Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Kepala SMAN1 Parungpanjang)
Guru besar dan mantan pejabat negara di Pendidikan Prof.Dr.Ibrahim Bafadal mengatakan, “Tidak ada siswa yang tidak bisa dididik, yang ada hanya guru yang tidak bisa mendidik. Tidak ada guru yang tidak bisa mendidik, yang ada hanya kepala sekolah yang tidak bisa memimpin”. Siswa, guru dan kepsek ternyata berkelindan kuat dalm sukses pendidikan.
Bila sukses anak didik karena gurunya dan gurunya karena kepala sekolahnya maka dapat dipastikan sukses pendidikan ada ditangan para kepala sekolah. Bukan ditangan para Menteri pendidikan. Anak didik sukses meraih pendidikan terkait “manajerial” para kepala sekolah. Kepala sekolah “melampaui” strategisnya Menteri pendidikan dalam dimensi praktis proses layanan pendidikan.
Mendikbud identik politisi, identik bagi-bagi kue kekuasaan pasca Pilpres. Bahkan Menteri Pendidikan dalam opini publik identik dengan “jatah” ormas tertentu. Kecuali Mendikbud Nadiem Makarim saat ini, bukan dari “jatah ormas”. Politik adalah jatah-jatahan dan sulit untuk merit atau zaken. Terlalu banyak kepentingan dan modus dalam tata negara serta pemerintahan.
Dimana pun di dunia ini kepentingan politik selalu lebih mengemuka dibanding kepentingan lainnya dalam internal pemerintahan. Akan lebih bahaya lagi adalah ketika Menteri Pendidikan politisi. Kadisdiknya pesanan partai dan para kepala sekolahnya pun kader partai. Rusak sudah dunia pendidikan kita. Semoga tidak demikian adanya saat ini.
Kembali ke laptop terkait kepala sekolah. Kepala sekolah faktanya sangat strategis dan menentukan giat geliat prestasi pendidikan di setiap satuan pendidikan. Bila setiap satuan pendidikan bergeliat prestatif, maka bagaikan “orkestra” pendidikan dari Sabang sampai Meraoke. Kepala sekolah adalah bagian penentu percepatan pencapaian tujuan pendidikan nasional.
Idealnya para kepala sekolah menjadi “perbincangan positif” para guru di setiap internal satuan pendidikan karena kepemimpinannya. Bila faktanya malah kepala sekolah diperbincangkan negatif sungguh disayangkan. Peer review yang rutin diakukan adalah diantara indikasi posisi kepala sekolah dimata para sejawat guru. Kepala sekolah pelayan guru. Guru pelayan anak didik. Jangan terbalik!
Idealitasnya para kepala sekolah berhamba pada para guru. Para guru berhamba pada anak didiknya. Anak didik “berhamba” pada kejayaan masa depan diri dan bangsanya. Namun diatas semua “siklus berhamba” pimpinan adalah penentu sirkulator geliat positif di setiap dimensi organisasi. Bagaimana komitemen guru terhadap organisasi, terhadap profesi dan terhadap masa depan anak didik terkait dengan arahan “Sang Ayah” dan “Sang Ibu” di satuan pendidikan yakni seorang kepala sekolah. Bukan Menteri pendidikan.
Seorang kepala sekolah lebih penting dari seorang Menteri Pendidikan dalam tataran mikro satuan pendidikan. Maka idealnya setiap Menteri Pendidikan wajib memfasilitasi semua aspirasi para kepala sekolah yang terkait dengan prestasi dan layanan pendidikan. Sukses Menteri Pendidikan terkait sukses raihan prestasi entitas kepala sekolah. Kepala sekolah hanya bisa sukses bila guru-gurunya mampu digerakan dengan efektif.













