Pewarta: Dwi-Dila
Koran SINAR PAGI (Kabupaten Tasikmalaya)-, Dalam rangka pentingnya memberikan edukasi terkait gerakan anti hoaks kepada masyarakat terutama bagi kalangan pemuda/milenia. Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama/IPPNU Kabupaten Tasikmalaya mengadakan Forum Diskusi bersama seluruh kalangan pelajar (SD/MI, SLTP, SLTA dan Mahasiswa) secara online via WhatsApp. Forum ini dilaksanakan pada Jum’at, 17 Juli 2020 pukul 19.00 WIB dengan pemantik Vinanda Febriani (MAFINDO Chapter Magelang) dan moderator Rekanita Tanti Sulastini (Pengurus PC IPPNU Kab. Tasikmalaya).
Vinanda Febriani sebagai Pemantik menjelaskan bahwa saat ini internet dan media sosial dinodai oleh berita tidak benar (berita hoaks). Dalam satu bulan berita hoaks dapat mencapai hingga ratusan. Tentu hal tersebut sangat meresahkan.
“Jika ini dibiarkan akan menjadi ancaman bagi masyarakat karena orang akan mudah terhasut, terprovokasi dan diadu domba oleh pihak yang berkepentingan.” jelasnya, Vinanda kepada peserta mengawali pembiacarannya
Perlu diketahui bahwa berita sangat cepat menyebar di media sosial baik itu berita hak maupun berita hoaks. Berita hoaks adalah berita yang berisi tidak sesuai faktanya (berita bohong). Salah satu tujuan penyebaran berita hoaks adalah adanya suatu kepentingan yang disengaja baik itu kepentingan sosial, politik, ekonomi, ideologi, dan kebencian.
Indonesia merupakan negara yang jalur penyebaran hoaks paling cepat. Hal ini disebabkan oleh minimnya literasi, polarisasi akibat isu politik/SARA dan lain sebagainya. Lantas bagaimana cara menghindari berita hoaks? Caranya adalah selalu cek dan ricek sebelum berbagi/ share berita yang didapatkan lewat media sosial, cek apakah konten dan narasi cocok. Jika ada lokasi, pastikan lokasinya tepat dan benar-benar ada. Kemudian, jangan ikut menyebarkan info yang provokatif.
“Untuk memerangi berita hoaks mari bijak bermedia sosial, saring sebelum sharing, verifikasi sebelum membagi. Sebab ajining diri ana ing lathi (kewibawaan diri ada pada lidah) dalam media sosial postingan yang kita sebarkan ibarat lidah yang sedang berbicara.” sambungnya.
Maka dengan adanya diskusi ini ditargetkan dapat membawa perubahan pola pikir kita semua, dapat menyadari dan dapat berpikir ulang dalam menanggapi sebuah berita. Budaya literasi harus lebih meraja agar tidak mudah terprovokasi oleh berita hoax.

Disisi lain, Nadia Ulfa Ketua IPPNU Kabupaten Tasik menyimpulkan FGD dengan tema ini membedakan berita hoaxs dan hak terlaksana dilatarbelakangi oleh keresahan kami PC IPPNU Kab. Tasikmalaya akan berita-berita hoaxs yang begitu pesat tersebar di dunia maya. Tidak sedikit akun fb ataupun no watsapp kaum pelajar menjadi bagian yang menyebarluaskannya. Sungguh membahayakan.
Nadia menilai faktor permasalahan tersebut diantaranya ialah kurangnya pengetahuan akan perbedaan ciri-ciri hingga sumbernya berita hoaxs dan hak (benar), dan sebagainya.
Oleh karena itu, kegiatan ini merupakan bagian ikhtiar kami untuk mewadahi diskusi daring para pelajar bersama narasumber kompeten Vina Finanda dari MAFINDO chapter Magelang. Agar menjadikan para pelajar sebagai kaum mayoritas yang berperan aktif menyebarluaskan hanya berita benar sebagai perlawanan berita hoaks dan tidak hanya itu. Out put dari kegiatan ini adalah berharap kaum pelajar berperan aktif menulis atau memposting berita atau informasi benar (haq) saja di dunia maya. Sehingga tercipta kedamaian bermedia sosial, ahirnya berita hoaxs atau speech hate pun mampu diminimalisir













