama Januari hingga Agustus 2026 tercatat sebanyak 28.748 ton. Angka tersebut masih di bawah target 29.648 ton dan turun sekitar 25 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yakni 38.296 ton.
Kepala Dispernakan KBB, Wiwin Aprianti, mengatakan penurunan produksi dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari kondisi perairan akibat musim kemarau hingga kematian massal ikan jenis mas dan nila.
“Produksi ikan KBB sampai pertengahan 2026 kemarin hanya 28.748 ton, dari target 29.648 ton. Kalau dibandingkan tahun lalu pada periode yang sama, produksinya mencapai 38.296 ton,” kata Wiwin saat dikonfirmasi, Rabu (4/11/2026).
Ia menjelaskan, berdasarkan laporan yang diterima Dispernakan, kematian massal ikan akibat fenomena upwelling pada periode 31 Oktober hingga 2 November 2026 mengakibatkan sekitar 22,12 ton ikan mati di KJA Waduk Saguling.
Selain itu, penurunan debit air Waduk Saguling selama musim kemarau menyebabkan ruang budidaya semakin menyempit sehingga turut memengaruhi aktivitas produksi pembudidaya.
“Debit perairan Waduk Saguling merosot drastis sehingga ruang budidaya menjadi lebih sempit. Kemudian ada fenomena upwelling yang menyebabkan ikan mati massal,” jelasnya.
Ikan Waduk Saguling dan Cirata Diklaim Aman Dikonsumsi
Di tengah kejadian tersebut, Dispernakan KBB memastikan ikan hasil budidaya di Waduk Saguling dan Cirata masih aman untuk dikonsumsi.
Menurut Wiwin, pemantauan kualitas air dan mutu ikan dilakukan secara berkala bersama Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Provinsi Jawa Barat. Pemeriksaan tersebut mengacu pada standar SNI dan ketentuan BPOM.
“Untuk keamanan konsumsi, kami bersama DKP Provinsi Jabar melakukan pemantauan kualitas air dan mutu ikan secara berkala. Sejauh ini hasil pemantauan masih dalam batas aman untuk dikonsumsi, dengan catatan penanganan dan pengolahan yang baik,” ujarnya.
Meski demikian, pembudidaya tetap diimbau menjaga kualitas pakan dan kebersihan KJA. Masyarakat juga diminta memilih ikan dalam kondisi segar serta memasaknya hingga matang sempurna.
Wiwin menambahkan, kegiatan budidaya di kedua waduk tersebut masih berlangsung dan menjadi salah satu sumber mata pencaharian utama masyarakat sekitar.
Petambak Rugi hingga Rp. 115 Juta
Dampak kematian massal ikan dirasakan langsung para pembudidaya KJA Waduk Saguling. Salah seorang petambak, Teten Buldani Hayat (52), mengaku kehilangan sekitar lima ton ikan mas dan nila akibat peristiwa tersebut.
Menurut Teten, kematian ikan terjadi dalam dua gelombang, yakni pada 21 – 22 Oktober dan kembali mencapai puncaknya pada 28 Oktober 2026.
“Ikan yang mati di tempat saya sekitar lima ton. Didominasi ikan mas dan nila. Awalnya 21 – 22 Oktober, kemudian terakhir 28 Oktober,” ungkap Teten.
Ia menyebut kematian massal ikan di Waduk Saguling hampir terjadi setiap tahun, terutama saat peralihan musim atau pancaroba. Kondisi tersebut berkaitan dengan fenomena upwelling yang membawa massa air dari dasar waduk menuju permukaan.
Pergerakan air tersebut dapat membawa endapan lumpur, sisa pakan, dan zat pencemar. Kondisi ini memicu perubahan kualitas perairan, termasuk penurunan kadar oksigen terlarut yang dibutuhkan ikan untuk bertahan hidup.
Teten menuturkan, kadar oksigen terlarut di lokasi budidayanya sempat anjlok hingga 0,7. Padahal, menurut pengalamannya, ikan membutuhkan kadar oksigen setidaknya sekitar 2,6 agar dapat bertahan dalam kondisi perairan tersebut.
“Kadar oksigen yang ideal di dalam air untuk ikan itu setidaknya berada di angka 2,6. Tapi saat kejadian kemarin, angkanya anjlok sampai 0,7. Jelas ikan enggak akan kuat, mau yang besar sekalipun sampai mati,” tuturnya.
Akibat kejadian tersebut, Teten memperkirakan kerugiannya mencapai Rp. 115 juta. Perhitungan itu berdasarkan potensi nilai ikan yang hilang dengan harga normal berkisar Rp. 21 ribu hingga Rp. 23 ribu per kilogram.
Untuk menekan kerugian lebih besar, ia terpaksa menjual ikan yang masih bertahan hidup dengan harga jauh di bawah pasaran.
“Supaya enggak terlalu rugi, ikan yang masih bertahan kemarin dijual saja, diobral. Sekitar Rp. 7 ribu per kilogram. Total saya cuma dapat Rp. 18 juta. Normalnya bisa Rp. 120 juta. Sebagian yang ukurannya kecil juga diberikan kepada warga,” pungkasnya.
Peristiwa ini kembali menjadi peringatan bagi sektor perikanan budidaya di Waduk Saguling. Ketergantungan produksi terhadap kondisi cuaca dan kualitas perairan membuat pembudidaya menghadapi risiko kerugian besar setiap kali fenomena upwelling terjadi.













