Ragam

Pesan Dirjen GTK

adminsigiku.com
×

Pesan Dirjen GTK

Sebarkan artikel ini

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Kepala SMA N 1 Parungpanjang)

Dirjen GTK Iwan Syahril memberikan ajakan pada guru disaat wabah Covid-19 masih belum usai. Ia mengajak para GTK agar memiliki mindset yang lebih baik. Mindset saat normal tidak sama dengan mindset saat abnormal karena wabah non alam sejenis Covid-19. Mental baru dalam kenormalan baru.

Diantara ajakan Sang Dirjen adalah, pertama kita harus punya mental “Nyaman Dalam Ketidaknyamanan”. Menurutnya, situasi pada saat ini sangat tidak nyaman. Ketika kita berdamai dengan ketidaknyamanan, maka ada mental positif dalam diri kita. Mental positif, optimis akan melahirkan respon positif.

Respon positif ini akan melahirkan inovasi dalam melakukan proses adaptasi ditengah ketidaknyamanan atau kesulitan. Ungkapan Aris Ahmad Jaya seorang motivator mengatakan pentingnya kita punya mental “Sulit Tapi Bisa”. Mental sulit tapi bisa adalah mental positif. Sehingga kita akan keluar dari kesulitan. Ujungnya selalu bisa?

Hindari mental “Bisa Tapi Sulit”. Mental ini akan merugikan. Ujungnya selalu menganggap sulit. Mental pesimis, layu dan loyo akan melahirkan kekalahan. Orang yang unggul lahir dari semangat kuat, harapan kuat dan tidak loyo. Melainkan bermental “ayo”. Ayo artinya bangkit dan bergerak merespon sejumlah tantangan dalam kehidupan.

Kembali pada Sang Dirjen Iwan Syahril. Ia mengatakan, “Arahan Pak Presiden Jokowi supaya kita melakukan budaya inovasi’. Inovasi memang sangat penting disaat kita menghadapi tantangan baru. Tantangan baru tidak bisa direspon dengan cara-cara lama. Termasuk di dunia pendidikan saat ini.

Ajakan kedua Sang Dirjen GTK adalah kuatkan mental mau. Mental mau ini dalam bahasa Wakil Gubernur Jawa Barat Uu Ruzhanul Ulum adalah kahayang. Mau atau kahayang adalah hal yang sangat penting dalam setiap diri manusia. Manusia harus punya mau. Dari kemauan yang kuat akan lahir ikhtiar yang dahsyat.

Sang Dirjen terutama mendorong kemauan yang tinggi dalam dimensi belajar. Sang Dirjen mengatakan, “…Mau untuk belajar. Mau ini harganya sangat mahal”. Orang yang bisa berkembang dan akan berkembang bagi Sang Dirjen adalah orang yang punya mau. Orang yang minus kemauan akan sulit bertumbuh lebih baik.

Selanjutnya Ia mengatakan, “Orang yang mau, walaupun enggak pintar-pintar amat, walaupun mungkin keterampilannya enggak hebat-hebat amat, tapi kalau dia mau untuk belajar, itu dahsyat. Itu semua tantangan, Insya Allah bisa dihadapi, selama ada kemauan.” Baginya orang yang punya kemauan kuat akan sanggup menaklukan tantangan.

Ajakan Sang Dirjen bermental “Nyaman Dalam Ketidaknyamanan” dan bermental “Mau” dapat kita terapkan. Khususnya para GTK. Ditengah kesulitan, kegagapan, keparnoan saat wabah Covid-19, kita harus berusaha nyaman, berdamai, berpikir positif agar adaptasi kita lebih cepat. Adaptasi dengan kehati-hatian dan tetap ber APD.

Dua pesan di atas dari Sang Dirjen GTK diharapkan dapat menjadi mentalitas para guru. Selain menguatkan pendekatan student centered dan penguatan penggunaan IT dalam PJJ. Guru sejatinya menjadi contoh aktor adaptor bagi anak didik dan publik. Guru digugu ditiru idelanya tidak hanya di ruang kelas bagi anak didiknya.

Guru punya tanggung jawab moral menjadi “Guru Publik” sebagai bagian dari pengabdian pada masyarakat. Secara pedagogik guru dapat menjadi mentor bagi anak didiknya, dan secara andragogik guru bisa menjadi sahabat bagi publik untuk mengajak berdapatasi. Plus mengajak bermental belajar dari ketidaknyamanan dan bermental mau yang tinggi.