Pewarta : Avenk
Koran SINAR PAGI, Kota Sukabumi,- Majelis Ulama Indonesia (MUI) pusat mengadakan Focus Group Discussion (FGD) pra Kongres Umat Islam Indonesia ke – 7 yang akan diadakan di Bangka, unruk menyoroti ilmu agama dan non agama menuju Indonesia lebih baik.
MUI menghendaki ada sejumlah konsep kebaruan atau arah baru pendidikan Indonesia. Bagaimana pendidikan bangsa Indoneisa ke depan agar lebih baik.
Hadir sebagai narasumber Prof.Dr.Ahmad Mansyur Suryanegara seorang sejarawan muslim, kemudian Dr.Imam B Prasojo seorang sosiolog kenamaan, Dr.KH.Agus Sunyoto mewakili Budayawan, Dudung Nurullah Koswara menggantikan Ketua Umum PB PGRI, Prof.Dr.Unifah Rosyidi.
Acara tersebut dipandu oleh moderator Prof.Dr.Sudarnoto Abdul Hakim dari Komisi Pendidikan dan kader ulama.
Dalam kesempatan tersebut, Dudung menjawab beberapa pertanyaan dari audiens terkait fakta dan dinamika pendidikan masa kini, terkait anak didik saat ini, dimana anak didik terlalu dibebani sejumlah buku, tumpukan buku setinggi 50 CM harus dibaca anak didik.
Dijelaskan, ada salah kaprah dalam dunia Pendidikan saat ini, idealnya, kata Dudung, anak didik tidak dijadikan industri pendidikan, “Bisnis Pendidikan menjadi lebih menonjol dibanding menciptakan sekolah yang melayani Pendidikan dengan maksimal,” katanya.
Menurutnya, Pendidikan saat ini menjadi industry, berlomba-lomba dalam membangun sekolah agar mendatangkan profit, bukan berlomba-lomba agar mendatangkan anak didik berkualitas pada masa yang akan datang.
“Anak didik kita khawatir di masa depan akan menjadi chicken little bukan generasi tiger. Akan lahir generasi lemah dan bukan generasi kuat yang menguasai peradaban,” imbuhnya.
Pendidikan yang memuja angka, menurut Dudung sangat bahaya, bagaimana mungkin masa depan bangsa diisi oleh generasi UN yang menentukan kelulusan 100 persen.
“Ketika UN menetukan kelulusan 100 persen semua memuja angka bukan akhlak atau adab. Tidak sedikit orangtua yang senyum-senyum melihat anaknya meraih nilai Matematika dan Bahasa Inggris yang sempurna, padahal orangtua tahu persis anaknya tidak sesempurna nilai yang didapatkan saat UN,” tuturnya.
Dahulu saat UN menentukan kelulusan praktek kecurangan antara oknum guru, siswa dan sejumlah pihak terkait, “Memuja angka sangat bahaya,” tegasnya.
Dudung mengatakan, intelektualitas dan kapasitas tanpa adab akan percuma dan bahaya, sehingga penting adanya adab dan kewarasan, “Dalam ajaran agama yang kita anut, akhlak adalah utama di atas intelektualitas dan kapasitas diri,” ucapnya.
Dia menyidir kegagalan pendidikan kita, hal itu terlihat dalam jumlah kriminalitas dan orang sakit, “Saat rumah sakit penuh dan penjara penuh, itu artinya ada yang salah dengan proses pendidikan kita,” kata Dudung lagi.
Di Belanda saja, lanjutnya, negara yang pernah menjajah kita, rumah sakit dan penjara mulai kosong, “Di negara kafir yang sekuler mengapa pendidikan lebih berhasil. Faktanya jumlah orang sehat naik dan jumlah kriminalitas menurun,” ujarnya.
Dikatakan, kita harus mengusung pendidikan yang “Mewaraskan Kehidupan Bangsa“ bukan hanya mencerdaskan kehidupan bangsa yang selama ini kita usung. “Waras itu lebih baik dari cerdas. Pendidikan yang mewaraskan, endingnya adalah perbaikan akhlak kolektif yang membentuk karakter bangsa,” pungkasnya.













