Ragam

“Shalatlah” Di Luar Shalat

adminsigiku.com
×

“Shalatlah” Di Luar Shalat

Sebarkan artikel ini

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Penulis Buku Narasi Spiritual)

Shalat adalah mi’raj-nya seorang Muslim. Shalat merupakan cara seorang Muslim untuk berkomunikasi dengan Allah SWT. Karena itu, setiap melaksanakan shalat, seorang Muslim diperintahkan untuk senantiasa menyucikan diri, baik lahir maupun batin.

Shalat merupakan cara Muslim menghadap Allah, maka sudah sepantasnya bila dalam kegiatan shalat pikiran fokus hanya berkonsentrasi menghadap Allah. Shalat mencegah diri dari perbuatan keji dan mungkar, QS Al-Ankabut [29]: 45 (Republika.com). Shalat itu menguntungkan diri kita, sangat menguntungkan!

Shalat yang benar akan sangat menguntungkan diri kita. Mengapa? Karena akan tercegah dari perbuatan keji dan munkar. Beruntung sekali bila seseorang selalu terhindar dari tindak keji dan munkar. Tindak keji dan munkar itu adalah tindak Setanik.

Shalat yang baik harus terkoneksi dengan tindakkan kita. Bila shalat tidak berpengaruh pada tindakan keseharian kita maka shalatnya tidak efektif. Mungkin hanya gerakan olahraga saja. Manfaatnya hanya mirip senam saja. Shalat yang baik harus berdampak pada tindak pasca shalat.

Seorang guru tasyawuf mengatakan, “Shalatlah di luar shalat”. Ia menghendaki setiap orang yang shalat wajib memiliki mental shalat. Mental shalat itu selalu punya kiblat. Selalu bersuci. Selalu berjamaah. Selalu tertib. Selalu mengucap yang terbaik. Selalu taat imam. Selalu seirama dan kompak bergerak.

Jadi orang yang sukses shalatnya adalah orang yang membaik tindakannya pasca shalat. Orang yang sukses shalatnya bukan karena terlihat menggunakan baju gamis, sorban, sajadah dan tasbih di pergelangan tangannya. Shalat terbaik adalah ketika karakter kita lebih baik pasca shalat.

Bukankah seorang haji yang mabrur indikasinya adalah ketika pulang dari tanah suci apakah Ia makin “suci”, dermawan tindaknya, atau makin kikir dan keked mengkene? Bukankah orang yang puasanya diterima indikasinya adalah saat 11 bulan kemudian apakah Ia bermental “puasa” ? Pasca adalah indikasi efektifitas ibadah kita.

Bagaimana bisa orang yang rajin shalat, bolak-balik ke tanah suci dan rajin puasa tapi attitude tidak menyenangkan tetangga dan sejawat. Kok bisa? Jawabannya karena spirit shalat, haji dan puasanya tidak terinternalisasi dalam jiwa raganya. Padahal handphone saja kalau di cas pasti naik setrumnya. Kita?

Besi saja bila digosok-gosok dengan besi sembrani pasti akan bertambah energi sembraninya. Kita ? Sudah shalat, haji dan puasa masih saja tak mampu mengendalikan diri dari tindak yang tak elok. Judul “Shalatlah Di Luar Shalat” mengingatkan kita bahwa shalat itu bukan ritual semata melainkan aktualitaskan dalam tindak keseharian kita.

Ada ungkapan, “Shalat itu wajib dan sama wajibnya dengan berbuat baik pada sesama”. Hakekatnya Tuhan tidak butuh ritual ibadah kita. Tuhan tidak bergantung pada ketaatan ritual kita. Tuhan pun tidak diuntungkan dengan ritual kita. Kitalah yang sangat diuntungkan dan beruntung dengan ritual yang kita laksanakan.

Ibadah shalat wajib dilakukan lima kali sehari, yakni pada waktu Subuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya. Adapun, sholat tepat waktu memiliki keutamaan yang lebih baik. Shalat wajib lima kali dan diutamakan tepat waktu. Akhlak baik pasca shalat tidak ada kalinya, artinya berkali-kali lah lakukan akhlak terbaik. Setiap saat, setiap waktu.

Akhlak terpuji dalam ridha Ilahi itulah shalat di luar shalat. Nabi Muhammad diutus untuk memperbaiki akhlak manusia. Goalnya adalah akhlak. Shalat adalah media atau kanalisasi diri agar kita berhamba pada Tuhan dengan akhlak keseharian yang terpuji. Kualitas shalat bangsa kita bukan hanya kompak pada shalat Jum’at atau hajian melainkan bagaimana pascanya ?

Bangsa yang gandrung gosip, hoaxs, berpolitik identitas dan menghujat pemerintah tiada henti. Pemerintah selalu disalahkan namun kelompok atau kawan sekali pun salah selalu dibenarkan. Mental inikah yang lahir pasca ritual kita ? Siapa yang paling beragama adalah siapa yang akhlaknya terbaik.