Pewarta : Arief
Kota Sukabumi – Kendati berbagai upaya menekan penyebaran Covid-19 terus digenjot pemerintah, namun kasus warga yang terinfeksi Covid-19 masih terus bertambah, bahkan terjadi lonjakan yang sangat significan pasca libur lebaran yang lalu.
Hal ini disebabkan salah satunya oleh tingkat kesadaran masyarakat dalam mematuhi dan menerapkan protokol kesehatan seperti, memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak dan membatasi mobilitas yang terbilang masih rendah.
Selain itu ada peran asfek norma sosial dalam pelanggaran protokol kesehatan yang terjadi, misalnya saja merasa tidak enak ketika menjaga jarak dengan orang lain, terutama dari orang – orang yang selama ini menjadi komunitasnya, atau berpikir bahwa orang lain juga tidak melakukannya.
Lebih parah lagi tak sedikit orang yang merasa kebal terhadap virus ini, setelah menjalani vaksinasi, padahal meskipun sudah di vaksinasi, kita tetap dianjurkan untuk tidak abai dengan protokol kesehatan.
Disisi lain, ada rasa sungkan atau tidak enak hati dari seseorang untuk sekedar menegur atau mengingatkan ketika mendapati orang yang tidak memakai masker atau menjaga jarak saat berada diluar rumah.
Seperti diungkapkan Aldie, salah satu karyawan swasta yang mengaku prihatin bahkan geram melihat orang disekitarnya yang seolah acuh tak acuh dengan kondisi yang terjadi saat ini.
Dia mencontohkan, dalam pelaksanaan ibadah Sholat Jum’at didaerahnya, dia mendapati kenyataan bahwa ternyata hanya segelintir orang yang menggunakan masker, bukan hanya jemaah namun imam pun kadang tidak menggunakannya, kalaupun ada yang memakai masker hanya digantung didagu, padahal jarak antara jemaah yang satu dengan yang lain sangat dekat, kalau boleh dibilang tak berjarak.
Tidak hanya itu, ia juga mengaku kerapkali mendapati orangtua yang membawa anaknya naik kendaraan umum tanpa menggunakan masker dengan tidak menampakan raut wajah khawatir akan terpapar Virus Corona.
Sempat terbersit dalam hatinya untuk menegur atau sekedar mengingatkan, namun dia mengaku ada rasa tidak enak hati untuk melakukannya.
“Kadang saya merasa geram, mendapati orang yang gak pakai masker ditempat umum, padahal saya yakin mereka tahu kondisi penyebaran Covid-19 saat ini, baik lewat pemberitaan di televisi maupun media sosial, sempat terpikir untuk menegur, tapi takutnya mereka salah tanggap dan tersinggung,” ujarnya.
Menurutnya, orang akan patuh ketika yang menegur adalah petugas terkait, “Kalau yang menegurnya petugas apalagi diancam akan diberi sanksi pasti mereka nurut walau cuma untuk saat itu, tapi kalau yang menegur masyarakat biasa seperti saya, mungkin mereka akan berfikir ‘siapa lu berani negur gue,” katanya.
Dikutip dari Kompas.com yang diterbitkan beberapa waktu lalu, yang harus silakukan saat kita mendapati pelanggaran protokol kesehatan ditempat umum, Dosen dan Psikolog di Fakultas Psikologi UGM Sutarimah Ampuni menyarankan untuk bersikap asertif, yaitu berani mempertahankan atau menyuarakan haknya, namun dengan cara yang baik dan meminimalkan konflik dengan lingkungan.
“Ditempat umum orang-orang tidak saling mengenal, maka cara untuk asertif tidak selalu dengan menegur, karena mungkin akan menimbulkan konflik,” katanya.
Menurutnya, cara asertif yang bisa dilakukan adalah dengan memberi contoh melalui sikap kita, seperti menjaga jarak dengan orang lain, “Dalam beradaptasi, manusia bisa melakukannya dengan mengubah lingkungan atau mengubah diri, kalau tidak mungkin atau tidak bisa mengubah lingkungan, maka yang dapat dilakukan adalah mengubah diri,” terangnya.
Mengubah diri yang dimaksud, lanjutnya, bisa dilakukan dengan menghindari atau mengambil jarak atau menyediakan masker cadangan, sehingga bisa diberikan pada orang lain yang tidak memakai masker.













