Peristiwa

59 Kali Karhutla Terjadi di Cianjur, 39,89 Hektare Lahan Terbakar dan Satu Orang Tewas

adminsigiku.com
×

59 Kali Karhutla Terjadi di Cianjur, 39,89 Hektare Lahan Terbakar dan Satu Orang Tewas

Sebarkan artikel ini

Pewarta : Arief

Kabupaten Cianjur – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, sebanyak 59 kali sepanjang musim kemarau 2026. Rentetan kebakaran tersebut mengakibatkan lahan seluas 39,89 hektare hangus terbakar dan satu orang meninggal dunia akibat luka bakar.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cianjur, Kecamatan Cilaku menjadi wilayah dengan luasan kebakaran terbesar, mencapai 14 hektare dari 10 kejadian.

Sementara itu, Kecamatan Sukaluyu mencatat frekuensi karhutla tertinggi dengan 11 kejadian. Meski demikian, total luas lahan yang terbakar di wilayah tersebut relatif kecil, yakni sekitar satu hektare.

Adapun Kecamatan Cibeber mengalami tujuh kejadian karhutla dengan luas lahan terbakar mencapai 1,4 hektare. Salah satu insiden di wilayah tersebut bahkan merenggut korban jiwa.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Cianjur, Samudra Wira Purnama, mengatakan korban meninggal dunia diduga sedang membakar lahan untuk membuka area kebun. Namun, api tiba-tiba membesar dan sulit dikendalikan akibat tiupan angin kencang.

“Saat itu, korban diduga sedang membakar lahan untuk dijadikan area kebun. Namun, api tiba-tiba membesar dan tidak terkendali akibat angin kencang. Korban berupaya memadamkan api, tetapi mengalami luka bakar,” ujar Wira, Rabu (4/11/2026) petang.

Pembakaran Sampah hingga Pembukaan Lahan Jadi Pemicu

Wira mengungkapkan, aktivitas manusia masih menjadi salah satu faktor pemicu kebakaran di sejumlah wilayah Cianjur. Dari total 59 kejadian karhutla, sembilan kasus dipicu aktivitas pembakaran sampah, sedangkan empat kejadian lainnya akibat kelalaian manusia.

Sementara itu, sebagian kebakaran lainnya dipengaruhi faktor alam. BPBD juga menemukan indikasi pembakaran yang sengaja dilakukan untuk membuka lahan pertanian.

“Sebagian kebakaran juga terindikasi disengaja untuk membuka lahan pertanian,” katanya.

Menurut Wira, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mencegah kebakaran, terutama saat musim kemarau ketika vegetasi mengering sehingga api lebih mudah menjalar.

BPBD Cianjur mengimbau masyarakat tidak melakukan pembakaran terbuka, baik untuk membersihkan sampah maupun membuka lahan pertanian. Warga juga diminta memastikan tidak ada sumber api yang masih menyala setelah beraktivitas di kawasan hutan dan lahan.

Selain itu, kepedulian terhadap kelestarian hutan dan lingkungan perlu terus ditingkatkan guna menekan risiko terjadinya kebakaran.

Sejumlah Wilayah Selatan Cianjur Masih Kekeringan

Meski saat ini sebagian wilayah telah memasuki musim hujan, BPBD mengingatkan ancaman kekeringan belum sepenuhnya berakhir. Sejumlah wilayah di Kabupaten Cianjur, khususnya bagian selatan, masih mengalami kondisi kering.

Wira menyebut kondisi kemarau tahun ini terbilang lebih ekstrem dibandingkan tahun sebelumnya. Salah satu faktor yang turut memengaruhi kondisi tersebut adalah fenomena El Nino.

“Meski saat ini sudah memasuki musim hujan, sejumlah wilayah di Cianjur, khususnya bagian selatan, masih mengalami kekeringan. Tahun ini kondisinya terbilang ekstrem dibandingkan tahun sebelumnya karena turut dipengaruhi fenomena El Nino,” pungkasnya.