Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Kepala SMAN1 Parungpanjang dan Ketua PB PGRI)
Setiap hari dan hampir setiap saat Saya bersama guru. Berbicara guru dan anak didik bukan hanya cerita dari orang lain yang tak dialami sendiri. Bila pejabat tak pernah jadi guru dan setiap hari tidak berjumpa dengan guru dan anak didik TK/SD/SMP/SMA/SMK/SLB hanya akan tahu dari info media, bukan dari internal faktual sekolahan.
Ungkapan “Ku tahu yang kumau” sama artinya dengan “Hanya guru yang lebih tahu tentang guru”. Termasuk tentang PJJ atau PTM yang dibutuhkan saat ini ? Selain guru yang tidak mengajar di satuan pendidikan akan sangat terbatas memahami kebatinan dan aspirasi guru terkait PJJ atau PTM.
Faktanya secara emosi anak didik dan guru sudah sangat rindu ingin ada PTM dan segera mengakhiri PJJ. Namun melihat dinamika zona Covid-19 beragam dan masih jauh dari melandai, membuat guru terjebak ke dalam simalakama. Gak nahan ingin mengajar namun korban Covid-1 masih berjatuhan.
Sebagai contoh di salah satu sekolah jenjang SMA di Jawa Barat ada beberapa guru meninggal karena wabah Covid-19. Plus sejumlah anak pun masih ada yang meningga karenannya. Saat ini “Sakralitas” SKB empat Menteri nampak tak punya kekuatan untuk dieksekusi dilapangan. SKB ini makin tak menguat.
Mengapa SKB makin tak menguat mengintervensi mulainya PTM di semester genap Januari tahun 2021? Diantaranya karena SKB sudah dua kali hadir dan gagal intervensi. Selanjutnya SKB pada dasarnya hanya membolehkan dan memberi kuasa pada pemerintah daerah. Pemerintah daerah pun tak kuasa mengintervensi orangtua.
Gojang ganjing kapan mulai PTM makin menguat. Tuntutan untuk tidak memulai PTM pun makin terus menguat. Sejumlah forum orangtua siswa menolak. Ini menjelaskan bahwa PTM sangat tak mungkin dilakukan saat semester genap tahun baru 2021. Perlu jalan keluar yang lebih baik. Lebih baik bagi siapa ? Terutama bagi anak didik.
Bila anak didik terlalu lama PJJ tentu sangat tak baik. Anak akan makin “teralienasi” dari dunia sekolahan. Akan ada konflik domestik antara anak dan orangtua. Perlu ada jalan keluar. Apa jalan keluarnya? Perlu ada jalan tengah. Anak didik harus terpenuhi hasrat bertemu teman sebaya dan belajar tatap muka.
Apa yang harus dilakukan ? Setidaknya “mengawinkan” PJJ dengan PTM, artinya PJJ murni bukan, PTM murni pun bukan. Harus ada new PJJ atau PTM era disruptif. Setidaknya setiap sekolah punya inovasi pembelajaran yang mengawinkan keduanya dengan melihat karakter, potensi sekolah dan zona Covid sekolah.
Silahkan yang punya inovasi melakukan terobosan cerdik. Bagaimana mengawinkan PJJ dengan PTM agar hadir sikon PJJ rasa PTM atau PTM berbasis PJJ. Sekolah menurut Dirjen GTK Iwan Syahril harus menjadi unit inovasi. Saatnya setiap warga sekolah melakukan inovasi pembelajaran di era ketidakpastian.
Apa pun adalah tantangan. Tantangan adalah jalan menaikan derajat keinovasian manusia. Peradaban manusia naik menjadi lebih maju karena tantangan dan hambatan yang menghadang. Faktanya manusia selalu menjadi pemenang. Mengapa ? Karena Tuhan memang menciptakan manusia sebagai makhluk terbaik. Sementara corona adalah makhluk virus terburuk. Manusia pasti menang lawan corona !













