Ragam

Agroforestry Meningkatkan Kesejahteraan Petani Hutan Dan Keberhasilan Konservasi Lahan

adminsigiku.com
×

Agroforestry Meningkatkan Kesejahteraan Petani Hutan Dan Keberhasilan Konservasi Lahan

Sebarkan artikel ini

Oleh : Sugama

Agroforestry adalah suatu bentuk usaha tani dengan menggunakan Areal lahan pertanian yang memadukan antara kegiatan penanaman tanaman kehutanan atau pohon kayu-kayuan dengan tanaman Multipurpose Tree Species (MPTS), atau buah-buahan, serta biasa juga ditambahkan dengan penanaman komoditas atau tanaman jangka pendek, seperti tanaman pertanian.

Dalam bentuk yang dikenal secara umum, Agroferstry ini juga sering disebut dengan istilah wanatani, yaitu suatu model Usaha tani terpadu. Agroforestry mencakup rupa-rupa kebun campuran, tegalan berpohon, ladang, lahan bera (belukar), kebun pekarangan, hingga hutan-hutan tanaman rakyat yang lebih kaya jenis komoditas tanamannya. Seperti yang dikenal dalam rupa bentuk pertanaman, seperti talun di Jawa Barat, repong di Lampung Barat, parak di Sumatera Barat, tembawang (timawang) di Kalimantan Barat, simpung (simpung) dan lembo di Kalimantan Timur, dan lain-lain bentuk di berbagai daerah di Indonesia.

Pada sistem agroforestry ini, terciptalah keanekaragaman tanaman dalam suatu luasan lahan tertentu sehingga akan mengurangi risiko kegagalan dan dapat mengurangi input produksi dalam melakukan usaha tani. Seperti kebutuhan pupuk atau zat hara dari luar kebun karena adanya daur-ulang sisa tanaman, mengurangi kegiatan pembersihan gulma serta melindungi tanah dari erosi karena penutupan tajuk tanaman lebih rapat dari usaha tani biasa pada umumnya.

Model-model agroforestry bervariasi mulai dari agroforestry sederhana berupa kombinasi penanaman sejenis pohon dengan satu-dua jenis komoditas pertanian, hingga ke agroforestry kompleks yang memadukan pengelolaan banyak spesies pohon dengan aneka jenis tanaman pertanian, dan bahkan juga dengan ternak atau perikanan.

Aneka bentuk model agroforestry ini sebetulnya mencerminkan strategi pengelolaan sumberdaya alam oleh petani. Tidak seperti halnya perkebunan – perkebunan besar yang dikelola perusahaan, kebanyakan kebun atau hutan rakyat tidak dikelola hanya untuk menghasilkan satu komoditas atau produk tertentu (model usaha tani monokultur).

Petani umumnya mengharapkan kebun atau ladangnya dapat menghasilkan tanaman pangan utama (misalnya padi atau jagung), palawija (jenis kacang-kacangan) atau tanaman yang bernilai ekonomi tinggi (seperti kopi, kakao, cengkih, karet dll.), ditambah dengan hasil-hasil lain yang sifatnya subsisten seperti kayu bakar, tanaman rempah dan obat, pakan ternak, serta aneka hasil lainnya.

Pola-pola sederhana dalam sistem agriforestry ini sering dipraktikkan petani untuk memaksimalkan hasil, terutama di wilayah-wilayah padat penduduk (seperti di Jawa barat). Pohon-pohon lamtoro, kelapa, aren atau kayu-kayuan kerap ditanam pada pematang atau sebagai pembatas petak-petak sawah atau tegalan, di mana tanaman semusim ditanam.

Lamtoro membantu menyuburkan tanah dan buahnya dimanfaatkan sebagai lalaban; kelapa menghasilkan buah kelapa; aren disadap niranya; dan dari tanaman kayu-kayuan diharapkan kayunya yang mahal harganya. Bentuk lain adalah pertanaman jeruk atau mangga, yang ditanam pada gundukan-gundukan tanah di tengah sawah.

Pada sisi yang lain, pola yang mirip dimanfaatkan dalam membangun hutan. Pola tumpangsari dalam menanam hutan jati atau hutan pinus di Jawa, adalah satu bentuk agroforestry sederhana.

Dalam tumpangsari, petani pesanggem dibolehkan memelihara padi ladang, jagung, ketela pohon dan lain-lain di sela-sela larikan tanaman pokok kehutanan (jati, pinus, dll.) yang baru ditanam. Biasanya pada tahun ketiga atau keempat, setelah tanaman hutannya merimbun dan menaungi tanah, kontrak tumpangsari ini berakhir.

Agroforestry kompleks (complex agroforestry systems) atau wanatani sejati merupakan perpaduan rumit berbagai unsur agroforestry di atas, yang pada gilirannya juga memberikan aneka hasil atau manfaat pada rentang waktu dan interaksi yang tidak terbatas. Pada akhirnya, agroforestry ini memiliki struktur dan dinamika ekosistem yang mirip dengan hutan alam, dengan keanekaragaman jenis flora dan fauna yang relatif tinggi.

Agroforestry kompleks merupakan perkembangan lanjut dari agroforestry sederhana, meski kebanyakan pola agroforestry sederhana yang telah mantap tidak selalu bertumbuh terus menjadi sistem yang lebih rumit.

Selain ditentukan oleh kepadatan penduduk dan –sebagai konsekuensinya– keterbatasan lahan, tidak berkembangnya agroforestry sederhana menjadi kompleks kemungkinan besar juga ditentukan oleh iklim dan kondisi tanah setempat. Budaya agroforestry kompleks sejauh ini berkembang di daerah-daerah yang semula merupakan hutan hujan tropika.

Selain memberikan manfaat pada masa sekarang, agroforestry sangat diyakini memberikan manfaat ekologi, sosial dan ekonomi di masa mendatang. Secara ekologis sistem agroforestry dapat digunakan sebagai usaha untuk meningkatkan keberhasilan rehabilitasi lahan di Indonesia.

Usaha-usaha perbaikan lahan yang dilakukan selama ini dirasa belum mampu mengatasi peningkatan lahan kritis dikarenakan pendekatan yang dilakukan lebih berorientasi pada penanganan fisik dan kurang memperhatikan masalah sosial, ekonomi dan budaya masyarakat.

Petani mau mengadopsi suatu teknologi konservasi lahan jika petani memperoleh manfaat secara ekonomi dari kegiatan tersebut. Terkait hal tersebut, pola agroforestri sebagai upaya dalam meningkatkan keberhasilan pelaksanaan rehabilitasi lahan melalui kegiatan usaha tani terpadu. Pola ini mampu mengakomodir aspek ekologi terutama peningkatan kesuburan lahan dan juga memberikan keuntungan secara ekonomi bagi masyarakat setempat.

Dengan sistem agroforedstry ini petani dapat mencukupi kebutuhan pangan untuk sehari harinya lewat penanaman pangan utama seperti padi ladang dan jagung. Untuk kebutuhan tahunnya dapat terpenuhi dari tanaman industri seperti kopi, kakao, karet dan dari hasil buah-buahan.

Selain itu juga ada tanaman pisang dan kelapa yang buahnya dapat dimabil setiap waktu. Ada juga ternak yang dapat dijual setiap tiga atau empat tahun sekali. Selanjutnya untuk tabungan jangka panjang petani dapat mengandalkan dari tanaman kayu-kayuan. Dengan demikian kesejahteraan petani akan meningkat.

Dalam hal meningkatkan kesuburan lahan, sistem agroforestry mampu meningkatkan kesuburan lahan terutama karena meningkatnya bahan organik tanah. Tingginya produktifitas tanaman yang ditanam secara agroforestri disebabkan karena jatuhan seresah dari tanaman kayu-kayuan terurama kelompok legum, seperti sengon, dan biomasa tanaman semusim lainnya.

Dalam pola agroforestry tersebut, seresah yang berasal dari pohon-pohonan maupun limbah dari tanaman semusim sebaiknya tetap dipertahankan keberadaannya karena berfungsi sebagai sumber bahan organik, serta dapat melindungi tanah dari kerusakan mekanis/erosi akibat jatuhan air hujan.