Pemilu 2019 “Makan” Korban, Asep Surya : Ini Pemilu Brutal Harus Dievaluasi

0

Pewarta : Jeky

Koran SINAR PAGI, Sumedang,- Pemilu serentak 2019 di Indonesia yang puncaknya tangal 17 April 2019 ternyata di Kabupaten Sumedang Jawa Barat pun tak luput dari adanya korban meninggal akibat kelelahan, juga puluhan yang sakit.

Sebelumnya dikabarkan di media online nasional, bila Pemilu serentak 2019 mengakibatkan jatuhnya korban meninggal, mereka kebanyakan akibat kelelahan karena pemilu serentak ini sangat menguras tenaga dan pikiran bagi para pihak penyelenggara.

Seperti dilansir di media on line, JawaPos.com (27/04/19) dikatakan, akibat panjang nya proses Pemilu, ada 326 orang yang meninggal dunia, diantaranya dari jajaran KPU sebanyak 253 orang, dari Bawaslu 55 orang dan juga dari Polri 88 orang.

Dilansir di media itu, untuk tingkat kelelahan menempati posisi pertama dan kedua akibat kecelakaan.

Begitu pun yang terjadi di Kabupaten Sumedang kondisi kelelahan itu tak luput, terakhir dua orang meninggal dunia di duga akibat kelelahan, dari KPU bernama Ae Siti Rosida (42), meninggal pada Rabu, (17/04/19), dia merupakan petugas KPPS warga Dusun Cijolang Rt 01/ Rw 09 Desa Margaluyu Kecamatan Tanjungsari Kabupaten Sumedang Jawa Barat.

Kedua, Komisioner Bawaslu Sumedang Kordiv, Humas, Data dan Informasi, bernama Anshor Umar (37) warga Rt 03 Rw 01 Dusun Cijeler, Desa Cijeler, Kecamatan Situraja Kabupaten Sumedang, yang juga meninggal akibat kelelahan, hari Minggu (28/04/19) sekitar pukul, 03.30 WIB.

Akibat panjang nya proses Pemilu serentak 2019 ini, hingga begitu banyaknya korban jiwa, salah seorang pegiat sosial, warga Sumedang dari Kecamatan Cimanggung, Asep Surya Nugraha, menyoroti dan menyikapi hal itu, ia berpendapat jika Pemilu serentak 2019 sekarang ini termasuk brutal dan harus dievaluasi, seperti dikatakan kepada koransinarpagijuara.com, melalui WhatsAp, Minggu (28/4/19),

“Ini pemilu paling brutal, kegiatan yang disekaliguskan harusnya lebih efisien ternyata lebih boros dan melelahkan, pelaksanaannya perlu dievaluasi kembali, korban dari penyelenggara sudah terlalu banyak, apalagi yang sakit”, ujarnya.

Asep Surya menambahkan, agar pelaksanaan Pemilu itu mesti ada jeda selain ditunjang teknologi yang canggih, “Harus ada jeda dengan Pilpres, dan pake teknologi yg lebih canggih”, tutur Asep yang juga seorang pengacara.

Sementara itu menurut Nandang Suherman juga di WhatsAp, masih seorang pegiat sosial, dari wilayah Jatinangor Sumedang mengatakan,” (Ini) Fenomena yg memprihatinkan, kalau penyebaran langsung kematian karena ngurus Pemilu, kejadian ini merebak di seluruh Indonesia dan menjadi sejarah khusus dalam demokrasi kita”, ucapnya.

Sebelumnya, selain yang meninggal dari KPU Sumedang, dikatakan Komisioner KPU Sumedang, Mamay Siti Maemunah Suhandi, ada juga yang sakit, “Selain ada yang meninggal atas nama Ae Siti Rosida, juga ada puluhan yang sakit mereka sempat di rawat di RSUD Sumedang, jumlah nya mencapai 42 orang mereka petugas KPPS”, terang Mamay, kepada koransinarpagijuara.com, juga di WhatsAp, Minggu, (28/04/19).